ARTICLE AD BOX
MI/Seno(Dok. Pribadi)
BAHTERA pendidikan kita sedang meramban jalan terjal. Lebih dari dua dekade, tunas-tunas muda bangsa memikul ‘ransel berat’ dalam menguasai literasi, numerasi, dan sains sehingga belum bisa melompat tinggi di panggung PISA. Nilai PISA Indonesia tercatat sebesar 359 untuk keahlian membaca, 366 untuk matematika, dan 383 untuk sains. Angka tersebut menempatkan Indonesia di ranking ketiga dari bawah di area ASEAN. Jauh tertinggal dari rata-rata standar negara-negara OECD.
Lebih miris lagi, Bank Dunia memperingatkan, jika tidak melakukan perubahan besar nan radikal, Indonesia memerlukan waktu 200 tahun untuk membikin pendidikan sesuai standar OECD. Tantangannya jelas, perbaikan nan berkarakter inkremental tidak lagi memadai. Pendidikan Indonesia memerlukan sebuah lompatan.
Urgensi perubahan inilah nan melatarbelakangi arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Lewat program digitalisasi pendidikan nan diusung, pemerintah konsentrasi meletakan fondasi baru melalui pengadaan unit Papan Interaktif Digital (PID) di beragam sekolah. Pada 2025, program ini telah menjangkau 288.865 satuan pendidikan.
Langkah strategis ini tentu saja bukan sekadar pembelian gawai digital, melainkan sebuah investasi jangka panjang membangun prasarana pembelajaran abad ke-21. Pertanyaan kritisnya, apakah kehadiran ribuan PID ini otomatis bakal mendongkrak nilai PISA kita?
MANTRA TEKNOLOGI
Sejak dulu, bumi pendidikan selalu menyambut kehadiran penemuan teknologi dengan ekspektasi tinggi. Mulai dari papan tulis hitam (blackboard), radio, komputer, internet, proyektor digital, hingga tablet, semuanya selalu menjanjikan terobosan besar. Kenyataannya, perubahan tersebut tak pernah secara otomatis mendongkrak mutu pendidikan. Sebagiannya malah sempat melahirkan polemik.
Sebelum abad ke-19, metode pendidikan sangat bertumpu pada keahlian mendengarkan, menghafal, dan melafalkan kembali materi secara lisan (recitation method). Banyak pengajar konservatif menilai penggunaan blackboard membikin siswa menjadi malas mengasah ingatan. Namun, sejarah lantas mencatat, papan tulis rupanya tidak melemahkan keahlian berpikir, tetapi mengubah langkah siswa belajar. Informasi tidak lagi hanya didengar, tapi juga dapat dilihat, didiskusikan, dan dipahami bersama. Sejak saat itu, papan tulis menjadi simbol lahirnya pembelajaran modern.
Nasib berbeda dialami radio pendidikan. Ketika mulai diperkenalkan pada awal abad ke-20, radio digadang-gadang bakal merevolusi sekolah. Harapan itu tidak sepenuhnya terwujud. Sifatnya nan satu arah membikin radio susah membangun interaksi, diskusi, maupun umpan kembali nan menjadi inti proses belajar. Radio memang sempat menjadi penyelamat ketika pandemi polio menutup sekolah-sekolah di Chicago pada 1937. Akan tetapi, setelah krisis berlalu, dia tidak pernah mejadi medium utama pembelajaran. Radio sukses memperluas akses, tetapi kandas mentransformasi pendidikan.
Teknologi memang dapat mengubah ruang kelas, tetapi belum tentu mengubah langkah belajar. Pakar pendidikan berkebangsaan Selandia Baru, John Hattie, dalam bukunya, Visible Learning: A Synthesis of Over 800 Meta-Analyses Relating to Achievement (2008), memperkuat kebenaran tersebut. Berdasarkan sintesis ribuan penelitian pendidikan, Hattie menunjukkan bahwa teknologi bukan aspek nan paling menentukan keberhasilan belajar. Dampaknya menjadi signifikan, kata Hattie, ketika dipadukan dengan pedagogi nan tepat, tujuan belajar nan jelas, umpan kembali berkualitas, dan hubungan nan kuat antara pembimbing dan siswa (hlm 221).
Dengan kata lain, perangkat hanyalah infrastruktur; kualitas pembelajaran tetap ditentukan oleh gimana perangkat itu digunakan. Jalan raya nan mulus tidak otomatis mempercepat perjalanan jika kendaraan tidak bergerak ke arah nan benar. Begitu pula pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, dia baru berarti ketika bisa menggerakkan proses belajar, bukan sekadar mempercantik ruang kelas.
Pandangan Hattie tampaknya sejalan dengan apa nan tengah didorong Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti lewat Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Sebagai paradigma baru pendidikan Indonesia, Deep Learning tidak lagi berpusat pada penyampaian materi, tetapi pada proses belajar nan berarti (meaningful), sadar (mindful), dan menyenangkan (joyful). Fokusnya bukan hanya membikin siswa tahu lebih banyak, melainkan membantu mereka berpikir lebih kritis, memecahkan persoalan, berkolaborasi, dan menghasilkan pendapat baru.
