Pentagon Ungkap Hampir 100 Tentara AS Terluka akibat Serangan Udara Iran

10 jam yang lalu 3
Pentagon Ungkap Hampir 100 Tentara AS Terluka akibat Serangan Udara Iran Tentara AS di Teluk.(Al Jazeera)

PENTAGON mengonfirmasi bahwa nyaris 100 tentara Amerika Serikat (AS) mengalami luka-luka akibat serangan udara Iran selama dua pekan terakhir. Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi bentrok di Timur Tengah sejak awal Juli.

Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, memverifikasi jumlah korban luka tersebut dan menyatakan bahwa 96 persen dari prajurit nan terdampak telah kembali bertugas. "Mereka berkeinginan untuk kembali bertempur," ujar Parnell kepada CBS. Ia menambahkan bahwa sebagian besar cedera nan dialami adalah gegar otak ringan.

Pengungkapan ini menyusul laporan dari New York Times pada Senin (20/7), nan menuduh Pentagon menyembunyikan skala sebenarnya dari jumlah korban sejak bentrok dengan Iran pecah kembali pada 7 Juli. Para pembocor rahasia (whistleblowers) mengeklaim serangkaian serangan Iran melukai puluhan tentara dan merusak beberapa helikopter nan tidak diungkapkan sebelumnya.

Namun, Parnell membantah tuduhan tersebut. "Klaim mengenai penyembunyian adalah fabrikasi nan dimaksudkan untuk semakin menyusahkan rakyat Amerika setelah gugurnya tiga personil jasa dalam tugas," tegasnya.

Korban Jiwa di Yordania

Ketegangan mencapai titik kritis setelah serangan Iran terhadap pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania pada hari Jumat (17/7). Dua tentara AS nan tewas telah diidentifikasi sebagai Letnan Satu Tyler James Feehan, 25, dan Prajurit Isabella Gonzales, 19. Rudal dilaporkan menghantam unit perumahan prefabrikasi tempat para tentara tidur.

Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa mereka juga sedang menganalisis sisa-sisa jenazah nan diduga milik tentara ketiga nan tewas di pangkalan tersebut. Menanggapi perihal ini, Donald Trump berjanji bakal melakukan pembalasan melalui unggahan di Truth Social, menyatakan bahwa Iran bakal bayar mahal atas setiap nyawa tentara AS nan hilang.

Serangan Balasan dan Eskalasi Regional

Selama 10 malam berturut-turut, militer AS meluncurkan serangan jawaban terhadap Iran. Operasi ini bermaksud untuk melumpuhkan keahlian Teheran dalam menyerang kapal komersial di Selat Hormuz. Centcom melaporkan sasaran serangan meliputi situs peluncuran rudal, drone, serta sistem pertahanan udara.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terus menargetkan aset-aset AS di Timur Tengah, termasuk prasarana milik raksasa teknologi Amazon di Bahrain. Selain itu, ketegangan di jalur laut meningkat setelah kapal tanker terkena proyektil di lepas pantai Oman, memaksa kru untuk meninggalkan kapal.

Catatan Konflik: Sistem kajian korban pertahanan militer AS mencatat total 413 personil jasa terluka sejak dimulainya perang dengan Iran, tetapi angka tersebut belum mencakup info cedera terbaru dari bulan ini.

Front Baru di Yaman

Situasi semakin rumit dengan dibukanya front baru oleh golongan Houthi di Yaman nan didukung Iran. Houthi mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi sebagai respons atas blokade pelabuhan di wilayah utara Yaman. Blokade angkatan laut ini menakut-nakuti Selat Bab el-Mandeb nan merupakan jalur vital menuju Terusan Suez.

Meskipun tekanan militer terus meningkat, para analis intelijen AS nan dikutip oleh Washington Post menyimpulkan bahwa Teheran dan Washington saat ini terjebak dalam kondisi limbo yang tidak pasti antara perdamaian dan perang terbuka, dengan mini kemungkinan Teheran bakal melunakkan posisi negosiasinya dalam waktu dekat. (The Telegraph/I-2)

Selengkapnya