Ilustrasi.(Magnific)
DUA raksasa utama dalam perlombaan kepintaran buatan (AI), OpenAI dan Anthropic, secara resmi memberikan support terhadap petisi nan meminta pemerintah Amerika Serikat untuk mengintervensi dan memperlambat pengembangan teknologi AI jika kemajuannya dianggap terlalu sigap dan berisiko.
Petisi nan dirilis pada Selasa (28/7) waktu setempat ini ditandatangani oleh ratusan tenaga kerja dari kedua perusahaan tersebut serta melibatkan staf dari Google, Meta, dan pemimpin industri teknologi lain. Langkah ini menandai momen langka saat perusahaan-perusahaan nan bersaing ketat sepakat mengenai perlu pengawasan eksternal nan lebih ketat.
Risiko Otomatisasi Riset AI
Surat terbuka tersebut memperingatkan bahwa industri saat ini sudah sangat dekat dengan tahap otomatisasi riset AI. Perkembangan ini dikhawatirkan dapat membikin teknologi berkembang secara eksponensial di luar kendali manusia.
"Kami meminta pemerintah AS untuk mendukung upaya internasional dalam mengembangkan perangkat teknis dan tata kelola nan diperlukan untuk mengatur kecepatan pengembangan AI garis depan secara sengaja," bunyi petisi tersebut.
Upaya koordinasi internasional untuk membatasi pengembangan AI dianggap sebagai tugas diplomatik nan sangat besar. Beberapa mahir menyamakannya dengan penerapan perjanjian pengendalian senjata nuklir, tetapi dalam corak perangkat lunak nan dapat didistribusikan secara bebas melalui internet.
Dukungan Korporasi dan Perdebatan Industri
Meskipun CEO OpenAI, Sam Altman, tidak menandatangani petisi tersebut secara pribadi, dia menyatakan dalam satu siniar bahwa mengatur kecepatan pengembangan AI mungkin memang diperlukan. OpenAI menargetkan pembangunan peneliti AI otomatis pada awal 2028.
Namun, tidak semua pihak di Silicon Valley setuju dengan perlambatan ini. Banyak pihak beranggapan bahwa teknologi AI kudu terus dikejar secara garang untuk menemukan obat penyakit baru, mendorong inovasi, dan menjaga kelebihan militer AS dalam persaingan geopolitik dengan Tiongkok.
Catatan Penting: Petisi ini berbeda dari seruan sebelumnya lantaran mendapatkan support resmi dari entitas korporasi dan pelaksana senior, bukan sekadar peneliti individu. Hal ini menunjukkan pergeseran paradigma ialah para developer AI mulai mengkhawatirkan keahlian model terbaru nan sekarang mulai bisa melakukan peretasan sistem komputer secara mandiri.
Andrew Yoon dari CivAI mencatat bahwa keterlibatan nama-nama besar dalam daftar ini menunjukkan bahwa laboratorium AI dan staf mereka sekarang secara definitif mulai membicarakan tata kelola internasional sebagai kebutuhan mendesak sebelum model AI mencapai titik ketika mereka tidak dapat lagi dikendalikan dengan aman. (The Washington Post/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·