panduk protes polusi udara dari pabrik penggilingan batu kapur dipasang penduduk di Jalan raya Cipatat-Padalarang, Bandung, Jawa Barat(MI/Depi Gunawan)
WARGA nan tinggal di sekitar area industri pengolahan kapur di Kabupaten Bandung Barat mengikuti pemeriksaan kesehatan untuk mengantisipasi akibat polusi debu kapur. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai tindak lanjut petunjuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi setelah peninjauan sejumlah pabrik di area tersebut.
Plt Kepala Puskesmas Jayamekar, Rendra Gustiawan mengatakan, terdapat 557 penduduk nan telah didata sebagai sasaran pemeriksaan. Pemeriksaan diprioritaskan bagi penduduk wilayah kerja Puskesmas Jayamekar di RW 19, Desa Padalarang.
"Hari ini kami memulai pemeriksaan kesehatan terhadap beberapa penduduk nan diindikasikan terdampak dari aktivitas beberapa pabrik nan kemarin ditinjau langsung oleh Bapak Gubernur," kata Rendra, Senin (27/7).
Pemeriksaan kesehatan ini ditargetkan rampung dalam waktu lima hari dengan maksimal pemeriksaan rontgen sekitar 100 orang setiap harinya.
Selain pemeriksaan kesehatan umum, petugas juga konsentrasi mendeteksi kemungkinan gangguan pernapasan nan berangkaian dengan aspek akibat paparan polusi.
"Yang terpenting adalah kami mau memandang apakah ada akibat dari polusi pabrik-pabrik kapur terhadap kesehatan warga. Karena itu, pemeriksaan difokuskan untuk mendeteksi indikasi maupun aspek akibat gangguan pernapasan," jelasnya.
Ia mengatakan, hasil pemeriksaan bakal ditelaah oleh Rumah Sakit Kesehatan Kerja Provinsi Jawa Barat. Hasilnya baru bakal keluar setelah seluruh proses pemeriksaan dan kajian selesai.
"Untuk hasilnya, saat ini belum bisa kami sampaikan lantaran tetap dalam proses pemeriksaan dan analisis. Nantinya hasil resmi bakal dikeluarkan oleh rumah sakit tersebut," ujarnya.
Paparan debu kapur dari aktivitas industri pengolahan kapur diduga menyebabkan sejumlah penduduk mengalami gatal-gatal, iritasi mata, hingga gangguan pada tenggorokan dan pernapasan, terutama nan dialami anak-anak.
"Anak saya sekarang kulitnya bintik-bintik sama mengeluhkan gatal-gatal, kulitnya melepuh. Kalau malam suka batuk," terang Rina Agustina, salah seorang penduduk nan tinggal di sekitar pabrik.
Rina menyebut, akibat pencemaran debu kapur sebenarnya sudah lama dirasakan warga. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kondisinya semakin parah. Tak hanya berakibat terhadap kesehatan, lanjut dia, debu kapur berwarna putih tersebut juga disebut telah masuk hingga ke dalam rumah warga.
"Dari dulu debu kapur ada. Cuma beberapa tahun belakang ini memang lebih parah," ucapnya. (H-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·