PENGUNGKIT PEDAGOGI
Namun, di sinilah tantangan implementasinya. Pembelajaran Mendalam menuntut pengalaman belajar nan kaya; simulasi, eksperimen, diskusi, pembelajaran berbasis proyek, asesmen adaptif, hingga umpan kembali nan cepat. Semua itu memerlukan waktu, kreativitas, dan kapabilitas pembimbing nan besar.
Di tengah beban administrasi, keterbatasan sumber belajar, serta keragaman keahlian murid, menghadirkan pengalaman belajar seperti itu bukan pekerjaan mudah. Guru dituntut bisa merancang pembelajaran nan bermakna, interaktif, dan menantang daya kritis, sementara waktu nan tersedia sering kali tersita pekerjaan administratif.
Tantangan tersebut tidak kudu dijawab dengan menambah beban guru. Justru pada titik inilah kepintaran artifisial (artificial intelligence alias AI) dapat memainkan peran strategisnya. AI bisa menjadi kompas penunjuk jalan nan membuka peta menuju kedalaman pemahaman murid. Ketika dipadukan dengan PID, AI mengubah perangkat tersebut dari sekadar media presentasi menjadi ruang interaksi. AI memungkinkan pembimbing merancang beragam model pembelajaran nan sebelumnya susah diwujudkan di ruang kelas konvensional. Mulai dari simulasi visual, laboratorium digital, kuis interaktif, komparasi antarkelompok, pembelajaran berbasis proyek, peta konsep dinamis, investigasi berbasis data, hingga galeri karya digital.
Akan tetapi, secanggih apa pun teknologi, dia tetaplah sebatas instrumen. Nilai sejatinya baru muncul ketika berada di tangan pendidik. Di titik ini, pendidikan menemukan maknanya: ketika pembimbing menyalakan rasa mau tahu (curiosity), mengasah logika kritis (critical thinking), dan menumbuhkan produktivitas (creativity) siswa lewat pembelajaran nan mendalam. Sebab, dalam setiap lompatan kemajuan, teknologi hanyalah enabler. Adapun penggerak perubahan sesungguhnya tetap pembimbing (the true agent of change).
Di seberang samudra sana, sirine serupa ditiupkan oleh Ying Xu dari Harvard Graduate School of Education. Lewat risetnya soal riuh rendah teknologi di ruang kelas (2025), dia mengingatkan bahwa selama ini kita terlalu sibuk memasukan AI ke sekolah. Padahal, prinsip utamanya ialah: kualitas manusia seperti apa nan mau kita bentuk? Teknologi, secanggih apa pun wujudnya, kudu tunduk menjadi pelayan bagi tujuan pembelajaran, bukan mendiktenya sebagai panglima.
Dengan demikian, AI tidak sekadar membantu pembimbing membikin media pembelajaran, tetapi memperluas produktivitas pedagoginya. nan berubah bukan lagi hanya perangkat nan digunakan, melainkan langkah pembimbing menghadirkan pembelajaran mendalam di ruang kelas.
Lebih dari itu, AI kudu bisa membuka ruang lebih luas bagi pembimbing untuk mengeksplorasi produktivitas pedagogis, merancang pengalaman belajar nan lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna. Pergeseran nan terjadi bukan semata pada teknologi nan digunakan, melainkan pada langkah pembimbing merancang, memfasilitasi, dan menghidupkan proses pembelajaran di ruang kelas.
Pendekatan ini sekaligus menjawab peringatan OECD dalam Digital Education Outlook 2026 bahwa keberhasilan menyelesaikan tugas menggunakan AI tidak otomatis berfaedah seseorang telah belajar. Risiko false mastery muncul ketika AI hanya dipakai untuk menghasilkan jawaban instan.
Karena itu, AI kudu diarahkan bukan sebagai mesin pencari jawaban, melainkan sebagai penyedia proses berpikir. Dalam konteks inilah PID menjadi lebih dari sekadar layar digital. Ia berubah menjadi ruang kerjasama nan memungkinkan pembimbing membangkitkan roh pembelajaran mendalam.
Jika dirangkai dalam satu alur, arah transformasi pendidikan Indonesia sesungguhnya menjadi jelas. PISA menunjukkan kompetensi nan mau dicapai. Pembelajaran Mendalam menawarkan pendekatan untuk mencapainya. AI mempercepat penerapan pendekatan tersebut. Sementara PID berfaedah sebagai learning hub nan menyediakan ruang agar seluruh proses itu dapat berjalan secara interaktif di setiap ruang kelas.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan penyediaan unit PID bukanlah berapa banyak perangkat nan terpasang di sekolah, melainkan berapa banyak ruang kelas nan sukses berubah menjadi ruang berpikir. Sebab, lompatan pendidikan tidak lahir ketika kapur diganti layar, tetapi ketika teknologi bisa memperkuat guru, menghidupkan pembelajaran, dan menumbuhkan logika murid.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·