Ilustrasi(Magnific)
WARNA pada kelopak kembang sering kali dianggap sekadar hiasan visual. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa corak warna kembang sebenarnya merupakan hasil dari penyesuaian perkembangan nan sangat mendalam demi memikat serangga penyerbuk, khususnya lebah. Bagi tanaman liar, perbedaan mini pada tampilan warna dapat menentukan keberhasilan reproduksi dan kelangsungan hidup gen mereka.
Tim intelektual dari John Innes Centre di Inggris, bekerja sama dengan para peneliti dari Austria, Tiongkok, dan Australia, mengungkap rahasia tersebut melalui studi terhadap populasi bunga snapdragon liar (Antirrhinum majus). Studi ini memanfaatkan laboratorium alam di Pegunungan Pirenia, ialah sebuah area hibrida sempit selebar satu kilometer tempat bertemunya dua varietas snapdragon alami.
Varietas pertama mempunyai kelopak kembang berwarna kuning nan dihiasi bintik magenta sebagai petunjuk visual letak nektar bagi lebah. Sebaliknya, varietas kedua menampilkan corak sebaliknya, ialah kelopak berwarna magenta dengan bintik kuning sebagai penanda titik masuk.
Perbedaan corak antarvarietas ini dikendalikan oleh hubungan tujuh gen utama nan bekerja layaknya "kuas cat genetik". Dari ketujuh gen tersebut, tiga gen mengontrol produksi dan penempatan pigmen magenta, sedangkan empat gen lainnya mengatur komponen warna kuning.
Di dalam area hibrida, pencampuran genetik menghasilkan beragam kombinasi warna perantara, seperti kembang berwarna jingga dan putih. Meskipun tampak unik bagi mata manusia, kembang hasil persilangan hibrida ini kurang menarik perhatian lebah. Karena lebah lebih memilih mendatangi varietas dengan pola warna asli, seleksi alam secara aktif menjaga agar area pencampuran genetik tersebut tetap sempit.
Melalui kajian genetik, para peneliti membuktikan gimana empat gen warna kuning bekerja sama membentuk nuansa molekuler. Pada varietas kembang magenta, nuansa warna kuning terbentuk secara curam sehingga menghasilkan bintik kuning nan tajam. Sementara pada varietas kembang kuning, gradasinya terbentuk secara landai, menghasilkan semburat warna kuning nan tersebar halus.
Efek dari satu gen perseorangan mungkin sangat tipis dan nyaris tak terlihat oleh mata manusia. Namun, mata lebah bisa mengenali perbedaan lembut tersebut. Hal ini memungkinkan seleksi alam bekerja secara presisi pada banyak gen sekaligus.
"Kami telah meneliti gimana pola warna nan memukau di alam terbentuk dan terdefinisi, gen-gen nan menciptakan pola tersebut, serta gimana kerja sama gen-gen tersebut terseleksi sepanjang waktu perkembangan demi memikat tarian dan kunjungan lebah," ujar Dr. Desmond Bradley, salah satu penulis utama studi tersebut.
"Secara bersama-sama, keempat gen ini bekerja untuk mengasah nuansa warna kuning secara presisi. Beberapa gen mempunyai pengaruh nan sangat halus, tetapi masing-masing berkontribusi pada pola nuansa nan dipantau oleh lebah. Bahkan pola nan nyaris tidak dapat kita bedakan sekalipun dapat dikenali oleh lebah di area hibrida tersebut," lanjut Dr. Bradley.
Temuan ini memberikan wawasan baru mengenai gimana seleksi alam membentuk dan menyempurnakan nuansa molekuler di alam demi mendukung keberhasilan proses penyerbukan. (Earth/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·