Peternak Teriak, Harga Ayam Naik Lagi Efek MBG-Masalah Ini Belum Beres

4 hari yang lalu 18

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak mulai menunjukkan tren kenaikan setelah sempat ambruk dalam dua bulan terakhir. Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya menjadi berita baik bagi peternak lantaran biaya produksi juga ikut membengkak. Sementara itu, nilai telur justru tetap lesu dan berada di bawah biaya pokok produksi.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi mengatakan, nilai ayam mulai bergerak naik sejak Senin (13/7/2026) kemarin. Namun demikian, nilai nan ada saat ini tetap berada di kisaran apalagi di bawah biaya pokok produksi peternak.

"Harga ayam sudah mulai bergerak naik, mulai hari Senin 13 Juli 2026 setidaknya kerugian para peternak berkurang. Saat ini nilai ayam hidup (di peternak) di kisaran Rp20.000 per kg, dibandingkan dengan Juni nan Rp13.000 (per kg). Artinya ada kenaikan. Biaya pokok peternak saat ini Rp20.000-Rp22.000 per kg," kata Sugeng kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/7/2026).

"Namun kenaikan nilai ayam hidup juga diikuti naiknya nilai anak ayam nan semula Rp4.000 an per ekor, saat ini harganya Rp6.500 per ekor, sementara nilai pakan juga naik Rp1.000-an per kg dari awal Mei," sambungnya.

Sugeng mengatakan, kondisi tersebut tentunya tetap menjadi tantangan nan menyulitkan para peternak.

"Kondisi ini nan menyulitkan para peternak, di satu sisi nilai ayam naik, di sisi nan lain sarana produksinya juga naik, nan berefek pada naiknya biaya-biaya produksi," ujar Sugeng.

Menurut dia, membaiknya nilai ayam tidak lepas dari mulai berkurangnya pasokan di pasar. Salah satunya didorong oleh meningkatnya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), meski produksi ayam secara keseluruhan tetap tergolong tinggi.

"Suplai nan berlebih di dua bulan terakhir, terkurangi dengan adanya demand (permintaan) MBG betul, tetapi produksi juga memang tetap lebih, ini nan terjadi di 2 bulan terakhir. Upaya para pelaku untuk memotong ayam-ayamnya di rumah pangkas ayam terutama pelaku-pelaku nan besar juga berpengaruh terhadap suplai," katanya.

Di sisi lain, Sugeng mengungkapkan kenaikan nilai bahan baku produksi, terutama pakan dan anak ayam alias day old chick (DOC), tetap menjadi keluhan utama peternak. Ia menyambut baik imbauan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, agar produsen pakan tidak kembali meningkatkan nilai selama Juli.

"Tingginya harga-harga input pakan dan DOC, nan jadi keluhan peternak direspon Dirjen PKH dengan himbauan, agar di bulan Juli ini tidak ada kenaikan pakan. Semoga pabrik pakan ternak mengindahkan himbauan tersebut, sekalian berupaya agar nilai ayam naik, setidaknya di atas biaya pokok peternak dan menuju ke HAP (harga referensi pembelian) nan besarannya Rp25.000 per kg," ucap dia.

Bagaimana dengan Harga Telur?

Sementara itu, Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional (APLN) Musbar Mesdi mengatakan, kondisi peternak ayam petelur hingga sekarang juga belum membaik. Rendahnya nilai jual telur dinilai tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat nan tetap terbebani biaya hidup.

"Harga jual komoditas kita parah gara-gara biaya hidup harian masyarakat berat sekali. Harga telur di tingkat peternak Rp21.000-Rp22.000 per kg, sementara titik lunas dengan kondisi saat ini, alias biaya pokok produksinya untuk ayam petelur Rp23.000-Rp24.000 per kg," kata Musbar dihubungi terpisah.

Senada dengan itu, Sugeng juga menyebut nilai telur di tingkat peternak hingga sekarang belum mengalami kenaikan. Padahal sebelumnya Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono sempat meminta agar nilai telur di tingkat peternak mencapai Rp24.000 per kg.

"Kalau telur, info nan saya terima nilai telur ayam di kandang tetap belum naik. Waktu itu kan diminta nilai di tingkat peternak Rp24.000 (per kg) oleh Wamentan, tetapi saat ini kan di posisi Rp22.000, kadang turun ke Rp20.000 an per kg," ujar Sugeng.

Harapan untuk Pemerintah

Untuk membantu keberlangsungan upaya peternak, terutama skala kecil, Sugeng berambisi pemerintah tidak hanya mengeluarkan imbauan kepada industri pakan, tetapi juga menyiapkan kebijakan nan dapat menekan biaya produksi.

Menurutnya, biaya pakan mencapai sekitar 70% dari total biaya pokok produksi. Karena itu, perubahan nilai tukar dolar dan nilai bahan baku seperti jagung maupun soybean meal (SBM) sangat sigap berakibat terhadap biaya nan kudu ditanggung peternak.

"Biaya pakan komposisinya 70% dari biaya pokok produksi. Sementara jika ada gejolak dolar dan lainnya, dengan serta merta nilai sigap naik, setidaknya di samping himbauan juga kudu dipikirkan upaya pemerintah untuk memberikan subsidi material pakan ke pelaku-pelaku nan kecil, alias peternak kecil. Karena nan terdampak, misal material jagung, soy bean meal (SBM) alias lainya sehingga biaya pokok produksi peternak bisa lebih rendah," jelasnya.

Selain subsidi bahan baku pakan, Sugeng juga berambisi pemerintah memperkuat penyerapan ayam dan telur melalui persediaan pangan nasional dengan melibatkan pelaku upaya besar. Menurutnya, langkah tersebut juga dapat dioptimalkan melalui program-program sosial pemerintah, termasuk penanganan stunting, sehingga nilai ayam dan telur lebih stabil sekaligus menjaga keberlangsungan upaya peternak kecil.

"Dari sisi hilirnya, serapan nan diinisiasi pemerintah dengan keterlibatan pelaku-pelaku besar, dan memaksimalkan persediaan pangan nasional layak untuk dikerjakan, termasuk penyelenggaraan program sosial penanggulangan stunting dengan daging ayam dan telur, bakal sangat membantu keberlangsungan bagi peternak kecil, dan pencapaian nilai ayam nan relatif stabil, sehingga tidak membingungungkan konsumen," pungkasnya.

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka Tinjau Program MBG di Wamena, Papua, Rabu (14/1/2026). (CNBC Indonesia/Halimatus Sa’diyah)Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka Tinjau Program MBG di Wamena, Papua, Rabu (14/1/2026). (CNBC Indonesia/Halimatus Sa’diyah) Foto: Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka Tinjau Program MBG di Wamena, Papua, Rabu (14/1/2026). (CNBC Indonesia/Halimatus Sa’diyah)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya