Pedagang Beras Cipinang Minta Pemerintah-Bulog Tak Jual Beras Premium

4 hari yang lalu 10

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana Perum Bulog menjual Beras Kita dalam jenis premium dan medium untuk membantu menstabilkan nilai beras di tingkat konsumen menuai keberatan dari pedagang.

Menurut Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (KOPIC) Dedy, langkah tersebut justru berpotensi mematikan upaya produsen dan pemasok beras swasta, lantaran pemerintah mempunyai kelebihan memperoleh gabah dengan nilai lebih murah dibanding pelaku usaha.

Ia menilai mahalnya nilai beras premium saat ini bukan disebabkan pedagang mengambil untung berlebihan, melainkan lantaran produsen kesulitan memenuhi ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) di tengah mahalnya nilai beli gabah.

"Sepengetahuan saya Bulog mau memproduksi beras SPHP nan premium, mungkin ini akibat dari kekosongan beras premium di tingkat ritel. Karena Banyak Produsen Beras tidak bisa lagi menjual di tingkat ritel nan harganya dipatok Rp14.900 per kg. Jelas ini sangat berdasar lantaran mereka mendapatkan bahan dasarnya (gabah) mahal," kata Dedy kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/7/2026).

Dedy mengatakan, kondisi tersebut berbeda dengan Bulog nan dapat menyerap gabah sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kg. Akibatnya, biaya produksi Bulog dinilai jauh lebih rendah dibanding produsen swasta.

"Berbeda dengan pemerintah nan bisa membeli gabah dengan nilai sesuai HPP nan ditetapkannya. Maka Produsen beras nan biasanya mengisi beras premium tidak bisa lagi untuk menjualnya sesuai dengan HET nan ditetapkan pemerintah," ujarnya.

"Makanya banyak produsen beras nan berkapital besar, nan beranjak memproduksi beras khusus, lantaran tidak ada batas nilai sehingga bisa mendapatkan margin nan menguntungkan," sambung dia.

Menurut Dedy, akar persoalan semestinya diselesaikan dengan mengevaluasi HET beras premium maupun medium agar mencerminkan kondisi biaya produksi saat ini, bukan dengan membikin pemerintah ikut bermain di segmen beras premium.

"Semestinya menurut pendapat saya, pemerintah sebaiknya segera mengevaluasi kembali HET baik di tingkat medium ataupun premium sehingga tercipta keseimbangan penjualan dari hulu sampai hilir. Bagaimanapun ini menjadi problem bagi kami sebagai pedagang di tingkat distributor," kata Dedy.

Ia apalagi mengaku cemas andaikan Bulog betul-betul menjual beras premium, pelaku upaya swasta bakal semakin terdesak lantaran kudu bersaing langsung dengan pemerintah.

"Kami meletakkan angan besar kepada pemerintah, dan jika boleh usul sebaiknya pemerintah cukup menyediakan beras di tingkat medium saja, pemerintah tidak perlu memproduksi beras premium. Kalau ini betul-betul dilaksanakan, saya mempunyai kekhawatiran sebagian produsen beras dan apalagi pedagang, usahanya bakal terhenti," ucap dia.

"Kebijakan seperti itu seolah-olah kami sebagai pedagang terpinggirkan. Bahkan kami seperti mempunyai pesaing baru di tingkat produsen. Keadaan pasar sendiri sudah cukup mengkhawatirkan lantaran seringnya sunyi pembeli," lanjutnya.

Dedy berambisi pemerintah tetap membantu menjaga keterjangkauan nilai beras, namun dilakukan melalui penyediaan stok beras medium nan dapat dijual kembali oleh pedagang kepada masyarakat.

"Saya memohon kepada pemerintah agar keadaan ini untuk menjadi perhatian, lantaran sampai dengan saat ini suplai dari wilayah nilai tetap cukup tinggi, kami sebenarnya mengharapkan dan meletakkan angan besar kepada pemerintah, agar pemerintah pun mau menyediakan beras untuk kami jual kembali kepada konsumen dengan nilai nan murah dan terjangkau," ujar Dedy.

Sebelumnya, Bulog berencana meluncurkan produk baru berjulukan Beras Kita nan bakal dipasarkan dalam jenis premium dan medium. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, rencana itu sudah dilaporkan kepada Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman.

"Jadi tadi pagi kami juga sudah lapor ke Pak Mentan (Amran) rencana produk baru dari Bulog, ialah Beras Kita Premium dan Beras Kita Medium," kata Rizal saat ditemui di instansi Kementan, Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Bulog menargetkan produksi Beras Kita mencapai sekitar 2 juta ton. Volume itu diharapkan bisa direalisasikan tahun ini hingga paling lambat pertengahan tahun depan, setelah mendapat restu dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) berbareng Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Saat ditanya apakah nama SPHP resmi bakal diganti menjadi Beras Kita, Rizal mengatakan identitas SPHP tetap ada, namun hanya ditampilkan dalam ukuran mini di kemasan. Sementara nama merek utama nan bakal ditonjolkan adalah Beras Kita.

Soal nilai jual, Rizal mengatakan Bulog tetap menunggu pembahasan lebih lanjut di tingkat pemerintah. Konsep nilai bakal dibahas terlebih dulu di Kemenko Pangan sebelum diputuskan lewat Rakortas.

"Untuk nilai kelak kita sesuaikan. Nanti konsep ini bakal dirapatkan dulu di Kemenko Pangan, kelak nunggu persetujuan dari hasil Rakortas, namun pada prinsipnya dari Pak Mentan sudah disetujui 2 juta ton," sebut dia.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya