Houthi.(Al Jazeera)
DIMULAI kembali serangan pemberontak Houthi nan didukung Iran terhadap Arab Saudi menempatkan Pakistan dalam posisi nan semakin sulit. Bagi Islamabad, eskalasi ini bukan sekadar gejolak biasa di Timur Tengah, melainkan ancaman nan dapat menyeret mereka ke dalam bentrok nan telah coba dihindari selama berbulan-bulan.
Pakistan bukan sekadar pengamat dalam dinamika ini. Sebagai salah satu mitra keamanan terdekat Arab Saudi sekaligus mediator antara Amerika Serikat dan Iran, Islamabad sekarang memandang kedua peran tersebut mulai berbenturan.
Selama beberapa bulan terakhir, Pakistan secara diam-diam memosisikan diri sebagai jembatan diplomatik di kawasan. Islamabad membantu memfasilitasi pemahaman antara Washington dan Teheran serta terus mendorong dialog. Namun, Pakistan juga terikat perjanjian pertahanan dengan Arab Saudi nan ditandatangani tahun lalu.
Mengapa Ancaman Houthi Lebih Mengkhawatirkan?
Pejabat Pakistan dilaporkan lebih mengkhawatirkan serangan Houthi dibandingkan serangan rudal langsung dari Iran sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh letak penempatan pasukan Pakistan nan berada di dekat perbatasan selatan Arab Saudi, berdekatan dengan Yaman.
Analis keamanan Pakistan, Muhammad Amir Rana, mencatat bahwa Islamabad tidak mengantisipasi ketegangan bakal meningkat begitu cepat. Jika Houthi memperluas radius serangan mereka, keterlibatan militer Pakistan mungkin tidak lagi bisa dihindari.
Pemicu Pekan Ini: Serangan rudal Houthi ke Arab Saudi awal pekan ini memutus gencatan senjata selama empat tahun. Houthi mengeklaim serangan itu sebagai balasan atas tuduhan pengeboman airport oleh Riyadh di Yaman.
Dampak Ekonomi dan Jalur Perdagangan
Selain aspek militer, Pakistan mencemaskan akibat bentrok terhadap perdagangan global. Jika Houthi mulai menargetkan kapal-kapal di Laut Merah, jalur pengiriman vital bagi impor bahan bakar Pakistan bakal terancam.
Pakistan sangat berjuntai pada pasokan daya dari Teluk. Gangguan di Selat Hormuz maupun Laut Merah bakal memberikan tekanan berat pada ekonomi domestik nan sudah rapuh.
Menjaga Keseimbangan dengan Iran
Di kembali layar, Islamabad juga mengawasi dinamika internal Iran. Ada kekhawatiran mengenai meningkatnya pengaruh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dibandingkan pemimpin sipil dalam pengambilan keputusan di Teheran. Ketidakpastian ini membikin langkah Iran semakin susah diprediksi.
Meski demikian, upaya diplomasi tetap berjalan. Delegasi Iran nan dipimpin Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni tiba di Islamabad pekan ini untuk membahas keamanan regional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, terus menyerukan agar semua pihak menahan diri secara maksimal.
Berjalan di Atas Tali Tipis
Pakistan saat ini sedang melakukan upaya penyeimbangan nan rumit. Di satu sisi, mereka mau mempertahankan perbincangan dengan Iran. Di sisi lain, mereka kudu menghormati komitmen keamanan terhadap Arab Saudi.
"Sangat menguntungkan bagi semua pihak jika perang ini berakhir. Namun, jika Arab Saudi memanggil kami, kami bakal berdiri berbareng mereka dan tidak ada keraguan tentang itu," tegas seorang pejabat Pakistan. Pernyataan ini merangkum dilema Islamabad: tetap berambisi pada diplomasi, tetapi siap bertindak jika aliansi strategis mereka terancam. (India Today/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·