ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan drone dalam skala besar pada Minggu (12/7/2026). Teheran memperluas serangannya ke sejumlah akomodasi militer AS di area Teluk, sekaligus menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis nan menjadi urat nadi perdagangan daya dunia.
Gelombang serangan terbaru menjadi eskalasi paling serius dalam rangkaian tindakan saling balas antara Washington dan Teheran. Iran terus berupaya menegaskan kontrolnya atas pelayaran di Selat Hormuz, sementara militer AS meningkatkan operasi untuk menjaga kebebasan navigasi di area tersebut.
Serangan Iran kali ini juga menjangkau Qatar, negara nan selama ini berkedudukan sebagai mediator pembicaraan gencatan senjata dan belum pernah menjadi sasaran serangan sejak April. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA), nan terakhir diserang pada awal Mei, mengatakan sistem pertahanan udaranya sukses menghadang rudal dan drone nan diluncurkan Iran.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya kembali melancarkan serangan terhadap Iran mulai pukul 17.00 waktu Pantai Timur AS pada Minggu.
Operasi tersebut dilakukan "untuk terus mengurangi keahlian Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal jual beli nan melintas secara bebas di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM di platform media sosial X.
Presiden AS Donald Trump juga menegaskan operasi militer terhadap Iran tetap terus berlangsung.
"Kami sedang menghajar mereka," kata Trump dalam wawancara singkat melalui telepon dengan Reuters pada Minggu sore.
Bandar Abbas Diguncang Ledakan
Media Iran melaporkan serangan rudal dan sejumlah ledakan terjadi di sekitar pelabuhan Bandar Abbas nan menjadi letak akomodasi militer utama Iran di Selat Hormuz, termasuk Pulau Qeshm nan berada di dekatnya.
Meningkatnya kekerasan tersebut semakin memperkecil kesempatan keberhasilan kesepakatan sementara antara AS dan Iran nan ditandatangani bulan lalu. Kesepakatan itu sebelumnya dirancang untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang melalui negosiasi lanjutan selama 60 hari.
Dalam sepekan terakhir, Trump apalagi telah menyatakan dirinya menganggap gencatan senjata tersebut telah berakhir, meski tetap membuka kesempatan bagi pembicaraan lebih lanjut.
Adapun perang nan dimulai sejak serangan udara campuran AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lampau telah mengguncang stabilitas area Teluk. Iran beberapa kali menyerang negara-negara nan menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, sementara blokade efektif Teheran terhadap Selat Hormuz telah mendorong lonjakan nilai daya bumi dan memperparah tekanan inflasi global.
Kenaikan nilai energi, terutama bensin, juga dinilai menjadi persoalan sensitif secara politik bagi Trump menjelang pemilu Kongres AS pada November mendatang.
Iran Perketat Kontrol Selat Hormuz
Iran sebelumnya berupaya membangun sistem permanen untuk memungut biaya terhadap kapal-kapal nan melintasi Selat Hormuz. Sebelum perang pecah, jalur tersebut dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Teheran juga memperingatkan seluruh kapal agar tidak melintasi selat tersebut tanpa memperoleh izin dari pemerintah Iran.
Pada Sabtu malam, Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran itu setelah melepaskan tembakan peringatan nan mengenai sebuah kapal nan disebut melintas melalui rute tanpa izin. Sehari kemudian, Iran mengeklaim kembali melumpuhkan kapal kedua.
Sementara itu, India melaporkan seorang warganya lenyap setelah sebuah kapal kontainer GFS Galaxy diserang di lepas pantai Oman. Pemerintah Oman mengatakan sebanyak 23 awak kapal sukses diselamatkan.
Qatar kemudian mengimbau seluruh kapal, termasuk kapal rekreasi, kapal nelayan hingga jet ski, menghentikan seluruh aktivitas pelayaran.
Otoritas Selat Teluk Persia nan baru dibentuk Iran pada Minggu menyatakan lampau lintas melalui Selat Hormuz saat ini tidak memungkinkan. Menurut lembaga tersebut, kondisi itu disebabkan "pergerakan terlarangan terbaru pasukan militer Amerika Serikat di kawasan."
Otoritas itu menyatakan izin pelayaran bakal kembali diterbitkan "segera setelah stabilitas dan ketenangan dipulihkan."
AS: Iran Tidak Menguasai Selat Hormuz
Di sisi lain, pemerintah AS menegaskan pasukannya tetap berada di area guna menjamin kebebasan navigasi internasional.
Washington, nan pada Selasa lampau mencabut izin penjualan minyak mentah Iran sebagai respons atas serangan sebelumnya terhadap kapal-kapal dagang, menyebut tindakan Iran sebagai corak "agresi, intimidasi, ancaman, dan deklarasi sepihak."
Pemerintah AS juga membantah klaim Iran mengenai penguasaan penuh atas Selat Hormuz.
"Iran tidak menguasai selat tersebut. Lalu lintas pelayaran tetap berjalan," tegas pemerintah AS.
Joint Maritime Information Center nan dipimpin Angkatan Laut AS kembali mengingatkan bahwa meski ancaman keamanan tetap sangat tinggi, jalur pelayaran pengganti di bagian selatan dekat Oman tetap dapat digunakan untuk lampau lintas dua arah.
Pada Sabtu, CENTCOM mengatakan militer AS telah menghantam 140 sasaran militer Iran. Secara keseluruhan, lebih dari 300 sasaran telah diserang dalam tiga malam terakhir. Menurut CENTCOM, operasi itu dilakukan "untuk mengurangi keahlian Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial nan melintasi selat secara bebas."
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah kota pelabuhan dan seorang perwira militer Iran dilaporkan tewas.
Iran Balas Serang Basis AS
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim sukses menghancurkan pusat komando dan pengendalian serta hanggar drone di Yordania nan merupakan sekutu AS. Iran juga mengaku menyerang letak radar milik AS, sistem peluncur roket di Kuwait, akomodasi pendukung kapal induk serta pusat pengisian bahan bakar militer AS di Oman.
Selain itu, Teheran menyatakan telah menghancurkan pusat pemeliharaan jet tempur dan akomodasi komando militer di Qatar. Qatar menyatakan tiga orang, termasuk seorang anak-anak, mengalami luka akibat pecahan proyektil nan jatuh setelah serangan Iran.
Pemerintah Qatar menegaskan Iran "bertanggung jawab penuh secara hukum" atas serangan tersebut.
UEA mengatakan pihaknya mendeteksi ancaman rudal di luar wilayah negaranya. Bahrain melaporkan sukses mencegat sejumlah serangan udara Iran, sementara Yordania mengonfirmasi adanya serangan rudal dan Oman menyatakan menjadi sasaran serangan drone.
Militer Kuwait kemudian melaporkan adanya kerusakan akibat serangan, termasuk sebuah pekerja nan terluka setelah sebuah anjungan pengeboran minyak menjadi sasaran.
Pemerintah Oman juga memanggil Duta Besar Iran untuk menyampaikan protes atas serangan drone di dua wilayahnya. Kedutaan Besar AS di Oman turut mengimbau seluruh penduduk negaranya nan berada di Duqm dan Musandam agar berlindung di tempat.
Di tengah memanasnya konflik, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengeluarkan peringatan keras kepada Washington melalui akun X.
"Era kesepakatan sepihak telah BERAKHIR. Kami sudah memperingatkan kalian: tepati janji kalian alias bersiap menanggung konsekuensinya. Kenyataan sekarang sedang mengetuk pintu," tulis Qalibaf.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·