Ilustrasi kepintaran buatan alias AI nan digunakan peraih Nobel Fisika(Magnific)
TEKNOLOGI kecerdasan buatan (AI) membantu peraih Nobel Fisika 2021, Giorgio Parisi, memecahkan persoalan matematika dalam fisika nan telah membikin para intelektual menemui jalan buntu selama lebih dari satu dekade.
Dikutip dari laman Nobel Prize, temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of Statistical Mechanics: Theory and Experiment pada awal Juli 2026. Bersama fisikawan Francesco Zamponi dari Sapienza University of Rome, Parisi memanfaatkan Claude, model AI generatif buatan Anthropic, untuk menemukan pembuktian matematis nan selama ini kandas diperoleh melalui metode konvensional.
Keberhasilan ini menjadi sorotan lantaran menunjukkan bahwa AI dapat berkedudukan dalam penelitian ilmiah nan memerlukan penalaran tingkat tinggi.
Persamaan nan tak Terpecahkan
Kisah ini bermulai pada 2014 ketika Parisi dan timnya meneliti kejadian jamming, ialah kondisi ketika sekumpulan partikel berubah dari bebas bergerak menjadi saling mengunci akibat kepadatan nan sangat tinggi. Fenomena tersebut banyak dijumpai pada material granular, kaca, hingga sistem partikel kompleks.
Dalam penelitian itu, mereka menemukan dua parameter matematika, a dan b, nan selalu memenuhi persamaan a + b = 1. Sayangnya, tidak ada penjelasan matematis nan bisa membuktikan kenapa hubungan tersebut selalu benar.
Penelitian lain nan dilakukan fisikawan Matthieu Wyart melalui pendekatan berbeda juga menghasilkan hubungan serupa. Meski memperkuat dugaan adanya prinsip fisika nan belum dipahami, beragam upaya mencari pembuktian analitik tetap kandas selama lebih dari 10 tahun.
AI Beri Sudut Pandang Baru
Setelah bertahun-tahun mengalami kebuntuan, Parisi mencoba pendekatan berbeda dengan memanfaatkan Claude sebagai mitra obrolan ilmiah. AI tersebut diminta mempelajari penelitian sebelumnya sebelum mencari pembuktian matematis atas persamaan nan belum terpecahkan.
Menurut laporan Live Science, hanya dalam sekitar 40 kali prompt, Claude sukses mengusulkan pendekatan baru. Meski tetap mengandung beberapa kesalahan teknis, pendapat utamanya dinilai tepat.
Berbekal buahpikiran tersebut, Parisi dan Zamponi kemudian memverifikasi serta menyempurnakan seluruh kalkulasi hingga menghasilkan pembuktian komplit nan akhirnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.
Parisi menegaskan bahwa AI tidak menggantikan peran intelektual dalam penelitian ini. Claude hanya memberikan perspektif pandang baru nan membantu membuka jalan keluar dari persoalan nan selama bertahun-tahun belum terselesaikan. Seluruh proses verifikasi, penyempurnaan perhitungan, hingga pengesahan hasil tetap dilakukan oleh para peneliti.
Keberhasilan ini menjadi contoh gimana AI generatif dapat berfaedah sebagai perangkat bantu penelitian untuk menyelesaikan persoalan matematika dan fisika nan sangat kompleks. Sejumlah master menilai kerjasama antara manusia dan AI berpotensi mengubah langkah riset dilakukan di masa depan, mulai dari menyusun asumsi hingga mengeksplorasi beragam kemungkinan solusi, sementara keputusan ilmiah tetap berada di tangan para peneliti. (H-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·