Perkuat Kedaulatan Vaksin Nasional, Bio Farma Luncurkan Bio-TCV

3 hari yang lalu 8
Perkuat Kedaulatan Vaksin Nasional, Bio Farma Luncurkan Bio-TCV Biofarma meluncurkan Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat.(Dok.Biofarma)

PENCEGAHAN demam tifoid di Indonesia memerlukan pendekatan terpadu nan menghubungkan kebijakan kesehatan masyarakat, penguatan regulasi, pembuktian klinis, rekomendasi pekerjaan medis, serta ekspansi akses nan bertanggung jawab. Dalam konteks tersebut, kehadiran Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat produksi Bio Farma, menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pencegahan penyakit menular di Indonesia.

Demam tifoid tetap menjadi tantangan bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara nan endemis. Penyakit nan disebabkan oleh kuman Salmonella typhi ini berangkaian erat dengan sanitasi, akses air bersih, keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta tata laksana medis nan tepat. Karena itu, vaksinasi tifoid perlu dipahami sebagai bagian dari strategi pencegahan nan komprehensif, bukan sebagai satu-satunya intervensi.

Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi Sabtu (18/7) menyampaikan, pengembangan Bio-TCV tidak  hanya dilihat dari sisi kesiapan produk, tetapi juga dari ekspansi faedah bagi kesehatan masyarakat  melalui prinsip Availability, Accessibility, Affordability, dan Acceptance. Bio Farma memastikan Bio-TCV tersedia secara berkepanjangan melalui penguatan kapabilitas produksi nasional sebagai fondasi kemandirian vaksin Indonesia. 

"Kami juga berupaya memperluas akses dengan memperkuat pasar nasional serta menjajaki support terhadap Program Imunisasi Nasional agar semakin banyak masyarakat memperoleh perlindungan dari tifoid. Dari sisi keterjangkauan, kami  berkomitmen untuk menghadirkan vaksin berbobot dengan nilai kompetitif agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia. Sementara itu, penerimaan terus kami bangun melalui kerjasama dengan organisasi pekerjaan kesehatan, akomodasi pelayanan kesehatan, akademisi serta edukasi berbasis bukti ilmiah agar faedah vaksinasi tifoid semakin dipahami dan dipercaya ,” paparnya.

Pengembangan vaksin nasional memerlukan support sistem pengawasan nan kuat, andal dan berbasis standar ilmiah. Peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menjadi krusial dalam memastikan bahwa produk vaksin nan dikembangkan dan dipasarkan telah melalui pertimbangan terhadap aspek mutu, keamanan dan khasiat.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyampaikan bahwa BPOM mendukung penemuan dan pengembangan vaksin nasional sepanjang memenuhi standar izin nan berlaku. BPOM mendukung pengembangan penemuan vaksin nasional melalui pendampingan regulatori nan tetap mengedepankan pemenuhan standar mutu, keamanan, dan khasiat. 

"Status BPOM sebagai WHO Listed Authority untuk kegunaan izin produk vaksin menunjukkan bahwa sistem izin vaksin Indonesia telah 
memperoleh pengakuan internasional. Hal ini menjadi pondasi krusial untuk memperkuat kepercayaan terhadap produk vaksin nan dikembangkan di dalam negeri, sekaligus mendukung daya saing industri vaksin nasional,” terangnya.

PENCEGAHAN TIFOID
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Andi Saguni menyampaikan pencegahan tifoid perlu dilakukan secara komprehensif melalui penguatan upaya promotif, preventif, tatalaksana kasus, serta vaksinasi sesuai dengan kebijakan nan berlaku. Demam tifoid tetap menjadi perhatian dalam pengendalian penyakit menular di Indonesia. 

Penanggulangan tifoid perlu dilakukan secara komprehensif mulai dari upaya menciptakan lingkungan nan kondusif seperti perbaikan sanitasi, keamanan pangan, edukasi masyarakat, lampau penemuan awal dan penegakan diagnosa nan akurat, tata laksana medis nan tepat, surveilans nan kuat serta pencegahan termasuk vaksinasi sesuai dengan rekomendasi dan kebijakan nan berlaku. 

"Terkait kemungkinan vaksin tifoid dalam program imunisasi nasional, tentu sesuai dengan ketentuannya, pemerintah kudu melakukan kajian nan menyeluruh, mulai dari info epidemiologi dan beban penyakit tifoid dibandingkan penyakit menular lainnya, rekomendasi ahli, faedah bagi kesehatan masyarakat, kesiapan program, sampai kesiapan sumber daya,” tuturnya.

Pemerintah kata Andi, kudu melakukan kajian nan menyeluruh, mulai dari info epidemiologi dan beban penyakit tifoid dibandingkan penyakit menular lainnya, rekomendasi ahli, faedah bagi kesehatan masyarakat, kesiapan program, sampai kesiapan sumber daya.

REKOMENDASI PAPDI
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI , Sukamto Koesnoe,  mengatakan rekomendasi PAPDI didasarkan pada bukti ilmiah nan menunjukkan bahwa Bio-TCV mempunyai profil keamanan dan imunogenitas nan baik pada populasi dewasa di Indonesia. PAPDI merekomendasikan vaksinasi tifoid konjugat bagi orang dewasa usia 18 tahun ke atas, khususnya bagi golongan nan mempunyai akibat tinggi terpapar alias menularkan jangkitan tifoid. 

Rekomendasi ini didasarkan pada bukti ilmiah nan menunjukkan bahwa vaksin mempunyai profil keamanan nan baik, bisa membangkitkan respons imun nan kuat, dan berpotensi memberikan perlindungan nan lebih panjang. 

"Kami berambisi vaksinasi menjadi bagian dari upaya preventif nan terintegrasi berbareng edukasi, sanitasi, higiene dan penyediaan air bersih untuk mengurangi beban demam tifoid di Indonesia,” ucapnya.

Bio-TCV telah melalui proses pengembangan nan panjang, mulai dari kerja sama riset dan transfer teknologi, uji klinis, pertimbangan regulator, hingga persetujuan pemasaran. Proses pengembangan produk mencakup transfer teknologi pada 2013, studi praklinis, uji klinis fase I, II, dan III, hingga registrasi BPOM pada 20 Agustus 2023. Uji klinis fase III melibatkan 3.071 subjek dengan rentang usia 6 bulan hingga 60  tahun.(E-2)

Selengkapnya