Perang AS-Iran Memanas: Saling Serang di Selat Hormuz dan Pangkalan Yordania

5 hari yang lalu 10
 Saling Serang di Selat Hormuz dan Pangkalan Yordania Ilustrasi.(Magnific)

KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak pada Kamis (16/7/2026) setelah kedua negara terlibat dalam tindakan saling serang nan sengit. Pertempuran ini berpusat di jalur vital Selat Hormuz, memicu kekhawatiran dunia meskipun mediator Pakistan menyerukan dimulai kembali pembicaraan damai.

Eskalasi terbaru ini terjadi hanya satu bulan setelah penandatanganan kesepakatan pembukaan nan semestinya mengakhiri bentrok nan pecah sejak Februari lalu. Namun, gencatan senjata tersebut runtuh seiring dengan serangan udara masif AS nan dibalas dengan rudal balistik oleh Teheran.

Saling Balas Serangan Udara dan Rudal

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan dua gelombang serangan rudal balistik ke pangkalan udara AS di Yordania. Teheran mengeklaim serangan ini merupakan jawaban atas serangan Amerika nan menghantam area dekat rumah sakit kanker anak di Ahvaz, Iran barat daya.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa rumah sakit tersebut kudu dievakuasi dan pasien dipindahkan ke pusat medis lain. Juru bicara kementerian luar negeri, Esmaeil Baqaei, mengecam tindakan tersebut sebagai tindakan biadab. Saksi mata di Ahvaz melaporkan mendengar belasan ledakan intens nan mengguncang kota.

Di sisi lain, Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa pasukannya menghantam sasaran militer Iran di beberapa lokasi, termasuk Bandar Abbas dan Pulau Qeshm. Serangan ini bermaksud melumpuhkan keahlian Iran dalam menakut-nakuti pelayaran internasional di Selat Hormuz. Centcom juga menargetkan situs pertahanan pesisir dan rudal jelajah di Pulau Tunb Besar.

Blokade Selat Hormuz dan Ancaman Infrastruktur

Selat Hormuz, nan merupakan jalur krusial bagi pasokan minyak dan gas dunia, kembali menjadi titik panas. Iran telah memblokade selat tersebut dan menyatakan tidak bakal membukanya sampai agresi AS berakhir. Sebagai respons, Amerika Serikat juga memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras melalui Fox News, menakut-nakuti bakal menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan. "Minggu depan bakal menjadi sangat jelek bagi mereka," ujar Trump.

Menanggapi ancaman tersebut, markas militer Iran memperingatkan bahwa jika AS merealisasikan ancamannya, seluruh prasarana di area tersebut bakal dihancurkan di bawah pukulan baja angkatan bersenjata Iran.

Dampak Regional:

  • Kuwait & Bahrain: Kuwait mencegat drone Iran, sementara Bahrain mengaktifkan sirine serangan udara.
  • Irak: Pasukan Kurdi di Erbil menjatuhkan delapan drone bermuatan peledak nan menargetkan konsulat AS.
  • Korban Jiwa: Pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 30 orang tewas akibat serangan AS sejak pekan lalu.

Diplomasi di Ambang Kehancuran

Pakistan, melalui ahli bicara instansi luar negerinya Tahir Andrabi, terus mendorong semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan melanjutkan pembicaraan teknis berasas nota kesepahaman bulan lalu. Namun, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan kesepakatan tersebut tidak lagi mempunyai makna jika Iran tidak mendapatkan faedah nyata darinya.

Di tengah pertempuran, terdapat sedikit titik terang diplomatik ketika Trump mengonfirmasi pembebasan penduduk negara AS, Dena Karari, nan ditahan di Iran sejak Desember 2024. Trump menyebut pembebasan ini sebagai "isyarat niat baik" dari Iran, meskipun perihal itu belum bisa meredam dentuman meriam di Teluk. (AFP/I-2)

Selengkapnya