Peresmian Kawasan Berikat PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) di Kawasan International Green Industrial Park (IGIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (22/7) lalu, oleh Zaky Firmansyah, Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Sulawesi Bagian U(MI/Lina Herlina)
MENTERI Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, berbareng Duta Besar Korea Selatan Mr. Yoon Soon-gu, secara resmi meresmikan Kawasan Berikat PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) di Kawasan International Green Industrial Park (IGIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (22/7).
Peresmian ini berjalan berbarengan dengan seremoni penempatan peralatan utama proyek BNSI, ialah Autoclave HPAL generasi terbaru berkapasitas 1.868 meter kubik, nan terbesar di dunia, sehingga menjadi jantung pengolahan nikel menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan kapabilitas produksi 90.000 ton logam nikel per tahun.
Kolaborasi Tiga Negara
Proyek berbobot investasi US$1,845 miliar alias sekitar Rp28 triliun ini merupakan hasil kerja sama internasional nan dipimpin investasi Ecopro dari Korea Selatan, didukung teknologi inti dari GEM Tiongkok, serta sumber daya nikel dari PT Vale Indonesia.
Kehadiran Kawasan Berikat nan difasilitasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memberikan insentif fiskal signifikan berupa pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor (PDRI) untuk peralatan mesin dan bahan baku pendukung.
"Manfaat dari Kawasan Berikat ialah adanya pembebasan biaya masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor. Ini sesuatu nan bisa menarik investasi khususnya di IGIP. Kedepan memang ini ada beberapa area industri nan ada di Morowali, ini nan terbaru dan mengusung temanya adalah green ecology," ujar Zaky Firmansyah, Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara.
Dukungan Penuh
Acara peresmian dihadiri sederet pejabat tinggi, antara lain Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido, Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf, Presiden Komisaris PT Vale Indonesia Fauzambi S. Multhazar, Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto, serta Kepala KPPBC TMP C Morowali Muhariadi Angkat.
Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto menegaskan, kelebihan struktur biaya proyek ini bisa memberikan ketahanan ekonomi di tengah perubahan nilai nikel dunia.
"Keunggulan struktur biaya ini memberikan ketahanan ekonomi proyek nan luar biasa dalam menghadapi gejolak pasar komoditas," sebutnya.
Sementara itu, Chairman GEM Co., Ltd., Professor Xu Kaihua, menyebut BNSI sebagai bukti kerjasama strategis Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam membangun area industri nikel nol karbon pertama di dunia.
"Dengan menggabungkan sumber daya Indonesia, teknologi GEM, dan kelebihan industri baterai EcoPro, kami mau mendukung percepatan transisi daya global," ujar Xu Kaihua.
Dampak Ekonomi
Setelah beraksi penuh, BNSI diproyeksikan menghasilkan nilai ekspor sekitar US$1,5 miliar alias Rp22,5 triliun per tahun, menciptakan sekitar 5.000 lapangan kerja baru, serta memasok bahan baku nikel nan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar tiga juta kendaraan listrik setiap tahun.
"Ini merupakan kerjasama nan sangat baik sekali. Tentunya kami dari pemerintah khususnya di fiskal bakal mendorong lebih baik lagi agar investasi ini makin meningkat. Di tahun 2026 terjadi peningkatan 56% dibandingkan semester nan sama di tahun 2025. Ini berfaedah pertumbuhan ekonominya meningkat khususnya di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara," urai Zaky Firmansyah.
Karenanya, Bea Cukai menyatakan komitmennya memberikan asistensi berkepanjangan untuk memastikan kepatuhan terhadap prosedur pemasukan barang, tata kelola Kawasan Berikat, hingga proses ekspor mendatang.
"Ini bakal kami asistensi terus gimana kepatuhan terhadap pemasukan barang, kemudian penggunaan area berikat itu sendiri, kemudian ekspor. Ini menjadi concern kami agar lebih tertata lagi sesuai dengan moto daripada perusahaan ini," tegas Zaky.
Saat ini, tercatat sudah 59 perusahaan beraksi di area Morowali, menunjukkan pertumbuhan industri nan terus meningkat di Sulawesi Tengah.
Kehadiran akomodasi Kawasan Berikat di IGIP diyakini bakal semakin memperkuat daya tarik investasi di area industri terbaru di Morowali nan mengusung konsep green ecology (ekologi hijau).
GEM berbareng para mitra juga berkomitmen mengembangkan IGIP sebagai area industri hijau kelas bumi nan mengintegrasikan industri daya baru, manufaktur cerdas, ekonomi sirkular, serta pusat penemuan teknologi metalurgi ramah lingkungan. (Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·