Potret Sekolah Pengungsi di Ujung Tanduk, Intimidasi Memuncak

1 jam yang lalu 3

Ujaran kebencian di Malaysia memaksa sedikitnya 9 sekolah Rohingya tutup. Banyak anak pengungsi kehilangan akses pendidikan lantaran takut intimidasi.

Para siswa di sebuah sekolah untuk pengungsi berperan-serta dalam aktivitas pembelajaran di tengah lonjakan ujaran kebencian daring nan menargetkan organisasi Rohingya, di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Juli 2026. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Para siswa mengikuti aktivitas belajar di sebuah sekolah pengungsi Rohingya di Kuala Lumpur, Malaysia, di tengah meningkatnya ujaran kebencian dan misinformasi nan menyasar organisasi mereka. Gelombang sentimen negatif tersebut memaksa sedikitnya sembilan sekolah pengungsi menghentikan operasionalnya di beragam wilayah, sehingga banyak anak Rohingya kehilangan akses pendidikan lantaran cemas menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Seorang siswa di sekolah untuk pengungsi berperan-serta dalam aktivitas pembelajaran di tengah lonjakan ujaran kebencian daring nan menargetkan organisasi Rohingya, di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Juli 2026.

Mengutip Reuters, Senin (27/7/2026), salah satu korban adalah Nur (12), seorang pengungsi Muslim Rohingya nan berakhir berguru sejak Juni setelah diancam dua laki-laki saat melangkah menuju kelas. Kelompok kewenangan asasi manusia dan para pendidik menyebut Nur hanyalah satu dari banyak anak Rohingya nan mengalami pelecehan dan ancaman hingga sekolah-sekolah pengungsi memutuskan menghentikan aktivitas belajar. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Seorang siswi dari organisasi Rohingya menunjukkan gambar dan catatan selama wawancara lantaran sekolahnya terpaksa ditutup di tengah lonjakan ujaran kebencian daring nan menargetkan organisasi tersebut, di Subang Jaya, Malaysia, 7 Juli 2026.

Aktivis organisasi Rohingya, Sharifah Shakirah, mengatakan anak-anak sekarang hidup dalam ketakutan akibat meningkatnya intimidasi. "Anak-anak sangat ketakutan hingga mereka takut keluar rumah," ujarnya. Menurutnya, akibat dari ancaman tersebut tidak bakal lenyap dalam waktu singkat dan berpotensi mengganggu masa depan pendidikan para pengungsi. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Para siswa di sebuah sekolah untuk pengungsi berperan-serta dalam aktivitas pembelajaran di tengah lonjakan ujaran kebencian daring nan menargetkan organisasi Rohingya, di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Juli 2026.

Pemeriksaan Reuters menunjukkan sedikitnya sembilan sekolah Rohingya di seluruh Malaysia telah ditutup setelah kampanye ujaran kebencian dan misinformasi di media sosial memicu pengawasan lebih ketat terhadap organisasi Rohingya. Kondisi ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai lemahnya pengawasan terhadap penyebaran konten di platform digital. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Ruang kelas kosong di sebuah sekolah nan terpaksa ditutup di tengah lonjakan ujaran kebencian daring nan menargetkan organisasi Rohingya, Malaysia, 7 Juli 2026.

Malaysia tidak mengakui Rohingya sebagai pengungsi resmi dan menganggap mereka imigran ilegal, meski sekitar 120.000 terdaftar di Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). Sentimen publik memburuk sejak pandemi Covid-19 akibat beragam tuduhan terhadap Rohingya. Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Lukanisman Awang Sauni menyebut masyarakat mulai merasa terbebani. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Selengkapnya