Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat

4 jam yang lalu 1

loading...

Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews

Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII

SEJARAH mengajarkan satu perihal nan sederhana bahwa kekuatan besar jarang dikalahkan oleh musuhnya. Kekuatan tersebut lebih sering tersandung oleh kepercayaan bahwa kekuasaan tidak mempunyai batas. Hal inilah nan sedang dialami oleh Donald Trump ketika membawa Amerika Serikat (AS) terjebak dalam rawa perang di Iran.

Donald Trump memasuki Gedung Putih dengan sebuah janji sederhana, ialah mengakhiri perang-perang tanpa akhir (endless wars), mengembalikan kejayaan Amerika Serikat dengan semboyan Make America Great Again (MAGA), dan memulihkan doktrin perdamaian melalui kekuatan (peace through strength). Namun, ketika lembar-lembar sejarah itu mulai ditulis, justru perang dengan Iran nan tampaknya bakal menjadi penanda paling kuat dari legacy kebijakan luar negerinya.

Ironinya bukan terletak pada perang Iran itu sendiri. Sejarah AS memang tidak pernah betul-betul jauh dari perang. Ironinya adalah bahwa setelah berbulan-bulan eskalasi militer, tujuan strategis Washington justru menyusut. Amerika Serikat sekarang tidak lagi berbincang tentang kemenangan besar, tetapi sekadar berambisi keadaan kembali seperti sebelum perang dimulai.

Dalam Aspen Security Forum pekan lalu, mantan Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyampaikan gambaran nan sangat realistis. Menurutnya, keberhasilan Amerika sekarang cukup diukur dari dua hal: Selat Hormuz kembali terbuka tanpa pungutan dari Iran, dan program nuklir Teheran dibatasi sebagaimana kesepakatan nuklir era Barack Obama. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung ironi nan dalam.

Di sinilah paradoks besar kebijakan luar negeri Trump. Kekuatan militer memang bisa menghancurkan instalasi dan prasarana Iran. Namun, dia tidak selalu bisa mengubah kalkulasi politik lawannya. Perang modern semakin menunjukkan bahwa kemenangan bukan lagi soal siapa nan mempunyai peledak paling besar, tetapi siapa nan bisa mengendalikan akibat setelah peledak itu dijatuhkan.

Iran memahami logika itu dengan tepat. Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah urat nadi daya dunia. Hampir seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat sempit itu. Dengan memberlakukan pungutan atas kapal-kapal nan melintas, Teheran sedang berupaya mengubah pengetahuan permukaan bumi menjadi instrumen politik.

Selengkapnya