Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Ahmad Yani memastikan sumber daya panas bumi di Indonesia tetap memperkuat meski sudah berumur 100 tahun. Menurutnya, seperti banyak negara, Indonesia juga mengembangkan sumber daya daya nan ada di dalam negeri dalam rangka penanggulangan krisis daya lantaran ketidakpastian global.
"Indonesia kaya bakal geothermal dan 40% potensi geothermal bumi ada di Indonesia, serta 84% ada di Asean. Nah, inilah opportunity untuk kita mengenai dengan gimana peran strategis geothermal, daya nan kita miliki sendiri, sangat besar 24 gigawatt," jelas Ahmad Yani dalam Energy Corner, Squawk Box, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, daya panas bumi mempunyai potensi besar untuk dikembangkan dan mendukung pemerintah untuk merealisasikan transisi daya dan kemandirian energi. Ahmad Yani memastikan PGEO akan mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi agar memberikan nilai tambah.
"Dari 24 gigawatt nan ada, saat ini itu baru 11% nan termanfaatkan. Nah, inilah menjadi PR kita berbareng dalam pertemuan IIGCE ini juga merupakan kita obrolan berbareng investor, pemangku kepentingan, IPP, dan pemerintah sama-sama mencari jalan keluar ini. Bagaimana daya nan besar ini bisa tumbuh berkembang di Indonesia," tegas dia.
Dia merinci salah satu upaya nan bisa dilakukan PGEO adalah menciptakan suasana upaya dari panas bumi itu bisa menjadi feasible dan bankable. Oleh lantaran itu, pihaknya terus berbincang dengan pemerintah. Sedangkan untuk sumber panas bumi, dia memastikan tidak ada masalah dan tetap sangat realistis.
Untuk diketahui, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta pelaku upaya panas bumi mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Terlebih, pemerintah sudah menargetkan tambahan kapabilitas 5,2 Giga Watt (GW) PLTP pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Bahlil, mengatakan percepatan ini hanya bisa dilakukan dengan kerjasama antara pelaku upaya dan pemerintah. Dia menjelaskan, saat dirinya baru menjabat sebagai Menteri ESDM, dirinya langsung membikin terobosan untuk mempercepat pengembangan panas bumi di Tanah Air, melalui pemangkasan patokan nan panjang. Tapi setelah itu dilakukan, pengembangan panas bumi juga tetap lambat.
"Sejak saya dilantik jadi Menteri ESDM, saya cek apa sih nan membikin lambat, lantaran saya dulu pengusaha juga. Saya dulu sebelum masuk di pemerintah, saya pengusaha. Dan setelah saya masuk pemerintah, saya jadi Menteri Investasi. Pengusaha itu kan mau cepat, tapi jika aturannya berbelit-belit, lambat, ya mau gimana? Maka nan pertama saya lakukan adalah memangkas tahapan peraturan nan panjang lebar itu. Dan sekarang rupanya setelah saya evaluasi, tetap banyak juga hambatan-hambatan terhadap aturan-aturan itu," jelas Bahlil.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·