Pemerintah Dorong Penyintas Bencana Aceh Bangkit dan Beraktivitas Ekonomi

5 jam yang lalu 5
Pemerintah Dorong Penyintas Bencana Aceh Bangkit dan Beraktivitas Ekonomi Ketua Satgas PRR Aceh Safrizal(Antara)

Pemerintah terus mendorong para penyintas musibah di Aceh untuk segera bangkit secara ekonomi sembari menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Dukungan tersebut diwujudkan melalui support stimulan upaya mikro nan diharapkan bisa menjadi modal awal bagi masyarakat untuk memulai kembali aktivitas ekonomi.

Ketua Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, mengatakan pemulihan pascabencana tidak hanya berjuntai pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada keahlian masyarakat untuk kembali berdikari secara ekonomi.

Menurutnya, pemerintah telah menyalurkan support stimulan kepada penyintas nan rumahnya mengalami kerusakan ringan, sedang, hingga rusak berat alias hilang. Setiap kepala family nan memenuhi persyaratan menerima support modal upaya sebesar Rp5 juta dalam corak duit tunai.

"Pemerintah memberikan support melalui support modal upaya bagi penyintas nan memenuhi syarat. Dana tersebut telah disalurkan sebagai stimulan ekonomi agar masyarakat dapat kembali menjalankan usaha," ujar Safrizal.

Ia juga mengapresiasi semangat para penyintas nan mulai membangun kembali sumber penghidupan, termasuk Mayasari, penduduk Aceh Tamiang nan memilih merintis upaya mini di area kediaman sementara (huntara).

Safrizal berpesan agar pelaku upaya tetap memperhatikan kualitas produk nan dijual serta memberikan perlindungan kepada anak-anak sebagai konsumen. Ia mengingatkan agar tidak menjual produk nan tidak layak dikonsumsi anak, termasuk rokok.

"Jaga kualitas minuman nan dijual dan jangan menjual rokok kepada anak-anak. Dengan begitu upaya nan dijalankan bakal terus membawa faedah dan keberkahan," pesannya.

Bangkit dari Huntara Lewat Usaha Minuman

Mayasari (36), penduduk Perumahan BTN Satelit Graha, Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, menjadi salah satu penyintas nan memilih bangkit melalui upaya mikro. Setelah kehilangan tempat tinggal akibat bencana, dia memanfaatkan sisa duit nan dimiliki untuk berdagang teh hijau di letak pengungsian.

"Dengan sisa duit nan ada, saya mencoba membuka upaya teh hijau di pengungsian," tutur Mayasari.

Memasuki Ramadan 1447 Hijriah, Mayasari berbareng 86 kepala family lainnya dipindahkan ke Huntara Tamiang 2 nan berada di depan SMP Negeri 1 Karang Baru. Di letak tersebut, dia tetap melanjutkan usahanya dengan strategi promosi sederhana, ialah membeli dua minuman cuma-cuma satu selama Ramadan sebagai corak infak sekaligus menarik pembeli.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Pendapatan nan terkumpul perlahan digunakan untuk memperbaiki sebuah pos ronda nan tidak lagi terpakai di depan huntara. Setelah memperoleh izin, gedung sederhana itu diubah menjadi gerai tempat dia melanjutkan usahanya.

"Alhamdulillah, dari untung sedikit demi sedikit akhirnya cukup membantu menambah kebutuhan shopping sehari-hari," ujarnya.

Mayasari mengaku tidak sendiri dalam berjuang. Banyak ibu rumah tangga di Huntara Tamiang 2 juga mulai membuka upaya mini untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagian besar pembeli berasal dari sesama penunggu huntara, siswa SMP Negeri 1 Karang Baru, serta masyarakat nan melintas di sekitar lokasi.

Kini upaya nan dijalankannya tidak lagi hanya menjual teh hijau. Ia menambah beragam pilihan minuman sachet, kopi instan, hingga bahan bakar minyak satuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Baginya, upaya sederhana tersebut menjadi simbol angan bahwa kehidupan dapat kembali dibangun sedikit demi sedikit, meski dimulai dari tempat nan sangat sederhana. (E-3)

Selengkapnya