Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) resmi mengerahkan pesawat pembom strategis B-1 Lancer untuk menghantam sejumlah sasaran militer Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Iran. Pengerahan ini menjadi misi tempur pertama pesawat B-1 sejak bentrok terbaru antara AS dan Iran kembali memanas dalam 12 hari terakhir.
Pesawat pembom jarak jauh tersebut diketahui lepas landas dari pangkalan udara AS di Inggris dan sempat terdeteksi oleh situs pencari penerbangan daring. Meski demikian, Komando Pusat AS (CENTCOM) tidak secara definitif menyebut penggunaan B-1 dalam pernyataan resminya mengenai serangan nan dilakukan pada Selasa.
Dalam keterangannya, CENTCOM hanya menyebut telah menyerang sejumlah sasaran strategis milik Iran. "Aset CENTCOM menargetkan pusat operasi militer Iran, kapabilitas maritim, hanggar pesawat, akomodasi penyimpanan drone, dan prasarana logistik militer untuk semakin memperlemah keahlian Iran dalam menakut-nakuti pelayaran komersial di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM, dikutip Axios, Kamis (23/7/2026).
Penggunaan B-1 dinilai menjadi sinyal meningkatnya eskalasi militer AS terhadap Iran. Pesawat pembom supersonik tersebut bisa membawa hingga 24 peledak berbobot 2.000 pon (sekitar 907 kilogram) per peledak alias puluhan rudal jelajah dalam satu misi, menjadikannya salah satu pembom dengan kapabilitas muatan terbesar di dunia.
Hingga sekarang belum dipastikan sasaran mana nan secara unik dihantam oleh B-1 maupun seberapa besar efektivitas serangan tersebut dibandingkan gelombang serangan udara sebelumnya. Namun, AS diketahui telah beberapa kali mengoperasikan B-1 dalam Operasi Epic Fury untuk menghancurkan pedoman rudal, pusat komando, penyimpanan senjata, hingga sistem pertahanan udara Iran.
Pengerahan B-1 terjadi ketika Washington terus menambah kekuatan militernya di area Teluk. Menurut sejumlah pejabat AS dan Israel, Presiden Donald Trump tetap mempertimbangkan untuk melancarkan operasi militer berskala lebih besar terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, Iran belum menunjukkan tanda-tanda melunak mengenai ancamannya terhadap Selat Hormuz. Teheran tetap terus melancarkan serangan jawaban ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan.
Sejumlah pejabat pertahanan AS menilai keahlian militer Iran di sekitar Selat Hormuz telah melemah drastis. Namun, ada pula pejabat nan memperingatkan bahwa Iran tetap mempunyai keahlian untuk menyerang kapal-kapal komersial nan melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Ketegangan semakin meningkat pada Rabu setelah Trump menakut-nakuti bakal menyerang prasarana strategis Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik di Teheran, andaikan Iran terus mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan ancaman bakal menghancurkan prasarana negara-negara Teluk nan menjadi sekutu Washington.
Pada hari nan sama, golongan Houthi di Yaman juga menyerang kapal-kapal Arab Saudi untuk pertama kalinya sejak mengumumkan blokade maritim terhadap pelabuhan Saudi. Pejabat pertahanan AS menduga tindakan tersebut dilakukan atas dorongan Iran untuk membuka front baru di Laut Merah sekaligus meningkatkan tekanan terhadap jalur pengedaran minyak dunia.
Akibat meningkatnya ancaman keamanan, sejumlah kapal jual beli nan berlayar di Laut Merah dilaporkan mulai menghindari Selat Bab el-Mandeb dan memilih memutar arah guna mengurangi akibat serangan.
Di tengah eskalasi tersebut, Qatar tetap berupaya menjadi mediator dengan menjalin komunikasi intensif berbareng AS, Iran, dan Oman guna membuka kembali Selat Hormuz serta menghentikan konflik. Namun, menurut sumber regional, hingga sekarang pemerintah Iran belum menerima proposal terbaru nan diajukan para mediator.
Belum diketahui berapa lama Trump bakal memberikan ruang bagi jalur diplomasi sebelum memutuskan melancarkan operasi militer lanjutan. Presiden AS itu menegaskan Iran pada akhirnya bakal dipaksa kembali ke meja perundingan.
"Mereka dipukul begitu keras, dan mereka mau membikin kesepakatan," kata Trump saat berpidato di Georgia pada Rabu malam.
"Namun saya katakan mereka belum siap membikin kesepakatan lantaran setiap kali mereka membikin kesepakatan, mereka mau mengubahnya. Mereka belum siap. Tetapi mereka bakal segera siap," tambahnya.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·