Tentara AS di Teluk.(Al Jazeera)
PENTAGON dilaporkan tidak mengungkapkan puluhan kasus cedera nan dialami personel militer Amerika Serikat (AS) akibat serangan Iran di Yordania selama sepekan terakhir. Langkah ini memicu ketegangan antara kebutuhan keamanan operasional militer dengan tanggungjawab pemerintah untuk menginformasikan kondisi perang kepada publik.
Berdasarkan info dari sejumlah pejabat AS nan berbincang secara anonim, Iran melancarkan tiga serangan terhadap pasukan AS di Yordania sebelum serangan fatal pada Jumat (17/7) nan menewaskan dua tentara dan menyebabkan satu personel hilang. Serangan-serangan awal tersebut melukai puluhan personil jasa AS dan merusak beberapa helikopter, tetapi info ini tidak dirilis oleh Departemen Pertahanan ke publik.
Komando Pusat AS (Central Command) dalam pernyataan resminya pekan lampau hanya menyebut bahwa serangan udara terhadap situs militer Iran merupakan jawaban atas gangguan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz. Mereka sama sekali tidak menyinggung serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan di kawasan, termasuk di Yordania.
Seorang pejabat militer AS berkilah bahwa Central Command tidak diwajibkan merilis info mengenai personel nan terluka, terutama jika mereka dapat segera kembali bertugas. Selain itu, pengungkapan perincian serangan dikhawatirkan bakal membantu Iran dalam mengarahkan rudal balistik dan serangan drone mereka ke pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Bantahan Pentagon
Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, membantah tuduhan bahwa militer menyembunyikan alias salah merepresentasikan jumlah korban. "Klaim penyembunyian adalah fabrikasi nan dimaksudkan untuk semakin menyusahkan rakyat Amerika setelah gugurnya tiga personil layanan," tegas Parnell dalam suatu pernyataan.
Parnell merujuk pada Sistem Analisis Korban Pertahanan (Defense Casualty Analysis System) nan diklaim diperbarui secara berkala. Namun, situs publik tersebut hanya menyediakan nomor agregat dan tidak merinci serangan massal spesifik seperti nan terjadi di Yordania baru-baru ini. Ia menambahkan bahwa mengambil nomor mentah tanpa konteks dapat memberikan gambaran nan menyesatkan.
Transparansi dan Dampak Perang
Selama beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump juga dikritik lantaran kandas mengungkapkan sejauh mana perang Iran menguras pasokan senjata kritis AS nan mahal serta gimana Iran bisa membangun kembali keahlian rudalnya secara substansial.
Hingga saat ini, total 17 personel militer Amerika tewas sejak AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Data terbaru menunjukkan 427 personel militer AS terluka selama bentrok berlangsung, meskipun nomor di situs resmi belum mencakup kematian terbaru di akhir pekan lalu.
Presiden Donald Trump, dalam panggilan telepon dengan NewsNation, menyatakan bahwa para prajurit tersebut gugur demi pengabdian kepada negara dengan tujuan utama memastikan Iran tidak pernah mempunyai senjata nuklir. Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa kehilangan dua tentara AS di Yordania justru bakal memperkuat tekad Amerika.
Di sisi lain, akibat kemanusiaan dari bentrok ini terus meluas dengan perkiraan lebih dari 1.700 penduduk sipil Iran telah tewas dalam perang tersebut. (New York Times/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·