Perang Kelar Langsung Bikin Harga BBM Turun? Tak Semudah Itu

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan pesawat nirawak Ukraina ke Rusia serta serangan berkali-kali di area Teluk Persia telah memicu gangguan destruktif pada kapabilitas penyulingan minyak global. Konflik militer nan kian memanas antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran ini membikin pasar bahan bakar bumi menghadapi tekanan pasokan nan sangat parah.

Mengutip CNBC International, Jumat (6/8/2026), krisis penyulingan akibat perang ini membikin nilai bensin diprediksi bakal tetap meroket tajam pada musim gugur mendatang. Tren nilai selangit ini diperkirakan bakal terus bersambung tanpa henti meskipun nilai minyak mentah secara dunia mulai menunjukkan tanda-tanda stabil.

Kepala Analisis Minyak Bumi di GasBuddy, Patrick De Haan, menyebut bahwa pengemudi di AS bisa menghadapi rekor nilai bensin pada Hari Buruh. Rekor tersebut berpotensi pecah jika Washington dan Teheran tidak segera mencapai kesepakatan nan pasti dan stabil mengenai jalur perairan Selat Hormuz.

"Harga sempat mencetak rekor Hari Buruh sebesar US$3,83 (Rp68.645) per galon pada tahun 2012," papar Patrick.

Para pengendara mobil saat ini tercatat kudu bayar sekitar US$4,06 (Rp72.767) per galon untuk mengisi bahan bakar harian mereka. Angka tersebut memang telah turun dari level tertinggi tahun 2026 sebesar US$4,56 (Rp81.728), namun nyatanya tetap 36% lebih mahal dibandingkan nilai sebelum AS dan Israel mulai menyerang Iran.

Patrick memproyeksikan bahwa nilai bahan bakar semestinya bisa sedikit melunak pada musim gugur seiring dengan melemahnya permintaan akibat aspek musiman. Akan tetapi, krisis dan kekurangan kapabilitas penyulingan dunia dapat mengakibatkan bensin menjadi sangat mahal dan tidak wajar untuk periode waktu tersebut.

Chief Operating Officer Valero, Gary Simmons, turut menyoroti akibat kerusakan nan timbul dari perang Iran dan Ukraina terhadap prasarana energi. Ia menyebut bentrok bersenjata nan mematikan tersebut telah mematikan beragam akomodasi kilang dengan total kapabilitas mencapai sekitar lima juta barel per harinya.

Wakil Presiden Eksekutif Pemasaran di Phillips 66, Brian Mandell, juga mengamini adanya pengetatan esensial nan luar biasa pada sektor penyulingan minyak.

"Fundamental penyulingan sangat ketat dan makin ketat dengan adanya masalah di Rusia dan Timur Tengah," tutur Brian.

CEO ExxonMobil, Darren Woods, menjelaskan bahwa krisis penyulingan inilah nan membikin bahan bakar tetap mahal meskipun nilai minyak mentah sesungguhnya telah anjlok. Ia menyebut hambatan penyulingan pada masa sekarang telah menciptakan sebuah keterputusan nyata antara nilai minyak mentah dunia dan nilai nan kudu dibayar penduduk di pompa bensin.

"Itulah salah satu argumen kenapa kita tidak memandang nilai produk turun saat nilai minyak mentah turun, lantaran ada keterputusan ini di pasar," ungkap Darren.

Harga minyak AS tercatat telah ambruk sekitar 10 persen pada pekan ini untuk diperdagangkan di kisaran US$76 (Rp1,3 juta) per barel setelah Presiden Donald Trump menyinggung potensi kesepakatan dengan Iran. Meskipun nilai minyak bumi hanya naik 14 persen sejak pecahnya perang, nilai bensin satuan justru telah melonjak hingga 36 persen melampaui nilai awal.

Di tengah krisis pasokan nan menyiksa ini, perusahaan penyulingan justru meraup untung berlipat dobel lantaran mereka beraksi dengan kapabilitas penuh demi memenuhi sisa permintaan. Margin untung antara biaya minyak mentah dan nilai jual produk, alias nan sering dikenal sebagai crack spread, dilaporkan telah melonjak melewati nomor US$70 (Rp1,2 juta).

"Jika Anda mempunyai kilang, Anda bakal menjalankannya sekuat tenaga," ucap Patrick.

Pendapatan Valero pada kuartal kedua dilaporkan telah melonjak lebih dari 400% hingga menyentuh nomor US$3,7 miliar (Rp66,31 triliun). Sementara itu, untung bersih Marathon Petroleum dan Phillips 66 masing-masing juga meroket pesat lebih dari 300% menjadi US$5,1 miliar (Rp91,4 triliun) dan US$3,8 miliar (Rp68,1 triliun).

Fasilitas kilang di sepanjang Pantai Teluk AS dilaporkan mendapat untung besar dari lancarnya impor minyak mentah Venezuela dan pengabaian patokan pengiriman dari Undang-Undang Jones. Patrick menyebut kelonggaran birokrasi tersebut pada dasarnya membikin para penyuling Pantai Teluk sekarang dapat mengekspor bensin dan diesel ke mana saja secara bebas.

"Kilang-kilang di pesisir Louisiana dan Texas itu mempunyai pilihan paling banyak, dan tidak ada tempat nan lebih baik untuk menjadi kilang di dunia," kata Patrick.

Darren memaparkan bahwa sekitar tiga juta barel kapabilitas penyulingan per hari di Timur Tengah saat ini tidak dapat tersedia akibat kacaunya gangguan di wilayah Hormuz. Rentetan serangan pesawat nirawak Ukraina ke sejumlah kilang Rusia juga dinilai telah sukses melumpuhkan sekitar satu juta barel kapabilitas tambahan per harinya.

"Ukraina sangat efektif dalam melumpuhkan kilang minyak Rusia," tegas Patrick.

CEO Marathon Petroleum, Maryann Mannen, menyoroti tantangan berat serta lambatnya proses pemulihan kilang-kilang minyak di seluruh area Timur Tengah.

"Setiap gangguan lebih lanjut di wilayah tersebut dapat menyebabkan hambatan pasokan berevolusi lebih lanjut," tutur Maryann.

Darren juga mencatat kebenaran bahwa China sekarang telah berakhir mengekspor, nan secara langsung semakin menghilangkan pasokan beberapa juta barel per hari dari pasar global. Sementara itu, Brian dari Phillips 66 memperkirakan bahwa total ada sekitar tujuh juta barel per hari kapabilitas kilang nan kudu turun minum di wilayah Asia dan Timur Tengah.

Brian memproyeksikan bahwa bakal ada lebih banyak minyak mentah nan menganggur daripada jumlah pasokan produk akhir jika Selat Hormuz suatu saat dibuka kembali.

"Kilang-kilang tersebut, tergantung pada kerusakan dan keahlian untuk mendapatkan suku cadang, bakal menyantap waktu nan cukup lama untuk kembali beraksi daring," pungkas Brian.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya