Ilustrasi.(Magnific)
LALU lintas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan tentatif setelah berminggu-minggu mengalami gangguan parah. Pemulihan ini terjadi bukan lantaran Teheran membuka jalur tersebut, melainkan lantaran semakin banyak perusahaan pelayaran dan kru kapal nan memanfaatkan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).
Lebih banyak kapal tanker minyak dan pengangkut gas alam cair (LNG) sekarang kembali ke jalur perairan tersebut seiring meningkatnya tekanan pada pasar minyak global. Kondisi ini tetap berjalan meskipun Amerika Serikat dan Iran terus terlibat dalam tindakan saling tembak rudal dan drone nan terjadi nyaris setiap malam.
Pengawalan Angkatan Laut AS Pulihkan Pengiriman
Militer AS dilaporkan terus memperluas operasi pengawalan militer untuk kapal komersial, meskipun situasi di lapangan tetap rentan dan pasar daya dunia tetap sangat rentan. Data lampau lintas kapal nan disusun oleh Kpler menunjukkan bahwa 14 kapal komoditas transit di Selat Hormuz dalam dua arah pada Rabu (29/7), naik dari nomor satu digit nan tercatat minggu lalu.
Meski meningkat, nomor tersebut tetap jauh lebih rendah dibandingkan nomor sebelum perang dan belum mendekati jumlah nan dibutuhkan untuk menstabilkan pasokan minyak global. Menteri Energi AS, Chris Wright, dalam wawancara dengan Bloomberg Radio, mengonfirmasi bahwa Washington secara aktif melindungi ekspor daya komersial nan bergerak melalui jalur tersebut.
"Kami menggunakan militer Amerika Serikat untuk mengawal minyak dan gas keluar dari Selat Hormuz," ujar Wright. Ia menambahkan bahwa sekitar 6,5 juta barel minyak per hari sekarang bergerak keluar dari teluk melalui selat tersebut. "Kami memulihkan pasokan minyak dunia dan produk olahan ke bumi dari wilayah tersebut."
Angka 6,5 juta barel tersebut merupakan peningkatan, tetapi tetap jauh di bawah volume sebelum konflik, ialah sekitar seperlima dari minyak mentah nan diperdagangkan secara dunia dan sebagian besar LNG transit di sana. Sebelum perang, rata-rata 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak olahan melewati Selat Hormuz setiap harinya.
Catatan Krisis: Ekspor saat ini hanya mewakili sekitar sepertiga dari throughput normal. Upaya pengalihan melalui pipa pengganti oleh Arab Saudi dan Emirat Arab juga mempunyai akibat terbatas, terutama setelah pengumuman blokade Houthi terhadap kapal-kapal nan mengenai dengan Saudi di Selat Bab el-Mandeb.
Cadangan Global Mulai Menipis
Pasar dunia saat ini sangat berjuntai pada inventaris nan dikumpulkan sebelum bentrok dimulai. Namun, persediaan tersebut berkarakter terbatas. Berdasarkan info terbaru dari Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS berada di nomor 307,7 juta barel pada pekan nan berhujung 24 Juli 2026, setelah pelepasan 3,8 juta barel lain.
Angka itu merupakan level terendah sejak 1983. Sebagai perbandingan, pada puncaknya di tahun 2009, SPR menampung lebih dari 727 juta barel. Penurunan terus-menerus ini dilakukan untuk membantu menstabilkan pasokan dunia selama krisis Hormuz berlangsung.
Pergeseran Pasar Minyak ke Asia
Gangguan nan terus bersambung di Hormuz memaksa pasar minyak dunia untuk berubah. Pembeli minyak mentah di Asia mulai mencari sumber alternatif. Laporan minggu ini mengungkapkan pengiriman pertama minyak mentah Kanada sejak 2025 sekarang sedang menuju Jepang menggunakan kapal nan disewa oleh Exxon Mobil.
Data pencarian kapal Kpler menunjukkan kapal Freedom Glory nan berbendera Kepulauan Marshall, bisa membawa hingga 750.000 barel minyak mentah, berangkat dari Vancouver. Langkah ini diambil saat kilang terbesar Jepang, Eneos, mencari sumber baru di tengah tekanan ekonomi nan memaksa Tokyo memangkas perkiraan pertumbuhan tahun ini dari 1,3 persen menjadi hanya 0,09 persen. (National Security Journal/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·