Pertamina Paparkan Ambisi RI Menuju BBM Bensin Dicampur Etanol 20%

4 hari yang lalu 13

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mendorong sasaran penerapan campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dengan etanol 20% alias E20. Tidak lain, perihal itu untuk memperkuat kemandirian daya nasional dan mengurangi beban impor BBM.

CEO Pertamina NRE John Anis memaparkan ambisi tersebut di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto pada aktivitas Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Ia menekankan, pihaknya siap mendukung sasaran pemerintah dalam pengembangan bioetanol secara luas.

"Jadi mungkin Bapak bertanya kenapa Pertamina ada di sini Pak, tapi Bapak lihat bahwa kami mau berkontribusi di bioenergi Pak. Jadi kami juga mau terima kasih Pak nan B50, selamat, kami juga punya cita-cita dan semangat nan sama untuk E20 Pak," kata John dalam paparan di hadapan Presiden Prabowo pada aktivitas Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, nan juga ditayangkan secara daring, Jumat (17/7/2026).

Saat ini Pertamina sendiri baru menerapkan bauran bioetanol 5% alias E5 di beberapa wilayah Jakarta dan Jawa Timur. John menyebut Indonesia perlu mengejar ketertinggalan dari negara lain seperti India nan sudah mengimplementasikan E20.

"India udah E20 Pak, jadi kita nggak mau kalah Pak, kita kudu kejar mereka. Kita baru E5 Pak. Jadi ini E5 di 170 outlet kami di Jawa Timur dan di Jakarta," jelasnya.

Bahan baku bioetanol tersebut berasal dari tetes tebu alias molase. Selain tebu, pihaknya juga mulai mengembangkan bahan baku lain dari singkong, jagung, hingga sorgum.

"Tapi kami juga mengembangkan dari multi-feedstock Pak. Jadi bisa dari aren di Sulawesi Utara tempat Bapak juga banyak Pak di sana, kemudian bisa dari singkong, jagung, dan sorgum seperti nan Bapak sampaikan kemarin Pak cita-citanya," tambahnya.

Perusahaan memproyeksikan butuh sekitar 20 hingga 30 pabrik bioetanol baru dalam dua tahun ke depan untuk memenuhi kebutuhan nasional. Hal ini dinilai krusial lantaran produksinya bisa tersebar ke beragam wilayah untuk memakmurkan petani lokal.

"Jadi impor daripada uangnya ke luar Pak, kasih petani Pak," tegas John saat merespons pertanyaan Prabowo mengenai akibat kebijakan tersebut terhadap pengurangan impor.

Untuk merealisasikan sasaran tersebut, Pertamina menekankan pentingnya izin mandatori serta kepastian nilai bahan baku. Hal itu diperlukan agar ekosistem bioetanol di Indonesia dapat segera berjalan.

"Ada dua Pak, mandatori sama kepastian feedstock Pak dan harganya Pak, demikian," tandasnya.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya