Donald Trump dan Mohammed bin Salman.(Al Jazeera)
PEMERINTAHAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan bakal segera mengumumkan kesepakatan besar nan memungkinkan Arab Saudi mengembangkan program nuklir sipil. Menurut laporan media AS nan mengutip sejumlah pejabat, pengumuman resmi diperkirakan bakal dilakukan pada Rabu (22/7) waktu setempat.
Kesepakatan ini diprediksi berbobot miliaran dolar bagi AS. Perusahaan-perusahaan Amerika kemungkinan besar bakal terlibat dalam pembangunan akomodasi produksi uranium nan diperkaya. Meskipun uranium tersebut ditujukan sebagai bahan bakar pembangkit listrik, teknologi ini juga mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi senjata nuklir.
Kekhawatiran Israel dan Aktivis Non-Proliferasi
Rencana ini memicu reaksi keras dari para master nuklir dan mantan pejabat di Israel, sekutu utama AS di Timur Tengah. Mereka menyuarakan kekhawatiran bahwa kesepakatan ini pada akhirnya dapat membuka jalan bagi Arab Saudi untuk mempunyai senjata nuklir sendiri.
Selain Israel, para aktivis non-proliferasi nuklir dunia juga menyatakan keprihatinan serupa. Fokus utama mereka adalah mencegah penambahan jumlah negara nan mempunyai akses terhadap persenjataan nuklir di seluruh dunia.
Ketentuan Pengayaan Uranium
Berdasarkan laporan media, ketentuan dalam perjanjian ini memungkinkan Arab Saudi untuk melakukan pengayaan uranium di tanah mereka sendiri setelah melalui studi berbareng dengan AS. Hal ini berbeda dengan kesepakatan tahun 2009 antara AS dan Emirat Arab ialah Emirat dilarang memproduksi bahan bakar sendiri dan kudu menerima beragam pembatasan ketat.
Wall Street Journal melaporkan bahwa kesepakatan ini telah disetujui oleh Presiden Trump dan bakal bertindak selama 30 tahun. Jika setelah studi berbareng AS keberatan dengan aktivitas pengayaan di Saudi, kerajaan tersebut dilarang melakukannya secara berdikari alias dengan mitra asing lain selama 10 tahun.
Ketegangan Regional dan Hubungan dengan Iran
Isu nuklir ini muncul di tengah bentrok berkepanjangan antara AS-Israel dengan Iran. Pada 2018, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menyatakan kepada CBS News bahwa negaranya tidak berencana mempunyai senjata nuklir, tetapi menegaskan, "Tanpa ragu, jika Iran mengembangkan peledak nuklir, kami bakal mengikuti langkah tersebut sesegera mungkin."
Menariknya, laporan New York Times menyebut bahwa kesepakatan nuklir ini tidak dijadikan syarat bagi Arab Saudi untuk melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, meskipun normalisasi tersebut telah lama menjadi aspirasi presiden-presiden AS terdahulu.
Catatan: Rencana ini selanjutnya bakal dikirim ke Kongres AS. Meski Partai Republik menguasai kedua bilik di Kongres, sejumlah personil legislatif dari kedua kubu diperkirakan bakal tetap mengusulkan keberatan terhadap kesepakatan ini. (BBC/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·