Hendri Satrio(Dok Istimewa)
PENGAMAT politik Hendri Satrio (Hensa) memberikan masukan kritis mengenai inisiatif sejumlah akademisi dan aktivis masyarakat sipil nan baru-baru ini membentuk 'Kabinet Bayangan'. Alih-alih memuji langkah tersebut, Hensa justru menyoroti kelemahan mendasar dari pemilihan identitas golongan tersebut.
Menurut Hensa, secara konseptual istilah "Kabinet Bayangan" justru mengecilkan potensi golongan masyarakat sipil itu sendiri. Nama tersebut dinilai secara tidak langsung menunjukkan keterbatasan lantaran sifat dasar sebuah gambaran nan hanya bisa pasrah mengikuti objek aslinya.
"Kabinet Bayangan? Bayangan butuh cahaya, jika enggak ada cahaya, enggak ada bayangan. Dan jika tuannya enggak bergerak, mana bisa gambaran bergerak. Masukan nih, boleh kan? #Hensa," tulis Hensa dikutip dari akun X pribadinya, @satriohendri, Kamis (30/7/2026).
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini tidak menampik bahwa di beberapa negara demokrasi, keberadaan shadow cabinet adalah perihal nan lumrah untuk mengawal dan mengkritisi kebijakan pemerintah. Namun, dia menilai mengambil nama tersebut oleh masyarakat sipil di Indonesia saat ini justru bisa menjadi bumerang.
"Pada prinsipnya, saya memandang Kabinet Bayangan ini justru secara tidak langsung mengakui bahwa mereka tidak punya agenda sendiri. Mereka seolah memposisikan diri hanya untuk bereaksi terhadap kebijakan penguasa," kata Hensa.
"Kalau pemerintah diam, ya bayangannya ikut diam. Ini kan repot jika niatnya mau menjadi golongan penekan alias pengganti kebijakan bagi masyarakat," tambahnya mempertegas.
Hensa menyarankan, jika golongan tersebut memang beriktikad menghadirkan pengganti kebijakan nan segar dan berani, mereka semestinya lebih percaya diri dalam merumuskan nama pergerakan.
"Mestinya jika mau membentuk kabinet tandingan, namanya Kabinet Tandingan saja. Kata 'tandingan' itu punya daya dobrak. Ada pendapat nan diadu, ada keberanian untuk berdiri sejajar menawarkan solusi," ujarHensa.
Sebaliknya, dia menilai nama Kabinet Bayangan hanya menegaskan bahwa keberadaan golongan ini berkarakter reaktif dan tidak mempunyai inisiatif independen.
"Ini jika Kabinet Bayangan, jelas banget ada tuannya. Dari mana sebuah gambaran bisa berinisiatif bergerak jika tidak ada cahayanya?" kritiknya.
Lebih jauh, Hensa mengingatkan bahwa golongan politik alias sipil nan terlalu reaktif berisiko kehilangan kredibilitas. Masyarakat dinilai lebih memerlukan tokoh alias golongan nan konsisten menelurkan ide, bukan sekadar kritikus nan berjuntai pada momentum kebijakan penguasa.
"Bayangan itu enggak abadi. Begitu cahayanya pindah alias meredup, bayangannya hilang. Makanya jika mau punya nama besar dan dipercaya publik, jangan hanya jadi bayangan, jadilah sumber sinar itu sendiri," pungkas Hensa. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·