Penjual Warung Makan Bongkar Fenomena Tak Terduga Pegawai Kantoran DKI

4 hari yang lalu 12

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan work from home (WFH) bagi para tenaga kerja rupanya membawa akibat tersendiri bagi para penjual makanan di sekitar perkantoran. Selama periode WFH, mereka mengaku mengalami penurunan jumlah visitor dan juga omzet penjualan.

Contohnya Ardi nan berdagang bebek goreng di area perkantoran Juanda, Jakarta Pusat mengaku pengguna nan datang membeli makanan di tempatnya tetap cukup ramai, khususnya dari kalangan pekerja di sekitar lokasi. Sayangnya, begitu memasuki WFH nan dilaksanakan setiap hari Jumat, jumlah visitor nan datang turun drastis.

Penurunan serupa terjadi ketika memasuki waktu libur seperti Sabtu dan Minggu. Dari situ, Ardi memilih untuk mengurangi stok produk makanannya ketika berdagang di periode WFA maupun akhir pekan. Di samping itu, Ardi memandang adanya sedikit penurunan terhadap omzet penjualannya dalam tiga bulan terakhir seiring ketidakpastian kondisi ekonomi.

"Iya, gak terlalu banyak gitu (penurunan omzet). Kan dulu 99%, sekarang tinggal 95% begitu," ujar dia kepada CNBC Indonesia, ditulis Kamis (16/7/2026).

Dirinya bilang, penurunan omzet penjualan juga disebabkan oleh beberapa pengguna nan dinilai mulai merasa jenuh dengan menu-menu tertentu. Pada akhirnya, pengguna tersebut beranjak mencari menu makanan lainnya.

Belakangan ini, dia juga mencermati adanya pola perubahan perilaku pengguna dalam membeli bebek goreng di tempatnya. Sebagai gambaran, ada sebagian pengguna condong membeli menu nan tidak komplit. Jika dulu pengguna tersebut membeli nasi, bebek goreng, dan sate, maka sekarang mereka ada nan cukup membeli bebek goreng saja.

Sebagai catatan, seporsi bebek goreng nan dijual Ardi dibanderol seharga Rp 15.000. Jika ditambah nasi, maka harganya Rp 20.000. Angka ini sebenarnya mengalami kenaikan, mengingat sebelum bulan Ramadan lampau nilai nasi dan bebek goreng dibanderol Rp 18.000 seporsi.

Sama halnya dengan Ardi, seorang penjual ketoprak di area perkantoran Gondangdia, Jakarta Pusat berjulukan Faisal menyampaikan, penjualan di tempatnya condong tak menentu. Mengingat, para pekerja nan berkantor di sana juga tak menentu agenda masuknya. Ada nan sebagian masuk kantor, namun ada juga sebagian nan bekerja di tempat lain.

"Jadi, gak bisa nentuin ramenya apa, sepinya apa, gitu," tutur dia.

Perubahan perilaku pengguna juga terjadi di warung ketoprak tempat Faisal berjualan. Beberapa pengguna ada nan lebih memilih membeli ketoprak tahu saja tanpa pakai telur. Faktor ekonomi seperti kenaikan nilai kebutuhan pokok diduga menjadi penyebab pergeseran perilaku pengguna tersebut.

Dalam rangka mempertahankan usahanya, Faisal mencoba menambah ragam menu. Kini, dia juga menjual mi instan dengan beragam variannya. Kehadiran menu ini membikin warung tempat Faisal berdagang tetap ramai di momen-momen tertentu.

Masih di tempat nan sama, Taufik seorang penjual ayam cabe ijo menyadari adanya penurunan penjualan dalam dua bulan terakhir. Hal ini terjadi imbas dari kebijakan WFH di hari tertentu, ketidakpastian kondisi ekonomi juga, sehingga berakibat pada lesunya permintaan dari sebagian pelanggan. Tren seperti ini diklaim juga dialami oleh beberapa penjual makanan di sekitar perkantoran Gondangdia.

Taufik menceritakan, dirinya berdagang ayam cabe ijo mulai dari pukul 11 siang sampai 10 malam. Meski mengalami penurunan omzet dan nilai bahan baku naik, dia memilih tetap mempertahankan nilai jual makanannya. Keputusan ini ditempuh agar para pengguna tetap mau datang dan membeli makanan di tempatnya.

"Kalau nilai sih saya gak naikin, tetep aja seporsi nasi dan ayam Rp 20.000," katanya.

Saat ini, dia menjual ayam cabe ijo dengan nasi seharga Rp 20.000. Jika tanpa nasi, maka harganya menjadi Rp 15.000.

Beranjak ke area perkantoran di sekitar Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, CNBC Indonesia menemui penjual ayam cabe ijo. Anang si penjual menyebut penjualan ayam cabe ijo di tempatnya tetap cukup normal.

Harga untuk menu ayam cabe ijo dan nasi dibanderol senilai Rp 21.000, sedangkan jika ditambah tahu-tempe harganya menjadi Rp 23.000. Nilai tersebut sebenarnya telah mengalami kenaikan Rp 1.000 seiring nilai bahan baku dan kebutuhan pokok nan meningkat.

Lantaran berdagang di area perkantoran, kelangsungan upaya nan dijalani Anang tentu berjuntai pada aktivitas para pekerja. Jika para pekerja instansi di sana libur, maka warung tempat berdagang Anang juga ikut tutup.

Kondisi tempat makan kaki 5 di perkantoran wilayah Tendean tetap relatif ramai dan berjuntai dengan karyawan, Kamis (16/7/2026). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia)Kondisi tempat makan kaki 5 di perkantoran wilayah Tendean tetap relatif ramai dan berjuntai dengan karyawan, Kamis (16/7/2026). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia) Foto: (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya