Prass Rilis EP Free as a Bird: Jurnal Audio Perjalanan Menemukan Kebebasan

1 jam yang lalu 4
 Jurnal Audio Perjalanan Menemukan Kebebasan Prass(MI/HO)

SOLOIS asal Jatinangor, Jawa Barat, Prass, kembali menyapa pendengar musik tanah air melalui karya terbarunya berjudul Free as a Bird. Setelah sebelumnya memperkenalkan dua single pemanasan, Free as a Bird dan Pada Akhirnya Kita kan Mati, Prass secara resmi meluncurkan Extended Play (EP) ini pada 24 Juli 2026 di beragam jasa digital streaming platform.

Mengusung warna musik nan kental dengan pengaruh country, ballad, americana, hingga bluegrass, musisi nan memulai kariernya pada 2023 ini menghadirkan enam lagu nan saling bertautan.

Bagi Prass, Free as a Bird bukan sekadar kumpulan lagu biasa, melainkan sebuah jurnal audio nan mendokumentasikan perjalanan emosionalnya selama empat tahun terakhir.

Free as a Bird bukan tentang melupakan masa lalu, tetapi tentang berbaikan dengannya. Saya berambisi lagu-lagu ini bisa menjadi kawan bagi siapa pun nan sedang berjuang, dan mengingatkan bahwa setiap akhir selalu menyimpan kemungkinan untuk memulai sesuatu nan baru,” ungkap Prass dalam keterangan resminya.

Narasi Penyembuhan dan Kebebasan

Proses imajinatif EP ini bermulai dari saran seorang psikolog pada 2023 agar Prass melakukan journaling sebagai bagian dari pemulihan jiwa. Alih-alih menulis di buku, dia memilih musik sebagai media untuk merekam ketakutan, pertanyaan, dan pelajaran hidupnya. Melalui support hipnoterapi, dia belajar menerima diri dan melepaskan beban masa lalu, nan kemudian dia tuangkan ke dalam lirik-lirik lagu.

Sebagai konsentrasi utama, Prass memilih lagu Pada Akhirnya Kita kan Mati. Meski judulnya terkesan kelam, lagu ini justru membawa pesan optimis tentang pentingnya menghargai setiap momen berbareng orang terdekat selagi waktu tetap tersedia.

Berikut adalah urutan kronologis narasi dalam EP Free as a Bird:

Judul Lagu Makna / Narasi
What If... Pencarian makna hidup dan eksistensi.
Worthy Proses melepaskan keterikatan emosional.
Pada Akhirnya Kita kan Mati Ajakan untuk hidup sepenuhnya di masa kini.
Long Winding Road Penerimaan terhadap panjangnya perjalanan hidup.
Keep Fire in Your Soul Pengingat untuk terus menjaga harapan.
Free as a Bird Simbol berbaikan dengan masa lampau dan menemukan kebebasan.

Kolaborasi dan Semangat Independen

Sebagai solois independen, Prass mengakui adanya tantangan besar, terutama dari sisi finansial dan manajemen waktu antara pekerjaan penuh waktu dengan bermusik. Namun, dia menekankan bahwa support dari lingkaran pertemanan alias nan dia sebut "barudak" menjadi kunci utama terwujudnya EP ini.

Hilmi Adriansyah berkedudukan krusial sebagai produser nan mendampingi seluruh proses kreatif, mulai dari pengembangan demo hingga tahap mastering. Proses rekaman dilakukan secara organik di beragam lokasi, mulai dari studio ahli seperti Binaural Studio dan Ardan Studio, hingga bilik kos pribadi.

“Prass tanpa barudak mah nggak jadi itu album. Terutama peran Hilmi Adriansyah nan banyak membantu agar budget produksi nggak membengkak. Terlalu banyak nan support begini bikin berakhir nggak pernah jadi pilihan,” tambah Prass.

Rencana Showcase di Jepang

Pascaperilisan, Prass telah menyusun serangkaian agenda promosi, mulai dari konten storytelling hingga video live session. Menariknya, dia berencana menggelar showcase perdana di Kyoto, Jepang, pada 29 Juli 2026.

Dalam penampilannya nanti, Prass tetap bakal membawakan kebanyakan lagu dalam bahasa Indonesia. Ia meyakini bahwa bahasa ibu mempunyai kekuatan emosional nan bisa menjangkau pendengar lintas budaya, apalagi di kancah internasional. (Z-1)

Selengkapnya