Ilustrasi.(Magnific)
MESKIPUN faktor usia dan riwayat family memegang peranan krusial dalam akibat penyakit kronis, pola makan juga mempunyai pengaruh nan sangat besar. Studi terbaru menemukan bahwa diet tinggi makanan olahan alias ultra-proses dapat meningkatkan risiko demensia secara signifikan.
Temuan Studi JAMA Neurology
Penelitian nan dipublikasikan dalam JAMA Neurology ini mengawasi 10.775 perseorangan selama periode 10 tahun. Partisipan terdiri dari laki-laki dan wanita dengan usia rata-rata 51 tahun. Selama penelitian, mereka mengisi kuesioner gelombang makanan dan melaporkan asupan kalori harian.
Di akhir periode 10 tahun, para peneliti menilai perubahan performa kognitif melalui beragam tes. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka nan mengonsumsi 28% alias lebih kalori harian dari makanan ultra-proses mempunyai akibat demensia nan lebih tinggi. Dalam diet rata-rata 2.000 kalori, jumlah ini setara dengan hanya 400 kalori per hari namalain jumlah nan relatif mini untuk dicapai tanpa disadari.
Apa Itu Makanan Ultra-Proses?
Studi tersebut mendefinisikan makanan ultra-proses sebagai formulasi industri dari unsur makanan (minyak, lemak, gula, pati, dan isolat protein) nan mengandung sedikit alias tanpa makanan utuh. Produk ini biasanya mengandung perasa, pewarna, pengemulsi, dan aditif kosmetik lain.
Jackie Newgent, R.D.N., C.D.N., mahir diet kuliner, menjelaskan bahwa makanan ini umumnya murah, praktis, dikemas, dan mempunyai masa simpan nan sangat lama. Beberapa contoh makanan ultra-proses meliputi:
- Minuman manis (soda dan saribuah kemasan).
- Kue kering dalam kemasan.
- Sereal sarapan dari biji-bijian olahan.
- Camilan keripik alias pretzel.
- Daging merah olahan seperti bacon dan hot dog.
Mengapa Berbahaya bagi Otak?
Amit Sachdev, M.D., kepala bagian kedokteran neuromuskular di Michigan State University, menyatakan bahwa makanan ultra-proses umumnya kurang sehat dibandingkan makanan segar. Masalah utamanya bukan hanya pada apa nan dikandungnya, tetapi pada apa nan lenyap dari pola makan Anda, ialah nutrisi krusial dari makanan utuh.
Penelitian menunjukkan bahwa asupan rutin makanan ultra-proses dikaitkan dengan peningkatan peradangan pada otak. Peradangan ini merupakan kontributor utama demensia, termasuk penyakit Alzheimer. Studi dalam The American Journal of Medicine apalagi menemukan hubungan langsung antara asupan tinggi makanan ini dengan kadar protein C-reaktif, penanda utama peradangan dalam tubuh.
Catatan Ahli: Riset lain nan diterbitkan dalam American Journal of Public Health menemukan bahwa orang dengan konsumsi makanan ultra-proses tertinggi mempunyai akibat demensia 58% lebih tinggi dan akibat gangguan kognitif 46% lebih tinggi dibandingkan mereka nan mengonsumsi jumlah terendah.
Langkah Melindungi Kesehatan Otak
Dr. Sachdev menekankan bahwa tubuh nan sehat bakal menghasilkan otak nan sehat. Keseimbangan adalah kunci utama. Jackie Newgent menyarankan agar masyarakat tidak perlu merasa kudu menghilangkan seluruh makanan olahan secara ekstrem, melainkan konsentrasi pada pembatasan.
Saran praktisnya adalah memastikan makanan ultra-proses tidak menggantikan posisi makanan padat nutrisi dalam jangka panjang. Menikmati segenggam keripik sesekali diperbolehkan. Namun kuncinya adalah porsi nan terkontrol dan tidak menjadikannya konsumsi harian nan dominan. (Prevention/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·