Jakarta, CNBC Indonesia - Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di Amerika Serikat (AS) dilaporkan kembali melonjak tajam seiring dengan kian memanasnya bentrok militer antara AS dan Iran. Eskalasi perang nan meluas tersebut turut memicu guncangan pada pasar finansial dunia dan mengerek nilai minyak mentah dunia.
Mengutip laporan Al Jazeera, Senin (20/7/2026), nilai rata-rata bensin konsumen di AS menembus nomor US$4 (sekitar Rp72.000) per galon (3,78 liter), naik signifikan dari pekan sebelumnya nan sebesar US$3,87 per galon. Lonjakan ini mencatatkan kenaikan nilai bensin selama dua pekan berturut-turut di AS, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan daya akibat perang.
Ketegangan geopolitik nan kembali membara pasca-runtuhnya kesepakatan gencatan senjata telah mendorong kenaikan nilai minyak referensi dunia. Minyak mentah jenis Brent sempat melesat hingga menyentuh level US$ 91,42 per barel, sebelum kemudian bergerak melandai tipis di kisaran US$ 88,04 per barel sementara West Texas Intermediate (WTI) sempat meroket ke level tertinggi sejak 12 Juni di posisi US$ 85,39 per barel.
Anjloknya lampau lintas kapal tanker di Selat Hormuz-yang dalam kondisi normal menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia-menjadi pemicu utama lonjakan nilai tersebut. Data Kpler menunjukkan bahwa hanya ada 30 kapal nan berani melintasi Selat Hormuz sepanjang 17 hingga 19 Juli sedangkan data LSEG mencatat pergerakan kapal kian terbatas pada akhir pekan dengan hanya delapan kapal melintas pada hari Sabtu dan empat kapal pada hari Minggu.
Kondisi jalur perairan vital tersebut kian terancam oleh dorongan Iran terhadap golongan Houthi di Yaman untuk memblokade rute pelayaran Laut Merah jika serangan AS terhadap prasarana daya Iran terus berlanjut. Ancaman keamanan ini telah terbukti nyata setelah perusahaan tangker asal Yunani, Dynacom Tankers, melaporkan bahwa dua kapal miliknya dihantam proyektil saat berlayar di dekat pantai Oman.
"Harga daya nan lebih tinggi tetap menjadi konsentrasi utama lantaran re-eskalasi ketegangan di Timur Tengah menambah kekhawatiran bahwa info inflasi pekan lampau nan lebih dingin dari perkiraan mungkin tidak cukup untuk mencegah The Fed meningkatkan suku kembang akhir tahun ini," kata Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures David Meger mengenai akibat geopolitik terhadap kebijakan moneter.
Eskalasi perang nan belum mereda ini turut memicu dinamika di pasar finansial AS. Indeks berbasis teknologi Nasdaq tercatat menguat 0,6%, S&P 500 naik 0,2%, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,25%. Di sisi lain, nilai emas spot nan biasa menjadi aset kondusif (safe haven) justru terkoreksi tipis 0,1% ke level US$ 4.011,96 per ons, di saat imbal hasil (yield) obligasi AS naik 0,5% dan indeks dolar AS menguat 0,1%.
(tps/sef)
Addsource on Google

15 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·