Percepat Pengembangan Bioetanol, PNRE Siapkan Jurus Multi-Feedstock

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyiapkan strategi multi-feedstock, multi-generation, dan multi-region untuk mempercepat pengembangan bioetanol nasional. Langkah ini dilakukan untuk mendukung program pencampuran bioetanol pada BBM jenis bensin.

Direktur Utama PT Pertamina NRE John Anis mengatakan pengembangan bioetanol tidak dapat hanya mengandalkan satu jenis bahan baku. Menurutnya, kesiapan molases alias tetes tebu sebagai bahan baku utama saat ini tetap jauh dari kebutuhan andaikan Indonesia menerapkan campuran bioetanol hingga E10 maupun E20.

"Keberhasilan dari B50, tentu saja kita juga mau copy keberhasilan itu untuk di etanol. Nah, hanya memang perjalanannya cukup panjang tapi kami tidak menyerah di situ. Strategi kami di sini adalah ada tiga strategi: satu adalah multi-feedstock, nan kedua adalah multi-generation, nan ketiga adalah multi-region," kata John dalam aktivitas Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan, molases menjadi bahan baku nan paling matang lantaran merupakan produk samping industri gula sehingga tidak bersaing langsung dengan kebutuhan pangan. Namun, kapabilitas produksinya tetap terbatas.

Di sisi lain, kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan jauh lebih besar. Setidaknya untuk mendukung penerapan campuran E10, kebutuhan bioetanol diperkirakan mencapai 10 juta hingga 20 juta kiloliter per tahun, sehingga pasokan dari molases saja tidak bakal mencukupi.

Oleh karena itu, Pertamina NRE mulai memperluas sumber bahan baku bioetanol. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dalam pembangunan akomodasi bioetanol berbasis molases di area Pabrik Gula Glenmore Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dengan kapabilitas produksi sekitar 33 ribu kiloliter per tahun.

"Kita bekerja sama dengan SGN nan bakal menyuplai molasses-nya berproduksi 33.000 kiloliter per tahun sebagai nan pertama berbasis molasses dan ini kita bakal tambah lagi sekitar lima minimal. Jadi ada satu mungkin alias dua tambahan di Jawa Timur, satu di Jawa Tengah, satu di Lampung, dan dua juga di Sulawesi," ujarnya.

Selain molases, Pertamina NRE juga mulai mengembangkan bioetanol berbahan baku singkong melalui reaktivasi pabrik di Lampung nan mempunyai kapabilitas sekitar 50-60 ribu kiloliter per tahun.

Pihaknya juga mengembangkan sweet sorghum berbareng PTPN di Lampung. Bahkan, Pertamina NRE tengah menguji varietas sorgum hasil riset Jepang nan diklaim mempunyai produktivitas hingga tiga kali lebih tinggi.

"Kemudian nan second generation juga kita coba, itu dari batangnya sorgum tadi. Tadi jusnya kita pakai ambil di second generation, nan batangnya second generation. Kenapa kita lari ke second generation? Karena nan di first generation kan nilai feedstock-nya bersaing dengan makanan kadang-kadang dan itu mahal. Itu nan membikin tidak ekonomis. Nah, sedangkan jika second generation itu dari waste. Sehingga feedstock-nya bisa murah," kata dia.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya