ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan stok pupuk bersubsidi di Jawa Timur aman, dengan kesiapan mencapai 142.711 ton. Seiring dengan itu, Pupuk Indonesia terus mengedukasi petani untuk menerapkan pemupukan berimbang sesuai rekomendasi Pemerintah guna meningkatkan produktivitas secara efisien dan mendukung pertanian berkelanjutan.
Regional CEO 3 Pupuk Indonesia Eko Suroso menyampaikan alokasi pupuk bersubsidi petani Jawa Timur tahun 2026 terbesar di Indonesia dengan total 2.038.387 ton. Kendati demikian, penggunaan pupuk kudu mengikuti dosis nan direkomendasikan Pemerintah agar manfaatnya optimal.
"Jawa Timur menjadi barometer pertanian di Indonesia, sekitar sepuluh tahun lalu, tetap ada petani di Jawa Timur menggunakan pupuk Urea sebanyak 1.000 kilogram (kg) per hektare (Ha). Ini rawan tidak hanya ongkosnya nan membengkak, tapi tanah juga bakal mengalami kerusakan," ujar Eko dalam keterangan resmi nan diterima Kamis (2/7/2026). Berdasarkan rekomendasi Pemerintah, pemupukan berimbang pada tanaman padi umumnya menggunakan pola 5:3:2 ialah 500 kg pupuk organik, 300 kg pupuk NPK dan 200 kg pupuk Urea untuk lahan seluas 1 Ha. Sementara untuk mendukung penerapan pemupukan presisi, Pupuk Indonesia juga sudah menyediakan mobil uji tanah, sehingga petani mendapatkan rekomendasi pemupukan berimbang alias presisi sesuai dengan kebutuhan tanaman. Layanan ini sekaligus corak edukasi dan pendampingan Pupuk Indonesia kepada petani guna mendukung pemerintah dalam tercapainya swasembada pangan nasional. Harapannya, petani tidak serta merta mengaplikasikan pupuk hanya berasas pengalaman, tapi sesuai kebutuhan tanaman. Dengan demikian alokasi pupuk bersubsidi nan ditetapkan Pemerintah dapat terserap sesuai kebutuhan. Adapun jutaan ton alokasi pupuk bersubsidi di Jawa Timur, terdiri dari Urea 1.005.145 ton, NPK Phonska 884.868 ton, NPK Kakao 225 ton, pupuk organik 114.309 ton, ZA 10.987 ton, SP-36 22.823 ton. Alokasi ini sekarang sudah terserap 56 persen, alias sekitar 1.146.561 ton. "Tingginya serapan ini tidak lepas dari kemudahan-kemudahan nan diberikan Pemerintah. Tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi mengalami transformasi pada selama dua tahun terakhir, mulai dari penyederhanaan izin hingga penurunan HET (Harga Eceran Tertinggi)," terang Eko. Sementara itu untuk menjaga serapan di Jawa Timur tetap optimal, Pupuk Indonesia menyediakan stok pupuk bersubsidi sebanyak 142.711 ton. Stok terbaru ini terdiri dari Urea 113.239 ton, NPK Phonska 21.026 ton, NPK Kakao 129 ton, pupuk organik 5.971 ton, ZA 1.540 ton, dan SP-36 806 ton. Stok ini di atas ketentuan minimum dan cukup untuk memenuhi kebutuhan petani selama tiga pekan ke depan. Selain memastikan kecukupan stok, Pupuk Indonesia juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur untuk memantau realisasi penyaluran di setiap daerah. Wilayah dengan tingkat serapan tinggi bakal menjadi prioritas realokasi agar pengedaran pupuk tetap merata dan kebutuhan petani dapat terpenuhi. "Saat ini Pupuk Indonesia juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Jawa Timur, untuk memandang wilayah mana nan serapannya tinggi, dan wilayah mana nan serapannya tidak maksimal. Ada beberapa wilayah nan bakal realokasi sebagai upaya untuk memastikan pasokan stok aman," kata Eko. Lebih lanjut, dia mengimbau petani agar menebus pupuk bersubsidi hanya melalui Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) alias gerai resmi. Imbauan ini krusial untuk menghindari beragam modus penipuan nan menawarkan pupuk bersubsidi melalui media sosial. "Banyak sekali tawaran di media sosial, menampilkan foto penyimpanan pupuk bersubsidi, dengan menawarkan penjualan nilai murah. Saya pastikan itu penipuan. Pupuk bersubsidi hanya bisa ditebus petani terdaftar di PPTS," kata Eko. Adapun petani terdaftar nan berkuasa mendapatkan pupuk bersubsidi kudu terdaftar dalam e-RDKK, menggarap maksimal lahan 2 Ha. Berikutnya, pupuk bersubsidi hanya diperuntukkan bagi 10 komoditas, ialah padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao, kopi, dan ubi kayu. Tahun 2026, Pemerintah juga mengalokasikan pupuk bersubsidi di sektor perikanan. Adapun komoditas perikanan nan mendapat pupuk bersubsidi antara lain untuk pembenihan ialah udang windu, vaname, bandeng, nila, mas, gurame, lele dan patin. Sementara untuk pembesaran ialah udang windu, vaname, bandeng, nila salin, dan lele. Seperti petani, pembudidaya ikan nan berkuasa mendapatkan pupuk bersubsidi kudu terdaftar dalam e-RPSP (Elektronik Rencana Penyediaan dan Penyaluran Subsidi Pupuk). Pembudidaya untuk pembesaran maksimal menggarap 2 Ha lahan, untuk pembenihan maksimal 0,75 Ha (air tawar) dan 0,5 Ha (air payau).

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·