PBB: 8 Juta Anak Sudan Putus Sekolah akibat Perang Saudara

1 jam yang lalu 5
 8 Juta Anak Sudan Putus Sekolah akibat Perang Saudara Anak Sudan.(Al Jazeera)

PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras mengenai masa depan generasi muda di Sudan. Lebih dari 8 juta anak usia sekolah di negara tersebut sekarang tidak dapat mengenyam pendidikan akibat perang kerabat nan terus berkecamuk selama lebih dari tiga tahun.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Amina Mohammed, menyampaikan peringatan tersebut pada sesi informal Dewan Keamanan PBB mengenai perlindungan pendidikan di Sudan, Jumat (7/8). Saat ini, bentrok bersenjata di Sudan telah memasuki hari ke-1.210.

"Di antara semua perihal nan dirampas oleh perang ini, salah satu nan paling signifikan adalah masa depan Sudan--dengan merampas pendidikan anak-anaknya," ujar Mohammed. Ia memperingatkan bahwa bentrok ini sedang menghancurkan masa depan seluruh generasi.

Kerusakan Infrastruktur Pendidikan

Data PBB menunjukkan akibat nan sangat parah di wilayah Darfur. Hampir tiga perempat sekolah di wilayah tersebut rusak, hancur, alias tidak dapat digunakan lagi sejak pertempuran pecah pada April 2023.

Kondisi keamanan nan jelek membikin para orangtua enggan melepas anak-anak mereka. "Lima dari setiap enam anak putus sekolah. Orangtua bakal memberi tahu Anda bahwa mereka lebih suka membiarkan anak-anak tetap di rumah daripada mengirim mereka ke kelas, lantaran rumah adalah satu-satunya tempat tersisa bagi mereka merasa bisa menjaga keamanan anak-anak," tambah Mohammed.

Sejak tahun 2024, PBB telah mendokumentasikan lebih dari 67 serangan terhadap sekolah dan lebih dari 154 kasus sekolah nan dialihfungsikan untuk kepentingan militer. Mohammed mencatat bahwa angka-angka ini kemungkinan besar jauh di bawah jumlah sebenarnya di lapangan.

Krisis Guru dan Tenaga Pendidik

Selain kerusakan bentuk bangunan, sektor pendidikan Sudan juga dihantam krisis kesejahteraan tenaga pengajar. Lebih dari separuh pembimbing di Sudan dilaporkan tidak menerima gaji, meskipun banyak dari mereka tetap berupaya mengajar di tengah segala keterbatasan.

"Sudan telah kehilangan satu generasi akibat perang-perang sebelumnya dan sekarang mereka kehilangan satu generasi lagi," kata Mohammed. Ia menekankan bahwa beban bentrok ini jatuh secara tidak proporsional pada wanita dan anak-anak nan tidak mempunyai andil dalam perang tetapi menderita paling parah.

Meskipun PBB dan mitranya sukses membawa kembali lebih dari satu juta anak Sudan ke dalam beragam corak pembelajaran tahun ini, jumlah tersebut tetap jauh dari total kebutuhan nan ada.

Bencana Hak Asasi Manusia

Konflik nan melibatkan tentara Sudan dan golongan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) ini memicu krisis kemanusiaan skala besar. UNICEF melaporkan sekitar 15 juta orang telah mengungsi, dengan nyaris 33 juta orang--lebih dari separuhnya adalah anak-anak--sangat memerlukan support kemanusiaan.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, nan mengunjungi Sudan awal tahun ini, menggambarkan situasi tersebut sebagai musibah kewenangan asasi manusia nan terjadi secara real-time. Ia menyoroti laporan mengenai pembunuhan massal dan kekerasan seksual nan terus terjadi selama bentrok berlangsung. (Al Jazeera/I-2)

Selengkapnya