Kebakaran rimba dahsyat melanda area Gironde, Prancis. Armada udara, petugas pemadam, dan relawan lokal terus berpacu memadamkan api nan kian membara.(Viory)
TIGA pesawat Canadair terbang melintas di udara, menghadirkan pemandangan dan bunyi nan menggelegar. Pesawat-pesawat tersebut terbang dalam susunan ketat sebelum menukik tajam ke arah asap hitam pekat. Masing-masing melepaskan muatan lebih dari 1.000 galon air ke atas kobaran api, disusul helikopter nan menyemprotkan cairan pemadam berwarna merah.
Saat asap sedikit mereda, petugas pemadam kebakaran bergegas masuk ke dalam rimba dengan melangkah kaki untuk mengendalikan titik api baru. Musuh terbesar bagi ribuan petugas dan relawan nan telah berjuang melawan kebakaran rimba selama sepekan ini adalah kemunculan kembali titik api (flare-up). Bencana ini telah memaksa puluhan ribu penduduk lokal dan visitor melarikan diri.
Dengan suhu udara mencapai 40 derajat Celsius, kemunculan api secara tiba-tiba menjadi ancaman nan terus mengintai. Hanya dalam kurun 20 menit, satu titik api sukses dikendalikan, tetapi kobaran baru mendadak muncul di sisi jalan nan berseberangan.
"Pergi sekarang!" teriak seorang petugas dengan nada tegang saat melintas. Asap tebal nan kian pekat mematikan ruang gerak, menegaskan bahwa area tersebut memang tidak lagi aman.
Skala kebakaran nan melanda area Gironde di barat daya Prancis ini begitu masif. Tanah di area ini mengering menjadi seperti bubuk, tertutup ribuan buah pinus dan daun-daun kering. Kondisi bentuk lingkungan inilah nan menjelaskan kenapa api dapat merambat dengan sangat cepat.
Di tengah pemindahan massal, beberapa penduduk memilih memperkuat untuk menjaga tempat tinggal mereka. Pierre Alexandre, seorang penduduk lokal, menceritakan momen ketika polisi memintanya mengungsi. "Ketika [polisi] mengatakan saya kudu pergi, saya bilang tidak!" kenangnya.
Pusat kebakaran berasal dari area rimba persis di samping rumahnya. Pierre Alexandre menyuruh istri dan putrinya mengungsi, sementara putra remajanya nan berumur 19 tahun, Clement, memilih tinggal bersamanya.
"Saya katakan padanya: 'Hati-hati lantaran di depan kita adalah mimpi buruk, kita tidak tahu apa nan bakal terjadi,'" ujar Pierre Alexandre. Kendati demikian, dia mengakui tidak bakal bisa memadamkan api sendirian. "Tidak, kami bukan pemadam kebakaran," tambahnya.
Bagi para petugas pemadam profesional, upaya mengendalikan kebakaran ini bak permainan kejar-kejaran nan mematikan. Operasi ini lebih berfokus pada penanganan ketat daripada pengobatan total.
Di belakang para profesional, berdiri tentara relawan nan mengendarai kendaraan menuju ancaman untuk mendistribusikan air. Salah satunya adalah Hugo (26), nan pulang dari Bali demi menjaga rumah ibunya di Desa Arès.
"Jika ini sudah terlambat, setidaknya kita sudah mencoba," ujar Hugo tegas saat mengisi ulang tangki airnya. "Lima puluh ribu hektar telah hancur, apa nan bakal kita katakan kepada anak-anak kita nanti?"
Relawan lainnya, Maëlys, 23, seorang perawat nan wajahnya tertutup jelaga, juga turun langsung membantu.
"Ini mengerikan, ini rumah kami, ini wilayah kami, ini rimba kami, tempat kami tumbuh besar, tempat family kami tinggal, tempat kami hidup, ini mengerikan. Saya merasa sangat sedih," tutur Maëlys. "Di pagi hari saya bekerja di rumah sakit, dan di sore hari saya di rimba membantu."
Bantuan pasukan pemadam kebakaran sekarang telah berdatangan dari beragam penjuru Prancis. Mereka terus menyiram tanah dan vegetasi secara intensif, sebuah proses nan dikenal dengan istilah noyer alias "Penebalan Air", guna mencegah pergerakan api lebih lanjut. Meski relatif terkendali, kebakaran di Gironde dipastikan tetap jauh dari kata padam. (BBC/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·