Perusahaan di RI Makin Terjepit Dapat Tekanan Bertubi-tubi

2 jam yang lalu 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengamat ekonomi dalam Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengungkapkan akibat dari kenaikan suku kembang referensi Bank Indonesia (BI) alias BI Rate membikin sektor riil semakin tertekan Alasannya, BI rate membikin tingkat kembang angsuran perbankan semakin tinggi.

Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal & Moneter CORE Indonesia Akbar Susamto mengatakan sektor riil sebelumnya sudah sangat tertekan lantaran kondisi dunia nan dilanda ketidakpastian, ditambah industri-industri juga semakin susah bersaing lantaran permintaan rendah. 

"Sektor riil itu sebelumnya sudah menghadapi banyak tekanan, mulai dari kenaikan biaya produksi lantaran ketidakpastian kondisi global, permintaan lesu lantaran sudah tidak ada momen-momen hari besar setelah April 2026, ditambah BI meningkatkan suku bunga, semakin tertekan itu sektor riil," kata Akbar dalam forum Core Midyear Economic Review, Rabu (29/7/2026).

Alasan kenaikan BI Rate turut menambah tekanan ke sektor riil, menurutnya, ialah lantaran kenaikan BI Rate dapat meningkatkan tingkat kembang angsuran perbankan. Sedangkan sektor riil erat kaitannya dengan angsuran perbankan, sehingga dengan angsuran perbankan nan semakin tinggi, maka banyak pelaku upaya nan mulai menahan ekspansi.

"Ketika BI Rate dinaikkan, maka biasanya tingkat suku kembang di perbankan juga bakal naik. Kalau tingkat suku kembang di perbankan naik, maka berfaedah bagi sektor riil, biaya untuk mendapatkan pendanaan itu menjadi lebih mahal. Karena lebih mahal mungkin sebagian merasa enggak bisa lagi menjangkaunya. Karena itu maka mungkin menunda pembelian. Nah, itu menekan sektor riil tadi," terang Akbar.

"Pengusaha, tadinya mau investasi, beli mesin, beli alat, beli macam-macam, beli barang-barang modal alias apapun nan lain gitu, alias mau investasi awal sebagian, ketika tingkat suku kembang naik, mereka jadi menahan, lantaran terasa terlalu mahal gitu. Apa nan terjadi? Tertunda investasinya dan seterusnya, ya ekspansi ditunda," lanjut Akbar.

Meski demikian, Akbar mengatakan akibat kenaikan suku kembang tidak terjadi secara langsung lantaran perbankan tetap kudu menyesuaikan perjanjian pembiayaan nan melangkah serta menjaga hubungan dengan nasabah. Namun, berasas pengalaman sebelumnya, kenaikan suku kembang pada akhirnya tetap diikuti perlambatan pertumbuhan kredit.

Tekanan terhadap sektor riil, lanjutnya, juga berpotensi memperbesar tantangan di pasar tenaga kerja. Menurut Akbar, persoalan ketenagakerjaan telah muncul sebelum kenaikan BI Rate akibat transformasi digital, efisiensi perusahaan, serta tekanan pada sejumlah sektor usaha.

"Sektor riil semakin tertekan, dan ini bakal memberikan tekanan juga pada tenaga kerja di Indonesia. Memang info tingkat pengangguran di Februari 2026 menurun, ialah ke 4,68%, tetapi itu tidak mencerminkan kebenaran bahwa banyak tenaga kerja nan beranjak dari sektor umum ke sektor informal," jelas Akbar.

Akbar menilai keputusan BI meningkatkan suku kembang merupakan pilihan nan susah lantaran kudu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar rupiah dan keberlangsungan aktivitas sektor riil.

"Bank Indonesia dihadapi posisi sulit, satu sisi perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi di sisi lain kenaikan suku kembang memberi tekanan terhadap sektor riil. Dampak ke depan sangat berjuntai pada efektivitas kebijakan tersebut," ujar Akbar.

(chd/mij) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya