Groundbreaking TPPAS Legok Nangka.(Dok Diskominfo Kota Bandung)
GROUNDBREAKING Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka nan terletak di Kabupaten Bandung, menjadi tonggak baru dalam pengelolaan sampah regional di Jawa Barat (Jabar).
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan kemarin menerangkan, Pemkot Bandung telah menandatangani komitmen berbareng sebagai corak support terhadap operasional TPPAS Legok Nangka nan diproyeksikan mulai beraksi secara komersial pada 2029.
"Pokoknya Kota Bandung sudah berkomitmen. Kita sudah menandatangani pengadaan mobil transportasi khusus. Kita juga sudah menyiapkan lahan untuk pemilahan. Sampah dari Kota Bandung kudu dipilah terlebih dulu sebelum dibawa ke Legok Nangka menggunakan kendaraan khusus," ucapnya.
Menurut Farhan, Kota Bandung bakal mengirimkan sekitar 800 ton sampah per hari ke TPPAS Legok Nangka. Karena letak akomodasi berada di area berbukit, armada nan digunakan kudu mempunyai spesifikasi unik agar bisa beraksi secara kondusif dan optimal.
"Kendaraannya berbeda. Harus kuat menanjak dan mempunyai sistem pengereman nan baik lantaran jalurnya naik dan turun. Jadi memang memerlukan kendaraan nan dirancang unik untuk operasional menuju Legok Nangka," jelasnya.
Farhan menyebut, pembangunan TPPAS Legok Nangka merupakan bagian dari upaya menghadirkan sistem pengelolaan sampah nan lebih modern dan terintegrasi bagi area Bandung Raya. Melalui akomodasi tersebut, sampah nan telah dipilah bakal diolah menggunakan teknologi nan lebih ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap metode pembuangan akhir konvensional.
Selain Legok Nangka, Farhan mengungkapkan, TPA Sarimukti juga bakal mempunyai peran baru sebagai pusat pengolahan sampah organik. Sampah organik hasil pemilahan dari Kota Bandung nantinya bakal dikirim ke Sarimukti untuk diolah dengan beragam teknologi.
"Sarimukti nantinya bakal dijadikan tempat pengolahan organik. Setelah dipilah, sampah organik bakal dibawa ke Sarimukti untuk diolah. Pengolahannya bakal menggunakan beragam teknologi," tandasnya.
Salah satu teknologi nan diusulkan lanjut Farhan, adalah pemanfaatan gas metana dari timbunan sampah organik melalui proses gasifikasi. Teknologi tersebut mempunyai potensi menghasilkan daya sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor persampahan.
"Salah satu teknologi nan saya sorong adalah gasifikasi metana dari tumpukan sampah organik. Ini menjadi solusi nan baik untuk meningkatkan nilai tambah pengelolaan sampah," ujarnya.
Terkait alokasi sampah Kota Bandung ke TPPAS Legok Nangka, Farhan memastikan tidak ada perubahan dari kesepakatan nan telah disusun sebelumnya. Kota Bandung tetap mendapatkan kuota pengiriman sekitar 800 ton sampah per hari, sesuai perjanjian kerja sama nan telah ditandatangani pada 2018. Jadi sesuai dengan perjanjian nan sudah ditandatangani tahun 2018, tidak ada perubahan ataupun penyesuaian. Tinggal mengatur pelaksanaannya.
Kesiapan armada khusus, akomodasi pemilahan, serta penguatan pengolahan sampah organik di Sarimukti menjadi bagian dari transformasi sistem persampahan nan diharapkan bisa menjawab tantangan pengelolaan sampah di Kota Bandung dan area Bandung Raya. (AN/E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·