Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah sorotan terhadap kondisi ekonomi nasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak tinggal tak bersuara menghadapi tekanan dunia maupun perlambatan aktivitas ekonomi.
Menurutnya, beragam parameter dipantau secara berkala agar kebijakan bisa segera dikeluarkan ketika muncul tanda-tanda pelemahan, termasuk menjaga likuiditas perbankan agar penyaluran angsuran tetap melangkah dan menopang daya beli masyarakat.
"Ramai di media sosial bahwa Indonesia menghadapi serangan syok ekonomi nan datang nyaris bersamaan. Likuiditas mengetat, asesmen MSCI memicu reaksi pasar, Fitch merevisi outlook ranking utang dari stabil menjadi negatif, dan nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan. Biasanya satu syok saja sudah cukup menguji ketahanan ekonomi. Kali ini kita menghadapi empat tekanan sekaligus. Namun ekonomi Indonesia tetap berdiri kokoh. Sistem finansial tetap stabil dan aktivitas ekonomi terus berjalan. Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan masa-masa krisis sebelumnya," katanya di GIIAS 2026, Selasa (4/8/2026).
Purbaya menjelaskan pemerintah merespons perlambatan nan sempat terlihat pada penjualan mobil, sepeda motor hingga semen dengan memperbesar support likuiditas ke sektor perbankan. Langkah tersebut dilakukan agar bank mempunyai ruang lebih besar menyalurkan angsuran sehingga aktivitas konsumsi dan investasi kembali meningkat.
"Ketika info turun seperti itu saya periksa duit nan digelontorkan ke perbankan tetap efektif alias tidak. nan sebelumnya Rp200 triliun saya pertahankan sampai akhir tahun dan saya tambah lagi Rp200 triliun dari biaya pemerintah nan ada di Bank Indonesia. Dua minggu lampau saya injek lagi duit ke sistem menjadi Rp400 triliun. Itu untuk memastikan sistem finansial bisa mendukung pertumbuhan ekonomi nan lebih cepat. Kalau tetap kurang kelak saya tambah lagi sampai jumlahnya cukup di perekonomian," ujar Purbaya.
Selain menjaga likuiditas, pemerintah juga berupaya memperbaiki suasana investasi agar Indonesia menjadi tujuan utama produsen global. Purbaya mengatakan halangan investasi bakal diselesaikan melalui satuan tugas unik sehingga persoalan nan dihadapi pelaku upaya bisa diputuskan lebih sigap tanpa proses birokrasi nan berlarut-larut.
"Kami sudah membentuk Debottlenecking Task Force untuk menghapus beragam halangan nan dihadapi pelaku usaha. Kalau ada hambatan investasi alias bisnis, laporkan langsung kepada kami. Pemerintah bukan hanya membikin aturan, tetapi mencari titik sumbat, mempertemukan semua pihak, lampau menetapkan solusi dan tenggat waktu nan jelas agar investasi bisa segera berjalan."
Pada sektor otomotif, pemerintah memastikan kebijakan kendaraan listrik tetap berlanjut. Menurut Purbaya, transisi menuju kendaraan rendah emisi bukan hanya untuk mendukung industri, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global. Ia juga membuka kesempatan pemberian insentif lebih besar bagi penanammodal nan membangun pedoman produksi di Indonesia.
"Banyak nan bertanya soal kesungguhan pemerintah mendorong kendaraan listrik. Kami bakal terus melanjutkan program itu. Dua alias tiga minggu lagi Presiden bakal meluncurkan stimulus baru untuk kendaraan listrik. Kami juga siap memberikan beragam insentif bagi penanammodal nan membangun akomodasi produksi di Indonesia, termasuk jika ada perusahaan nan mau memindahkan pedoman manufakturnya ke Indonesia," kata Purbaya.
Di hadapan pelaku industri otomotif, Purbaya juga membujuk bumi upaya ikut memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi. Menurutnya, permintaan domestik bakal semakin kuat andaikan likuiditas tetap terjaga, investasi meningkat, dan sektor swasta kembali menjadi mesin utama pertumbuhan berbareng shopping pemerintah.
"Saya percaya pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mendekati 6% pada paruh kedua tahun ini. Saya bakal mengeluarkan setiap kebijakan nan memungkinkan, baik dari sisi fiskal maupun bekerja sama dengan kebijakan moneter, agar ekonomi bergerak pada potensinya. Kalau mesin pemerintah dan sektor swasta sama-sama bekerja, pertumbuhan 6% bukan sesuatu nan susah dicapai," sebutnya.
(fys/haa)
[Gambas:Video CNBC]

51 menit yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·