Presiden Prabowo Subianto.(Antara)
PRESIDEN Prabowo Subianto mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap prestasi sepak bola Indonesia nan belum bisa menembus putaran final Piala Dunia. Hal tersebut disampaikan Presiden di hadapan sekitar 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8).
Prabowo menyoroti pertentangan antara jumlah masyarakat Indonesia nan sangat besar dengan pencapaian di kancah sepak bola internasional. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia dinilai semestinya mempunyai potensi nan jauh lebih besar.
"Contoh nan mini saja kita negara jumlah masyarakat keempat terbesar di dunia. Hampir 300 juta, 287 juta. Tapi saya sangat sedih terus terang saja masalah sepak bola saja kita tidak bisa Piala Dunia. Ini kebenaran nan tidak enak," ujar Prabowo.
Dalam arahannya, Kepala Negara secara unik membandingkan Indonesia dengan Cape Verde, sebuah negara kepulauan mini dengan populasi sekitar 500 ribu jiwa. Menurut Presiden, keberhasilan negara sekecil Cape Verde menembus arena paling bergengsi di bumi tersebut kudu menjadi bahan pembelajaran serius bagi Indonesia.
"Masa negara mini seperti Cape Verde masuk. Mungkin jumlah penduduknya dengan Kabupaten Sumedang mungkin lebih banyak Sumedang," tuturnya berseloroh namun serius.
Presiden menegaskan bahwa komparasi ini bukan bermaksud untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai rayuan untuk melakukan introspeksi nasional. Ia meminta pemangku kepentingan untuk mencari akar persoalan tanpa mencari "kambing hitam".
"Saya bilang jangan mengeluh, jangan mencari kambing hitam, lantaran itu tidak bakal membantu. Sekarang belajar gimana kenapa kok bisa negara itu masuk. Apa nan dilakukan? Pelatihnya dari mana? Guru-gurunya dari mana? Jadi kita cari penyebabnya apa. Baru kita kudu berani berbuat," tegasnya.
Sains, Teknologi, dan Evaluasi Realitas
Prabowo menekankan pentingnya membangun budaya nan berdasarkan kebenaran dan realitas dalam menghadapi beragam persoalan nasional, termasuk dalam bagian olahraga. Ia menilai keberanian untuk mengevaluasi kekurangan secara jujur adalah langkah awal menuju solusi nan efektif.
Lebih lanjut, Presiden mengaitkan kemajuan bangsa dengan penguasaan sains dan teknologi. Hal ini pula nan menjadi argumen dirinya mengumpulkan para periset BRIN untuk berkontribusi dalam penyelesaian masalah nasional melalui riset dan inovasi.
"Pembangunan suatu bangsa itu ditentukan oleh apakah bangsa itu bisa menguasai sains dan teknologi alias tidak. Jadi bangsa nan bisa menguasai sains dan teknologi, bangsa itu bakal maju dengan pesat," kata Presiden.
Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Kepala BRIN Arif Satria, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, serta jejeran menteri Kabinet Merah Putih lainnya. (Ant/I-1)
Konteks Timnas Saat Ini:
Pernyataan Presiden ini muncul di tengah perjuangan Timnas Indonesia di bawah didikan pembimbing John Herdman nan tengah mempersiapkan skuad untuk sasaran jangka panjang lolos ke Piala Dunia 2030, dengan Piala AFF 2026 sebagai salah satu batu loncatan bagi pemain liga domestik.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·