Pemerintahan Trump Pertimbangkan Aksi Militer di Mali Targetkan JNIM

2 jam yang lalu 4
Pemerintahan Trump Pertimbangkan Aksi Militer di Mali Targetkan JNIM Tentara Mali.(Al Jazeera)

PEMERINTAHAN Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi tindakan militer di Mali, suatu negara di Afrika Barat, untuk menargetkan golongan militan nan berafiliasi dengan al-Qaeda, Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM). Langkah ini, jika disetujui, bakal menjadikan Mali sebagai negara kedelapan nan menjadi sasaran serangan militer sejak awal masa kedudukan kedua Trump.

Rencana ini memicu perdebatan di internal pejabat senior Amerika Serikat. Sebastian Gorka, Direktur Senior Penanggulangan Terorisme di Dewan Keamanan Nasional, disebut sebagai salah satu pendukung vokal penggunaan kekuatan militer tersebut. Namun, Pentagon dan Gedung Putih tetap enggan memberikan komentar resmi mengenai perincian rencana serangan tersebut.

Ancaman JNIM di Kawasan Sahel

JNIM membangun pedoman nan kuat di Mali dan mulai memperluas serangannya ke negara-negara pesisir Afrika Barat. Kelompok ini dikenal sebagai salah satu organisasi militan dengan persenjataan terbaik di area tersebut dan salah satu nan paling kuat di dunia. Pada musim semi ini, mereka meluncurkan serangan terkoordinasi di ibu kota Bamako dan membunuh menteri pertahanan Mali dalam serangan peledak bunuh diri.

Selain JNIM, golongan IS Sahel (afiliasi ISIS) juga memperkuat pengaruhnya di perbatasan Mali dan Niger. Kelompok ini diyakini menahan misionaris Amerika, Kevin Rideout, nan diculik tahun lalu.

Kritik terhadap Peran Rusia

Pemerintah junta Mali saat ini memutus hubungan dengan Barat dan beranjak ke Rusia untuk support keamanan, termasuk menyewa tentara penghasilan dari Wagner Group (sekarang Africa Corps). Namun, pejabat AS menilai Rusia kandas menjadi mitra keamanan nan efektif.

Data Korban Sipil: Berdasarkan info ACLED tahun lalu, militer Mali dan mitra Rusia mereka bertanggung jawab atas 925 kematian penduduk sipil, jauh lebih tinggi dibandingkan 232 kematian nan disebabkan oleh golongan militan Islam.

Pihak Gedung Putih menyatakan bahwa terorisme di Sahel adalah masalah multinasional dan mendesak negara-negara di Afrika Utara serta Barat untuk membeli peralatan militer AS guna mendukung upaya perang mereka sendiri.

Risiko Eskalasi dan Dilema Militer

Keterlibatan militer langsung AS di Mali membawa akibat tinggi, termasuk potensi konfrontasi dengan pasukan Rusia nan ada di lapangan. Para mahir memperingatkan bahwa solusi militer murni mungkin tidak bakal menyelesaikan bentrok nan berjalan lama.

  • Wassim Nasr (Soufan Center): Menyarankan AS konsentrasi pada resolusi bentrok dan mendorong perbincangan antara junta Mali dengan JNIM.
  • Corinne Dufka (Pakar Sahel): Memperingatkan bahwa serangan AS dapat memicu JNIM untuk mulai menargetkan kepentingan Amerika, sesuatu nan belum mereka lakukan hingga saat ini.
  • Peter Pham (Mantan Pejabat Trump): Menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan dengan pemerintah Mali dan Niger sebelum melakukan kerja sama keamanan lebih lanjut.

Hingga saat ini, Departemen Luar Negeri AS menyatakan komitmennya untuk memantau ancaman terhadap tanah air dan mendukung kepemilikan regional dalam melawan terorisme, tanpa mengonfirmasi secara definitif apakah Menteri Luar Negeri Marco Rubio mendukung serangan udara di Mali. (The Washington Post/I-2)

Selengkapnya