Protes Kebijakan FIFA, Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026

1 hari yang lalu 4
Protes Kebijakan FIFA, Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026 Presiden UEFA Aleksander Ceferin(AFP/JULIEN DE ROSA)

HUBUNGAN antara UEFA dan FIFA mencapai titik terendah baru setelah Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memutuskan untuk tidak menghadiri laga final Piala Dunia 2026 antara timnas Spanyol dan timnas Argentina di New Jersey. Langkah ini diambil sebagai corak protes keras terhadap serangkaian keputusan nan diambil oleh badan pengatur sepak bola bumi tersebut selama turnamen berlangsung.

Meskipun Ceferin sempat datang dalam pertandingan pembukaan di Mexico City antara tuan rumah Meksiko dan Afrika Selatan, dia memilih untuk memboikot partai puncak pada Senin (20/7) awal hari WIB.

Salah satu pemicu utama kemarahan UEFA adalah keputusan FIFA nan membebaskan striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, dari balasan suspensi setelah adanya intervensi dari Presiden AS, Donald Trump.

UEFA melontarkan kritik tajam terhadap keputusan tersebut, menyebutnya sebagai langkah nan "belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dimengerti, dan tidak dapat dibenarkan."

Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa integritas permainan sedang dipertaruhkan ketika kepastian patokan tidak lagi dijamin oleh para penjaganya.

Penolakan Terhadap Komersialisasi Berlebihan

Selain masalah disiplin pemain, Ceferin secara tegas menentang beragam perubahan nan didorong oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino. Salah satu nan paling mencolok adalah pengenalan intermezo half-time show ala Super Bowl nan melibatkan bintang dunia seperti Madonna, BTS, Shakira, dan Justin Bieber.

Pertunjukan tersebut menyebabkan lama rehat babak pertama membengkak dari 15 menit menjadi 27 menit 22 detik. UEFA telah memastikan bahwa format serupa tidak bakal diterapkan dalam kejuaraan Liga Champions maupun Piala Eropa (Euro).

Ketegangan semakin memuncak mengenai isu-isu berikut:

  • Format Turnamen: UEFA menolak keras wacana Piala Dunia dengan 64 tim nan mulai dibuka kemungkinannya oleh Infantino.
  • Harga Tiket: UEFA mengkritik mahalnya nilai tiket di Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, UEFA berencana membekukan nilai tiket Euro 2028, dengan suporter diklaim bisa membeli lima tiket pertandingan dengan nilai setara satu slot parkir di stadion Piala Dunia AS musim panas ini.
  • Solidaritas Wasit: Setelah wasit Omar Artan ditolak masuk ke AS, UEFA justru mengundangnya untuk memimpin laga Super Cup antara Paris St-Germain dan Aston Villa pada 12 Agustus mendatang.

Perbedaan Aturan VAR dan Disiplin

Perpecahan kedua lembaga ini juga merambah ke aspek teknis di lapangan. UEFA telah menginstruksikan petugas VAR mereka untuk tidak menerapkan protokol mistaken identity terhadap tindakan diving, berbeda dengan kebijakan FIFA nan menyebabkan Breel Embolo (Swiss) dikartu merah saat melawan Argentina.

UEFA juga menolak patokan baru FIFA nan memberikan kartu merah kepada pemain nan menutup mulut saat berkonfrontasi dengan lawan. Aturan ini merupakan buahpikiran Infantino untuk memberikan pengaruh jera, nan telah menyantap korban seperti Miguel Almiron (Paraguay) dan Piero Hincapie (Ekuador) selama turnamen.

Kasus penutupan mulut ini sempat mencuat saat Gianluca Prestianni (Benfica) terlibat kejadian dengan Vinicius Jr. Namun, UEFA lebih memilih pendekatan investigasi mendalam daripada kartu merah langsung, nan akhirnya menjatuhkan hukuman enam laga kepada Prestianni atas perilaku homofobik setelah penyelidikan tuntas. (bbc/Z-1)

Selengkapnya