Perang AS-Iran Kian Mahal, Siapa yang Lebih Butuh Gencatan Senjata?

4 hari yang lalu 9
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan selama lima hari berturut-turut. Kesepakatan nota kesepahaman (MoU) nan ditandatangani pada Juni untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka jalur perundingan sekarang dinyatakan tidak lagi berlaku.

Meski Washington dan Teheran sama-sama tetap membuka kesempatan diplomasi, para pemimpin kedua negara tetap menunjukkan sikap keras. Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran sangat mau mencapai kesepakatan tenteram dengan Washington, tetapi dia meragukan Teheran bakal mematuhi perjanjian tersebut.

Sebaliknya, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Mohammed Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tengah menghadapi "perang eksistensial dengan Amerika" sehingga tidak mempunyai argumen untuk tetap terikat pada perjanjian tenteram sebelumnya.

Iran Tertekan Sanksi dan Kekuatan Militer Menyusut

Di kembali retorika tersebut, Iran menghadapi tekanan besar dari ekonomi nan sudah lama terpukul hukuman internasional serta keahlian militernya nan terus terkikis.

Selama lebih dari satu dekade, hukuman AS telah membatasi ekspor minyak Iran, menghalang akses pembiayaan global, serta membekukan beragam aset negara itu. Produk domestik bruto (PDB) per kapita Iran turun dari sekitar US$8.000 alias sekitar Rp144 juta menjadi US$5.000 alias sekitar Rp90 juta per kapita. Sementara ekspor minyak menyusut dari 2,2 juta barel per hari pada 2012 menjadi sekitar 1,5 juta barel per hari pada 2025.

Sempat ada sedikit ruang bernapas ketika MoU ditandatangani pada Juni. Washington mencabut blokade laut, memberikan pengecualian hukuman selama 60 hari, serta menjanjikan pencairan aset Iran sehingga nilai tukar rial menguat sekitar 15%. Namun, hukuman kembali diberlakukan pekan ini sehingga tekanan terhadap perekonomian Iran kembali meningkat.

Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut keahlian pertahanan Iran telah melemah signifikan setelah gelombang serangan AS-Israel.

Hingga awal April, Iran diperkirakan telah menghabiskan sekitar 30% stok rudal sebelum perang dan 60% persediaan drone. Berbagai pelabuhan, kapal perang, akomodasi produksi senjata, hingga situs nuklir juga menjadi sasaran serangan, sementara operasi militer AS terbaru terus menyasar instalasi strategis Iran.

Iran juga menghadapi tekanan diplomatik di kawasan. Serangan terhadap aset militer AS di negara-negara Teluk turut mengenai wilayah kedaulatan beberapa negara dan menimbulkan korban sipil. Kondisi ini mendorong negara-negara Teluk mempererat kerja sama pertahanan melalui berbagi info intelijen dan koordinasi sistem peringatan dini.

AS Dibayangi Harga Minyak hingga Pemilu

Sementara itu, perang juga membawa akibat besar bagi Amerika Serikat. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan melalui Selat Hormuz membikin nilai minyak melonjak sekitar 12%.

Dampaknya terasa hingga ke konsumen Amerika, dengan nilai bensin naik dari US$2,98 per galon alias sekitar Rp53.640 menjadi US$4,63 per galon alias sekitar Rp83.340. Jika dihitung per liter, nilai bensin meningkat dari sekitar Rp14.040 menjadi Rp21.960.

Lonjakan biaya daya turut memengaruhi persepsi publik terhadap perang. Survei YouGov menunjukkan sekitar 57% penduduk Amerika menilai keputusan pemerintahan Trump melanjutkan perang merupakan langkah nan keliru. Sentimen tersebut berpotensi menjadi beban politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.

Selain itu, persediaan senjata AS juga mulai tergerus. Menurut CSIS, sedikitnya empat dari tujuh jenis amunisi paling canggih nan digunakan Washington telah menghabiskan sekitar separuh stoknya sejak fase awal perang.

Pengisian kembali persediaan diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, meski pemerintah telah mendorong peningkatan produksi industri pertahanan. Di saat nan sama, perang juga telah menewaskan 14 personel militer AS dan menyebabkan 414 lainnya terluka hingga 14 Juli.

Ini Kata Analis

Profesor Hubungan Internasional dari Australian National University, Alam Saleh, menilai tekanan ekonomi tidak bakal cukup memaksa Iran menyerah.

"Ekonomi Iran berjuntai pada produksi dalam negeri dan telah memperkuat nyaris 47 tahun di bawah sanksi. Iran tidak siap membikin kesepakatan apa pun selain nan menjamin keamanannya. Apa pun tekanan ekonominya, Iran tidak bakal berkompromi," ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (17/7/2026).

Sementara itu, master keamanan International Crisis Group Brian Finucane mengatakan kekhawatiran terbesar Washington bukan hanya perang melawan Iran, melainkan kesiapan menghadapi potensi bentrok lain di masa depan.

"Tingkat konsumsi senjata krusial seperti rudal pencegat Patriot dan rudal jelajah Tomahawk sangat tinggi. Persenjataan ini bisa saja dibutuhkan untuk kemungkinan kontingensi militer dengan China," katanya.

Saleh menilai perang berkepanjangan sama-sama merugikan kedua negara. Namun, menurutnya, AS menghadapi akibat reputasi nan lebih besar.

"China dan Rusia memandang bahwa AS tidak bisa mengatasi Iran dengan mudah. Ini menunjukkan militer AS mempunyai keterbatasan dalam menghadapi kekuatan menengah seperti Iran," pungkasnya.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya