Piala Presiden

4 jam yang lalu 8
Piala Presiden Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

DALAM movie seri pendek Ronaldinho, the One and Only, ada satu penggalan cerita ketika bintang sepak bola asal Brasil itu diberhentikan secara tiba-tiba oleh Barcelona. Padahal, Ronaldinho-lah nan membangun kembali 'La Blaugrana' setelah lima tahun terpuruk untuk menjadi nan terbaik di Spanyol dan Eropa.

Ronaldinho kemudian memilih untuk berasosiasi dengan AC Milan. Salah satu klausul dari transfer nan dilakukan Milan adalah kudu mengikuti turnamen menjelang kejuaraan di Barcelona. Ada pertandingan persahabatan Barcelona melawan AC Milan.

Bintang Brasil itu awalnya menolak untuk ikut dalam pertandingan persahabatan tersebut. Ronaldinho tetap merasa sakit hati didepak Presiden Barcelona Joan Laporta hanya lantaran dianggap tidak disiplin. Namun, argumen kedua, dia takut bakal di-bully para pendukung Barca lantaran pemberitaan media nan negatif mengenai dirinya menjelang meninggalkan Barcelona.

Kapten kesebelasan Barcelona Carles Puyol secara unik menelepon Ronaldinho untuk datang ke Camp Nou. Sebagai orang nan merasakan peran besar Ronaldinho untuk mengembalikan kebesaran Barca, Puyol menjamin bahwa pendukung 'La Blaugrana' tidak bakal mem-bully, tetapi justru bakal berterima kasih lantaran tidak sempat ada aktivitas perpisahan dengan pemain Brasil nan brilian itu.

Ketika Ronaldinho masuk Camp Nou dengan menggunakan kostum AC Milan, 80 ribu penonton memang memberikan standing ovation. Mereka mengelu-elukan Ronaldinho sebagai pahlawan bagi klub asal Catalonia tersebut.

Para pemain Barca meminta Ronaldinho melakukan foto berbareng sebagai satu family Barca meski dia menggunakan kostum AC Milan. Sebelum pertandingan dimulai, Puyol menyerahkan trofi ucapan terima kasih kepada Ronaldinho.

Setelah pertandingan usai, pemain nan ikut membesarkan Lionel Messi itu memberikan salam hormat kepada 80 ribu penonton nan memberikan penghormatan tertinggi kepada seorang nan berjasa besar bagi kejayaan Barcelona. Sebuah perpisahan nan bagus dan semua orang mengakui bahwa Ronaldinho salah satu bintang sepak bola luar biasa dan mendapatkan semua piala tertinggi sepak bola mulai level Amerika Latin, Eropa, hingga dunia.

PERAN PENONTON

Apa pelajaran krusial nan bisa kita petik dari cerita di atas? Sepak bola adalah sebuah ekosistem. Pemain hanyalah satu dari ekosistem besar. nan lain adalah pengurus asosiasi sepak bola, pelatih, wasit, pengelola prasarana pertandingan, manajemen klub, manajemen kompetisi, sponsor, perusahaan penyedia peralatan, pemerintah, dan penonton.

Yang terakhir itu menjadi aspek nan tidak kalah menentukan. Penonton merupakan pihak nan membikin adrenalin pemain menjadi meningkat. Penonton nan membikin seorang pemain bisa mengeluarkan keahlian terbaik dan produktivitas nan tidak terduga.

Tepuk tangan penonton membikin seorang pemain sepak bola merasa menjadi bintang nan diperhatikan. Bahkan dalam era digital seperti sekarang, komentar melalui media sosial menjadi pembakar semangat pemain untuk menjadi lebih baik.

Ronaldinho  mampu menjadi pemain nan genius, apalagi bisa membikin kapten kesebelasan Brasil di Piala Dunia 1994, Dunga, seperti tidak berkekuatan lantaran teriakan penonton. Betapa takutnya pemain sekelas Ronaldinho dicemooh penonton lantaran teriakan 80 ribu penonton bakal membikin keberanian menjadi kecil.

Di Piala Dunia 2026, nan paling ditakutkan FIFA adalah sunyi penonton. Presiden FIFA Gianni Ifantino bolak-balik mendekati Presiden AS Donald Trump agar melonggarkan izin masuk bagi datangnya pecinta sepak bola ke dalam stadion.

Piala Dunia tanpa penonton jelas merupakan malapetaka. Tanpa pemain ke-12, pertandingan bakal terasa basi. Para pemain pasti tidak terpancing untuk mengeluarkan keahlian terbaik. nan paling ditakutkqn FIFA, tanpa penonton, sepak bola bakal menjadi industri nan gagal. Tidak mungkin ada upaya US$9,6 miliar nan bisa didapatkan dari pergelaran Piala Dunia 2026 nan lalu.

ANOMALI

Sebuah anomali ketika kita menggelar turnamen Piala Presiden tanpa penonton. Padahal, sejak era Presiden Soeharto, turnamen Piala Presiden merupakan salah satu turnamen besar. Di sanalah perserikatan terbaik Indonesia beradu kekuatan untuk menjadi nan terbaik.

Fanatisme wilayah muncul untuk bisa mengungguli nan lain. Semua emosi tertumpahkan di lapangan hijau dan berhujung setelah wasit meniupkan peluit panjang. nan menang bakal berpesta, nan kalah bersiap untuk kembali di turnamen berikutnya. Itulah sejatinya sepak bola.

Karena menyandang nama 'presiden', pengelolaan kejuaraan Piala Presiden kudu dilakukan secara baik. Semua kudu dipersiapkan secara matang mulai waktu penyelenggaraan hingga gimana kejuaraan bisa menyuguhkan pertandingan nan berkualitas.

Kita layak bertanya, kenapa penyelenggaraan Piala Presiden 2026 bisa amburadul seperti sekarang? Bagaimana waktu kompetisinya bisa melangkah berbarengan dengan Piala AFF nan diikuti tim nasional Indonesia?

Semua kejuaraan sepak bola sudah teragendakan sejak setahun sebelumnya. Apakah penyelenggara Piala Presiden 2026 tidak pernah memandang agenda kejuaraan internasional ketika menetapkan agenda untuk turnamen nan mereka selenggarakan?

Lebih absurd lagi ketika pertandingan semifinal dan final diselenggarakan tanpa penonton. Alasannya, cemas terjadi bentrok antarpendukung lantaran empat tim nan lolos empat besar mempunyai pendukung nan fanatik.

Di seluruh dunia, sepak bola menjadi hidup lantaran mempunyai pendukung nan fanatik. Bahkan fanatisme itu tidak terbatas di kota tempat klub itu berada. Liverpool dan Manchester United, misalnya, pendukung mereka ada di seluruh bumi dan mereka fanatik.

Pendukung ekstrem itu sangat loyal kepada klub mereka. Setiap tahun ketika kostum resmi berganti, pendukung mereka langsung membeli. Itulah nan membikin industri sepak bola menjadi berkembang dan klub pun mendapat pembagian dari penjualan merchandise mereka.

Para pendukung ekstrem apalagi mau untuk membeli tiket tahunan di depan. Pendapatan itulah nan membikin klub sepak bola bisa mendapatkan pemasukan untuk bisa mengontrak pemain nan lebih dahsyat dan membawa klub mereka meraih juara.

Bahwa ada akibat bertemunya dua pendukung nan fanatik, di sanalah profesionalisme penyelenggara turnamen diuji. Harus ada pengaturan letak tempat berkumpul para pendukung dan pintu baik masuk maupun keluar nan terpisah. Pendukung kedua kesebelasan kudu diatur untuk tidak berjumpa dan diperintahkan untuk kembali ke kota asal mereka ketika pertandingan selesai.

Sepak bola Eropa pernah mengalami masa-masa gelap bentrok antarpendukung. Namun, mereka tidak lari, tetapi justru membikin pengaturan nan lebih baik. Hasilnya hooliganisme sepak bola di Eropa bisa menurun drastis dan tidak ada lagi korban jiwa akibat menonton pertandingan.

Kalau kita tidak bisa membangun ekosistem sepak bola nan sehat, jangan pernah kita bermimpi untuk bisa tampil di kejuaraan elite dunia. Pertemuan antarklub dengan para pendukung ekstrem tidak bakal terhindarkan sepanjang kejuaraan liga terus bergulir.

Apakah kemudian jawabannya adalah selalu menggelar pertandingan kejuaraan nan di stadion nan kosong melompong? Kita sedang dipertontonkan degradasi pengelolaan bukan hanya arena Piala Presiden, melainkan juga sepak bola nasional. Sungguh ironis!

Selengkapnya