Prabowo Adopsi Kurikulum Internasional di Sekolah

1 jam yang lalu 6
Prabowo Adopsi Kurikulum Internasional di Sekolah Presiden Prabowo Subianto.(Dok. YouTube Sekretariat Presiden)

PRESIDEN Prabowo Subianto memastikan pemerintah bakal menggelontorkan investasi besar di sektor pendidikan sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat riset, inovasi, dan daya saing Indonesia. Langkah itu diambil setelah pemerintah mencermati beragam parameter nan menunjukkan kualitas pendidikan nasional tetap perlu ditingkatkan.

"Tapi ini investasi jangka panjang, kita koreksi diri kita sebagai bangsa, investasi kita di riset dan pengembangan sangat sedikit, jauh dari nan seharusnya. Ini koreksi kita. Ke depan kita bakal berupaya memperbaiki itu," kata Prabowo saat memberikan taklimat kepada 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan, Kamis (6/8).

Prabowo menegaskan, peningkatan kualitas pendidikan merupakan fondasi utama untuk melahirkan inovasi, penemuan, hingga paten nan dibutuhkan Indonesia agar bisa bersaing dengan negara lain. Karena itu, pemerintah tidak hanya bakal memperbaiki prasarana pendidikan, tetapi juga menyiapkan sistem nan bisa mencetak sumber daya manusia bergengsi dunia.

Menurutnya, pemerintah bakal merehabilitasi sekolah-sekolah, membangun sekolah unggulan bagi siswa terbaik, serta menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB) agar lulusannya mempunyai standar nan setara dengan pelajar terbaik dunia. Harapannya, mereka dapat melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas terbaik di bumi dan kembali membangun Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga membuka kesempatan kerja sama dengan beragam perguruan tinggi ternama bumi melalui skema kemitraan agar kualitas pendidikan tinggi nasional ikut meningkat.

Prabowo menjelaskan, keputusan memperbesar investasi pendidikan berangkat dari pendekatan nan mengedepankan kebenaran dan kajian ilmiah. Menurutnya, setiap kebijakan kudu didasarkan pada realitas, bukan sekadar asumsi.

"Nah, jika kita mendekati dengan langkah saintifik, rasional, jangan dengan langkah lain daripada rasional. Nanti kita bakal keliru. Rasional, sains, matematika, reality. Reality is science, reality is mathematics, jika dengan pola lain, itu sudah masuk ke ranah lain. Fakta. Jadi kadang-kadang kebenaran menyakitkan," ujarnya.

Salah satu kebenaran nan menjadi perhatian pemerintah adalah hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Prabowo mengakui keahlian membaca peserta didik Indonesia tetap berada di bawah sejumlah negara, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Jepang, Singapura, dan rata-rata negara OECD.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa komparasi tersebut kudu dilihat secara utuh. Indonesia mempunyai tantangan nan jauh lebih besar lantaran kudu mengelola sekitar 388 ribu sekolah nan tersebar hingga pegunungan, pulau-pulau terluar, dan wilayah terpencil. Kondisi itu berbeda dengan negara nan mempunyai wilayah dan jumlah masyarakat jauh lebih kecil.

Namun, menurut Prabowo, besarnya tantangan tersebut tidak boleh dijadikan argumen untuk tertinggal. Hasil PISA kudu diterima sebagai bahan pertimbangan agar Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan kembali meningkatkan kualitas pendidikan, seperti nan pernah dicapai pada periode 2003 hingga 2006 sebelum mengalami penurunan.

Untuk membiayai beragam program tersebut, Prabowo mengatakan pemerintah bakal mengandalkan hasil efisiensi anggaran. Dana bakal diperoleh melalui pemberantasan korupsi, praktik kecurangan, manipulasi transaksi, serta pembenahan tata kelola agar lebih efektif dan tepat sasaran. (Z-10)

Selengkapnya