Askrindo akses asuransi bagi nelayan di Kota Sorong, Papua Barat Daya.(Dok.Askrindo)
DI tengah besarnya potensi sektor perikanan sebagai penggerak ekonomi pesisir, kebutuhan bakal pengelolaan akibat nan memadai kian menjadi perhatian. Menjawab perihal tersebut, PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) alias Askrindo memperkuat komitmennya melalui penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama dengan Syahbandar Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sorong guna memperluas akses asuransi bagi nelayan di Kota Sorong, Papua Barat Daya.
Penandatanganan kesepakatan dilakukan oleh Branch Manager Askrindo Sorong, Dian Herdiana, berbareng Syahbandar PPP Sorong, Sugiarto, serta disaksikan oleh perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jejeran Syahbandar, dan perwakilan golongan nelayan.
Direktur Bisnis Askrindo, Budhi Novianto, menjelaskan bahwa kerjasama ini merupakan langkah strategis untuk menjawab potensi besar sektor perikanan nan perlu diimbangi dengan penguatan mitigasi risiko.
“Melihat potensi sektor perikanan di Sorong nan terus berkembang, kami memandang perlu adanya penguatan mitigasi akibat nan lebih komprehensif bagi masyarakat nelayan. Melalui kerjasama ini, Askrindo datang untuk mendukung kebutuhan tersebut dengan memperluas akses asuransi nan relevan dan mudah dijangkau, sehingga nelayan dapat bekerja dengan lebih tenang, produktif, serta mempunyai ketahanan ekonomi nan lebih baik,” ujar Budhi.
Hal ini sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi Papua Barat Daya nan terus menunjukkan penguatan. Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Papua Barat Daya tumbuh 4,03% (c-to-c) pada 2025 dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp39,2 triliun (ADHB), nan ditopang oleh sektor-sektor riil, termasuk pertanian, kehutanan, dan perikanan.
PENGGERAK UTAMA EKONOMI
Di wilayah pesisir seperti Sorong, sektor perikanan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi. Hal ini tercermin dari aktivitas 749 kapal dengan volume pendaratan ikan mencapai 3,57 juta kilogram serta nilai produksi lebih dari Rp86,2 miliar pada 2025. Besarnya aktivitas tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan upaya nelayan tidak hanya ditentukan oleh potensi produksi, tetapi juga oleh keahlian dalam mengelola akibat nan menyertainya.
Lebih dari sekadar itu, kerja sama ini merupakan kelanjutan dari program sosialisasi nan telah dilaksanakan sebelumnya, nan memperkenalkan beragam solusi, mulai dari Personal Accident (PA), ASMIK Bahari untuk kapal, ASMIK Usahaku bagi pelaku upaya mikro, hingga ASMIK Rumahku untuk hunian. Pendekatan nan dilakukan tidak hanya berfokus pada penyediaan produk, tetapi juga pada penguatan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan risiko.
“Kami berupaya menghadirkan perlindungan nan menyeluruh bagi nelayan, tidak hanya untuk diri mereka, tetapi juga kapal, usaha, hingga tempat tinggal. Di saat nan sama, kami juga aktif melakukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat semakin memahami pentingnya perlindungan dalam menjalankan usahanya,” tambah Budhi.
Ke depan, penerapan kerja sama bakal difokuskan pada ekspansi literasi keuangan, penguatan pendampingan golongan nelayan, serta sinergi berkepanjangan dengan beragam pemangku kepentingan di sektor kelautan dan perikanan.
“Kami mau memastikan upaya ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat nelayan, sehingga mereka tidak hanya bisa mengembangkan usahanya, tetapi juga mempunyai fondasi perlindungan nan kuat dalam menghadapi beragam risiko. Dengan pendekatan nan berkelanjutan, kami optimistis sektor perikanan dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian daerah,” tutup Budhi.(E-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·