Jakarta, CNBC Indonesia - Kantor Staf Kepresidenan menyebut sebanyak 15 kementerian dan lembaga bersinergi untuk mendorong pengembangan teknologi serta eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ). Hal itu untuk mendorong Indonesia bisa mengolah 'harta karun' berupa LTJ secara mandiri.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman mengatakan, sinergi tersebut untuk menghasilkan kebijakan dan izin mengenai pengembangan LTJ. Sektor teknologi dinilai menjadi kunci bagi Indonesia agar bisa mengolah kekayaan sumber daya alam secara maksimal tanpa kudu mengekspor lantaran kekurangan penguasaan teknologi.
"Nah ini bakal dibicarakan, ada 15 kelembagaan nan bakal membicarakan perihal ini, tidak serta-merta masalah teknologi selanjutnya, tetapi tentang peraturan, sehingga peraturan ini kelak bakal mengikat semua kelembagaan nan terkait, sehingga tidak ada terjadi keragu-raguan kepada pelaku usaha," katanya dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Selasa (4/8/2026).
Kerja sama tersebut turut melibatkan BRIN, MIND ID, hingga PT Timah untuk mengatasi halangan keterbatasan teknologi pengolahan mineral jarang. Selama ini, Indonesia telah melakukan proses hilirisasi, namun pengolahannya dinilai tetap terbatas, sehingga sebagian mineral ikutan belum tergarap optimal.
"Di samping itu juga kelak bakal dibicarakan gimana pengembangan teknologi itu sendiri, salah satunya ini BRIN juga terlibat kemudian dari Minerba, kemudian Perminas dan sebagainya, sehingga kita tidak serta-merta hanya bahan baku aja kita nan diekspor gitu, sehingga itulah proses hilirisasi ini nan kemudian akhirnya dikembangkan," jelasnya.
Ketersediaan sumber daya alam LTJ di Indonesia dinilai cukup melimpah, namun kesiapan sumber daya manusia dan akses terhadap teknologi pemurnian tingkat tinggi tetap menjadi hambatan terbesar. Pemerintah menyasar pembangunan industri hilir nan lebih kompleks, termasuk prasarana pendukung kendaraan listrik, sebagai bagian dari strategi nasional.
"Teknologi nan jelas. Teknologi, ya jika masalah sumber daya alam kita memang berlimpah, sumber daya manusia tapi teknologi kita belum sampai, gitu," tambahnya.
Melalui koordinasi tersebut, pemerintah berambisi izin nan dirumuskan bisa mendorong suasana investasi nan lebih kondusif di sektor mineral jarang. Kantor Staf Presiden memastikan bakal terus mengawal proses pemangkasan birokrasi agar potensi besar pertambangan nasional memberikan nilai tambah bagi stabilitas ekonomi.
"Ya jika pertambangan itu tadi nan saya katakan jadi kita pangkas birokrasi sehingga kemudian tidak merugikan semua beberapa pihak," pungkasnya.
Potensi LTJ di Indonesia
Mengutip Booklet Logam Tanah Jarang nan dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2020, potensi mineral tanah jarang di Indonesia berasal dari beberapa produk turunan dari hasil pengolahan sejumlah mineral, seperti timah, emas, alumina, pasir zircon hingga nikel.
Adapun lokasinya kebanyakan berada di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi.
Dari total 28 letak mineralisasi LTJ nan terungkap, baru sekitar 9 letak mineralisasi LTJ (30%) telah dieksplorasi awal, namun 19 letak mineralisasi LTJ (70%) belum dilakukan/ belum optimal dilakukan eksplorasi.
Berikut beberapa jenis mineral tanah jarang di Indonesia:
- Monasit dan Xenotime, merupakan by-product alias hasil ikutan dari pengolahan bijih timah. Potensinya terdapat di tambang timah di Bangka Belitung.
- Monasit:
Indonesia telah mempunyai sumber daya monasit sebesar 185.179 ton logam nan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi cadangan. Hasil analisa konsentrat monasit dalam timah antara lain 31,5% CeO2, 13,2% La2O3, 11% Nd2O3, 3,9% Y2O3, 2,98% Pr6O11, 1,98% Gd2O3, 1,96% Sm2O3.
Ada 3 provinsi nan mempunyai potensi logam tanah jarang, antara lain:
1. Kepulauan Riau, sumber daya LTJ 2.268 ton.
2. Kepulauan Bangka Belitung, sumber daya LTJ 181.735 ton.
3. Kalimantan Barat, sumber daya LTJ 1.175 ton.
- Xenotime:
Indonesia telah mempunyai sumber daya xenotime sebesar 20.734 ton logam nan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi cadangan. Adapun lokasinya berada di Kepulauan Bangka Belitung.
- Zirconium silicate, merupakan by-product alias hasil ikutan dari pengolahan bijih timah dan emas, serta di dalam pasir zircon. Potensinya terdapat di tambang pasir zirkon di Kalimantan. Adapun unsur LTJ di dalamnya antara lain Y (Yttrium) dan Ce (cerium).
- Ferrotitanates, merupakan residu hasil pengolahan bauksit menjadi alumina. Potensinya terdapat di lumpur merah (red mud) di Kalimantan Barat.
- Bijih nikel laterit, merupakan by-product alias hasil ikutan dari pengolahan bijih nikel laterit melalui proses hidrometalurgi ialah smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) nikel-cobalt. Potensinya terdapat di tambang nikel (limonit) di Sulawesi. Unsur LTJ antara lain Sc (scandium), Nd (neodymium), Pr (praseodymium), Dy (disprosium))
- Batuan granit
- Abu batu bara/FABA (monasit).
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·