ARTICLE AD BOX
Irvan Sihombing Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)
FENOMENA ramal-meramal menjadi ramuan tersendiri selama gelaran pesta bola dunia. Turnamen itu terasa semakin bergairah lantaran penonton tidak hanya menikmati tindakan di lapangan, tetapi juga ikut larut dalam beragam ramalan nan bermunculan.
Dukun beken asal Gana, Nana Kwaku Bonsam, menyebut Cristiano Ronaldo dkk bakal angkat trofi Piala Dunia kali ini. Ekonom asal Jerman, Joachim Klement, nan sukses memprediksi juara pada jenis 2014, 2018, dan 2022, menyebut Belanda bakal mengalahkan Portugal di final 2026.
Yang satu ini apalagi bukan ramalan. Namun, jagat maya telanjur menganggapnya sebagai semacam 'kode alam'. Serial animasi The Simpsons diklaim warganet telah menahbiskan laga final Piala Dunia 2026 bakal mempertemukan Portugal dan Meksiko.
Namun, semua ramalan itu meleset. Tidak ada satu pun nan tepat. 'Selecao das Quinas' jangankan juara, ke final saja tidak mampu. Ronaldo, pemain nomor punggung 7, pulang kampung tepat tanggal 7 bulan 7, berbareng rekan-rekan setimnya.
Berbeda dengan Bonsam, Klement, alias klaim warganet tentang The Simpsons, saya justru sejak awal memprediksi Portugal tidak bakal memperkuat lama. Memang agak meleset sedikit, saya ramalkan Portugal terjungkal saat berjumpa Kroasia, tetapi rupanya baru terwujud ketika mereka berhadapan dengan Spanyol.
Prediksi saya itu sekilas terdengar mengada-ada. Di atas kertas, Portugal mempunyai lini tengah nan sangat mewah mulai Vitinha, Joao Neves, serta sang maestro Bruno Fernandes. Lini belakang mereka pun laksana tembok kukuh dengan kawalan Nuno Mendes, Goncalo Inacio, dan Ruben Dias.
Namun, penilaian tersebut bukan tanpa alasan. Menurut saya, pembimbing Roberto Martinez terlalu mendewakan Ronaldo. Itu terbukti di laga hidup-mati melawan Spanyol, striker 41 tahun itu tetap saja dimainkan, padahal kontribusinya jauh dari kata menggembirakan.
Tidak sedikit orang nan berpandangan sama dengan saya. Namun, Martinez berkelit soal ketergantungannya terhadap Ronaldo. Dalam konvensi pers seusai dipecundangi Spanyol, dia kukuh menilai CR7 tetap sangat segar secara bentuk untuk bermain selama 90 menit, bisa menciptakan ruang, dan beradaptasi dengan kebutuhan tim.
Klarifikasi Martinez sungguh di luar nalar. Fakta keras bahwa Ronaldo sudah tidak lagi kompetitif, jauh dari kata klinis dalam mengeksekusi peluang, serta condong egoistis di lapangan tetap saja dibantah. Heran!
Kritik tersebut mungkin terdengar keras. Namun, bukan berfaedah saya membenci Portugal, justru sebaliknya. Saya sudah memberikan perhatian kepada kesebelasan itu jauh sebelum mereka angkat trofi Euro 2016 berkah gol tunggal Eder ke gawang tuan rumah Prancis pada menit ke-109.
Bahkan gara-gara Helder Postiga dan rekan-rekan melaju ke semifinal Euro 2012, saya sampai rela memecah tabungan untuk membeli jersey Portugal. Jadi, bisa dibilang saya ini fans Portugal, tapi bukan nan berat, kategori nan ringan saja.
Sudahlah, mari kita tutup kitab soal Portugal dan biarkan mereka berbenah diri. Sekarang kembali ke soal ramal-meramal. Untuk meramaikan babak semifinal, saya menjagokan dua tim ini Prancis dan Argentina lolos ke babak pamungkas. Juaranya adalah Argentina. Vamos!








English (US) ·
Indonesian (ID) ·