Pertamina Optimalkan Potensi dan Limbah Sawit untuk Substitusi Impor BBM

16 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendukung sasaran Pemerintah untuk menekan nomor impor Bahan Bakar Minyak (BBM) guna memperkuat ketahanan daya nasional. Langkah strategis tersebut difokuskan melalui optimasi pemanfaatan kelapa sawit beserta produk turunannya.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza menyatakan bahwa bioenergi berbasis sawit merupakan solusi terukur untuk menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan daya domestik nan saat ini tetap ditopang oleh impor minyak mentah dan produk BBM.

"Jawabannya ada di depan mata kita. Dengan sumber daya CPO (Crude Palm Oil) dan Tandan Kosong Sawit, kita kudu bisa mengubahnya menjadi energi," ujar Oki dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).

Lebih lanjut, Oki memaparkan tiga potensi utama bioenergi dalam menjaga ketahanan daya nasional. Pertama, kesiapan biomassa domestik nan sangat melimpah. Kedua, peran krusial dalam mendukung ketahanan daya sekaligus mempercepat dekarbonisasi di sektor transportasi. Ketiga, bioenergi bisa menggerakkan roda ekonomi sirkular nan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Pertamina tidak bisa melangkah sendiri dalam transisi daya ini. Skema nan kudu dibangun adalah memperkuat seluruh ekosistem biofuel, mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi di kilang, hingga pengedaran ke masyarakat," jelas dia.

Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui penerapan program biodiesel B50, nan saat ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan penggunaan biodiesel terbesar di dunia. Jaringan distribusinya pun menjangkau 86 dari 121 Terminal BBM milik Pertamina di seluruh Indonesia.

Di sisi lain, untuk menekan impor bensin, Pertamina juga tengah membangun akomodasi pengembangan bioetanol di Glenmore dengan kapabilitas 30 ribu kiloliter per tahun. Langkah ini dilakukan guna mengejar sasaran pencampuran E10 sesuai peta jalan (roadmap) Pemerintah.

Di samping CPO, Pertamina mulai melirik potensi besar nan belum tergarap maksimal, ialah Tandan Kosong Sawit (TKS). Dengan potensi volume mencapai sekitar 25 juta ton per tahun, TKS dinilai mempunyai nilai tambah strategis untuk diolah menjadi bioetanol.

"Tantangan kita sekarang ada di hilirisasi. Bagaimana TKS ini bisa kita pecah menjadi glukosa lampau menjadi bioetanol. Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah nan sia-sia," jelas Oki.

Fokus pengembangan tersebut juga diikuti dengan peningkatan kapabilitas prasarana kilang hijau. Saat ini, Pertamina tengah mendukung pembangunan Dedicated Green Refinery di Cilacap.

Sebelumnya, perusahaan juga telah mengaplikasikan teknologi coprocessing secara komersial di Kilang Cilacap, dan tengah melakukan tahap uji coba untuk Kilang Balongan serta Dumai.

Oki menegaskan bahwa transisi menuju kemandirian daya memerlukan ekosistem nan solid, mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi di kilang, hingga pengedaran hilir.

"Ini semua memerlukan kerja sama. Tidak bisa hanya mengandalkan industri. Namun kudu ada sinergi antara pemerintah, perbankan, akademisi, dan masyarakat. Tujuannya satu, mewujudkan kemandirian daya dan mengurangi beban devisa negara," tutupnya.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya