Perang Iran Jadi Bumerang Trump, AS Kehabisan Rudal Andalan

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Persediaan rudal utama militer Amerika Serikat (AS) terus menyusut seiring memanasnya kembali bentrok dengan Iran. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi kesiapan Washington menghadapi potensi perang lain, termasuk jika terjadi bentrok dengan China maupun Korea Utara.

"Jika perang bersambung dengan laju seperti lima hari terakhir, persediaan rudal bakal semakin terkuras sehingga menciptakan tingkat akibat baru nan lebih tinggi, khususnya di area Indo-Pasifik," ujar analis pertahanan Center for Strategic and International Studies (CSIS) sekaligus mantan kolonel Korps Marinir AS, Mark Cancian, seperti dikutip CNN International, Senin (13/7/2026).

Menurut para analis, pada fase awal bentrok nan dikenal sebagai Operasi Epic Fury, militer AS menghabiskan ribuan rudal presisi jarak jauh serta rudal pertahanan udara untuk menghadapi serangan Iran. Michael O'Hanlon dari Brookings Institution menegaskan kondisi stok amunisi sekarang jauh dari ideal.

"Tidak diragukan lagi persediaan senjata lebih rendah dari nan kami inginkan," katanya.

Analisis CSIS menunjukkan bahwa hingga pertempuran besar dengan Iran mereda pada April lalu, Pentagon telah menghabiskan sedikitnya separuh stok pencegat rudal balistik THAAD, nyaris separuh rudal pertahanan udara Patriot, serta sekitar 30% rudal jelajah Tomahawk. CNN sebelumnya juga mengonfirmasi perkiraan tersebut melalui sejumlah sumber nan mengetahui info internal Departemen Pertahanan AS.

Meski gencatan senjata sempat memberikan ruang bagi Pentagon untuk menghemat persediaan, keahlian mengisi kembali stok tetap sangat terbatas. Cancian mengatakan Pentagon saat ini hanya menerima sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru setiap bulan, sementara tidak ada pengiriman rudal THAAD nan dijadwalkan sepanjang 2026. Berdasarkan kalkulasi CSIS, diperlukan sedikitnya tiga tahun untuk mengembalikan stok ke tingkat sebelum perang.

Peneliti senior American Enterprise Institute, Elaine McCusker, memperkirakan proses pemulihan persediaan amunisi bakal berjalan lama.

"Jangka waktu pengisian kembali amunisi sebagian besar bakal diukur dalam hitungan tahun, sekitar dua hingga lima tahun untuk sebagian besar jenis persenjataan," ujarnya.

Senada, master pengadaan pertahanan John Ferrari menyebut hingga sekarang Kongres belum mengalokasikan biaya unik untuk mengganti rudal nan telah digunakan sejak perang dimulai.

Pemerintahan Presiden Donald Trump telah meminta tambahan anggaran kepada Kongres untuk menutup biaya bentrok Iran, namun usulan tersebut diperkirakan menghadapi pembahasan nan sulit. Di sisi lain, Pentagon menyatakan tengah mempercepat ekspansi kapabilitas industri pertahanan. Trump juga mengaktifkan Defense Production Act pada Juni guna memangkas halangan izin dan mempercepat produksi rudal.

"Departemen secara garang mengejar penemuan terbaik Amerika untuk meningkatkan produksi dalam skala besar sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok," kata seorang pejabat Pentagon.

Namun Cancian menilai kebijakan tersebut hanya bakal memberikan akibat terbatas dalam jangka pendek lantaran peningkatan kapabilitas produksi tetap memerlukan waktu.

AS juga berupaya mengurangi beban produksinya dengan memberikan lisensi kepada negara mitra, seperti Jerman dan Ukraina, untuk memproduksi rudal Patriot di dalam negeri. Meski demikian, proses tersebut tidak berjalan cepat.

Jepang memerlukan sekitar tiga tahun untuk membangun akomodasi produksi Patriot, sementara Jerman hingga sekarang belum memproduksi rudal tersebut meski proyeknya telah dimulai sejak 2022.

Meski Pentagon menegaskan militer AS tetap mempunyai keahlian penuh untuk menjalankan seluruh operasi nan diperintahkan Presiden, para analis memperingatkan bahwa pengurasan stok rudal secara terus-menerus dapat mengikis daya tangkal Negeri Paman Sam dalam jangka panjang.

O'Hanlon menilai keahlian pencegahan terhadap China maupun Korea Utara memang belum melemah saat ini, namun dia mengingatkan bahwa "pada titik tertentu" efektivitas deterrence bisa menurun jika persediaan senjata terus terkikis.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya