Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto bicara mengenai komparasi tingkat literasi membaca hingga matematika di dunia, berasas hasil kajian Program for International Student Assessment (PISA) nan diselenggarakan OECD. Menurutnya tidak fair jika kondisi Indonesia dibandingkan dengan Singapura.
Hal ini diungkapkan saat Prabowo memberikan taklimat dalam pertemuan dengan 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Saat itu Prabowo memandang hasil kajian PISA tidak membuahkan hasil nan bagus untuk Indonesia.
"Fakta. Nah jadi kadang-kadang kebenaran menyakitkan. Katanya sekarang ada suatu survei, survei namanya PISA, P-I-S-A, di mana membandingkan kualitas pendidikan beragam negara. Kita termasuk tidak terlalu bagus, ya," kata Prabowo.
Dari hasil skor PISA 2022, Singapura muncul di puncak bumi untuk urusan matematika mencapai 575, jauh di atas patokan OECD 472. Begitu juga dengan skor literasi membaca dengan skor mencapai 543. Sedangkan Indonesia berada di poin 359 untuk skor literasi membaca.
Dia mengatakan skor literasi membaca Indonesia hanya sedikit berada di atas Filipina, dan berada di ibawah Thailand, Malaysia, Belanda, Vietnam, Jepang, dan Singapura.
"Di bawah rata-rata OECD, di bawah Jepang, di bawah Singapura," katanya.
Namun menurut Prabowo semestinya tidak terlalu memikirkan hasil dari kajian itu. Menurutnya persoalan pendidikan Indonesia dan Singapura tidak bisa dibandingkan secara langsung.
Pasalnya, Indonesia mempunyai luas wilayah nan dan jumlah masyarakat nan lebih besar dari Singapura. Dia memandang kerja nan dilakukan Menteri Pendidikan di Indonesia juga lebih berat dan tidak semua masyarakat bisa diperhatikan.
"Kalau Singapura saya nggak terlalu, nggak usah kita terlalu cemas kok, hanya negara (pendudukan) 5 juta kok, satu kota, ya kan," katanya.
"Kalau Menteri Pendidikan Singapura itu sebetulnya nggak bisa dibandingkan dengan Menteri Pendidikan Indonesia, ya kan. Indonesia punya 388.000 sekolah jika tidak salah, kelak dicek ya. Ada di tengah gunung, ada di pulau terluar, ada- Jadi gimana memberi pendidikan nan terbaik untuk Indonesia, jangankan Indonesia mungkin Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara alias Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, gimana dia kudu mengecek sekolah-sekolah di Miangas, di pulau-pulau terpencil," tambahnya.
Beda dengan Singapura, menurut Prabowo luasan wilayah di Singapura bisa membikin pejabat bagian pendidikannya bisa memantau perkembangan pendidikannya di beragam tempat.
"Singapura oke dia sukses di satu kota, ya kan. Menteri Pendidikan tinggal keliling seluruh Singapura mungkin 2 jam dia bisa cek nyaris semua sekolah di situ, terjangkau dari instansi dia. No, it's real, it's reality, it's reality. Dia berhasil, tapi kesulitan kita sangat besar. Ini tidak boleh argumen bahwa kita menilai bahwa kita tidak perlu kejar ketertinggalan. Ini saya sampaikan ini nan saya katakan realita," katanya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengingatkan bahwa hasil kajian PISA itu merupakan pandangan dari eksternal. Untuk itu dia meminta semua pihak untuk tidak takutu dan berkecil hati, meskupun kajian ini bisa menjadi bahan pengingat dan koreksi.
"Ya, jadi ini nan saya maksud, sudah kita terima ini sebagai katakanlah peringatan, koreksi, dan kita cari gimana kita bakal atasi. Kita pernah 2003-2006 cukup tinggi lenyap itu kita merosot. Ini menurut pandangan mereka ya, dalam membaca, dalam matematik dan sebagainya," tuturnya.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

55 menit yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·