Puluhan Ton Ikan Keramba di Muaro Jambi Mati Diduga akibat Pencemaran Sungai Batanghari

1 jam yang lalu 2
Puluhan Ton Ikan Keramba di Muaro Jambi Mati Diduga akibat Pencemaran Sungai Batanghari Puluhan ton ikan keramba di Jaluko, Muaro Jambi, meninggal massal.(Dok. Antara)

PULUHAN ton ikan milik petani keramba di lima desa wilayah Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi, ditemukan meninggal massal nan diduga kuat akibat pencemaran air Sungai Batanghari. Fenomena ini dilaporkan semakin parah dalam tiga bulan terakhir seiring menyusutnya debit air sungai akibat musim kemarau.

Musa Yusuf, salah satu petani keramba di Desa Sarang Burung, mengungkapkan bahwa tingkat kematian ikan mencapai 90 persen dari total bibit nan ditabur.

"Hanya sekitar 10 persen nan hidup, sisanya mati. Untuk satu petak keramba nan berisi 8.000 ikan, mungkin hanya 800 sampai 900 ekor nan bertahan," ujar Musa, dilannsir dari Antara. Minggu (9/8).

Menurut para petani, selain penurunan permukaan air, kematian ikan jenis mas (Cyprinus carpio) dan nila (Oreochromis niloticus) ini dipicu oleh limbah berbisa merkuri dari aktivitas tambang emas ilegal di bagian hulu. Wilayah terdampak meliputi Desa Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut, dan Pematang Jering nan merupakan pusat penghasil ikan air tawar di Jambi.

Anggota DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, menyoroti kondisi air baku nan kian memprihatinkan. Berdasarkan laporan PDAM, tingkat kekeruhan air (NTU) Sungai Batanghari melonjak hingga 1.400 NTU, nyaris empat kali lipat dari pemisah normal 250-300 NTU. Ia menilai kondisi ini adalah akumulasi dari tambang ilegal, limbah industri, sampah rumah tangga, dan abrasi.

“Ikan nan meninggal di keramba hanyalah indikasi di permukaan. Masalah sebenarnya adalah kerusakan ekosistem di hulu. Kami mendorong agar status Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) agar pemerintah pusat turun tangan,” tegas Ivan.

Senada dengan perihal tersebut, peneliti ikan Sumatra dari Universitas Jambi, Tedjo Sukmono, menyebut bahwa aktivitas tambang terlarangan telah menakut-nakuti biota perairan secara ekstrem. Data menunjukkan penurunan drastis keanekaragaman hayati; dari sekitar 300 jenis ikan pada periode 1986-1994, sekarang hanya tersisa sekitar 135 jenis berasas penelitian tahun 2023.

Kondisi ini memicu dorongan bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis lintas sektor. Para petani dan akademisi berambisi adanya aktivitas sosial dan rencana pengelolaan terintegrasi untuk menyelamatkan Sungai Batanghari dari kehancuran ekologis nan lebih dalam. (Ant/Z-10)

Selengkapnya