Ilustrasi(Dok UII)
REKTOR Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Hari Purnomo mengungkapkan, banyak di kalangan perguruan tinggi nan lupa bahwa tujuan utama mendidik adalah memintarkan mahasiswa. Namun nan terjadi selama ini adalah lebih banyak memintarkan pengajar dengan beragam aktivitas kampus.
Akibatnya, ujarnya, dalam legalisasi nan kemudian banyak nan diarahkan untuk para pengajar dan melupakan gimana mahasiswanya. "Padahal nan semestinya dipikirkan dan dikerjakan adalah gimana kualitas lulusan alias luaran perguruan tinggi," katanya.
Di depan peserta National Gathering Career Developmnent Center beragam perguruan tinggi Islam se Indonesia di kampus UII Jalan Kaliurang, Yogyakarta, hari Senin, Rektor UII itu menegaskan salah satu parameter perguruan tinggi nan dahsyat adalah jika sukses meluluskan mahasiswanya dengan waktu nan tepat sesuai dengan lama belajar nan semestinya dan lulusan tersebut mempunyai masa tunggu nol tahun dari waktu lulus hingga mendapat pekerjaan. "Akan menjadi bagus jika lulus tepat waktu dan apalagi sebelum lulus sudah mendapat pekerjaan," kata Rektor.
Di sisi lain, Rektor juga mempertanyakan dalam masa sekarang ini banyak lulusan perguruan tinggi nan menyandang predikat cum laude. nan patut dipertanyakan kemudian adalah apakah dengan predikat tersebut lulusan ini mempunyai kompetensi dan keahlian nan sesuai dengan keilmuannya.
Ia kemudian mengingatkan adanya watak generasi z alias Gen Zyang patut mendapat perhatian serius di kalangan pendidik. Gen Z dengan beragam keunggulannya, namun mereka juga mempunyai kekurangan nan patut diperhatikan.
Menurut Rektor mereka nan masuk golongan Gen Z ini tidak tahan banting terutama saat menghadapi tekanan tinggi. Selain itu, ujarnya, banyak ditemukan kalangan ini nan belum mempunyai etika nan betul dan etika kerja nan rendah. Meski mempunyai banyak kelebihan.
"Mereka bisa berinovasi tinggi di tengah perkembangan AI, sehingga banyak pekerjaan nan dapat mereka selesaikan dalam hitungan menit," ujarnya.
Hal ini pula nan kemudian menyebabkan bidang informatika mulai berkurang peminatnya.
Namun di kembali itu, lanjutnya Gen Z lemah di keilmuan. Karena itu, ujarnya pada masa studi awal, kalangan Gen Z ini juga kudu mendapat pendidikan nan kuat mengenai dengan ilmu-ilmu dasar dan etika. Prof. Hari kemudian menyarankan agar pada masa-masa awal ini perguruan tinggi lebih banyak menerjunkan dosen-dosen senior nan telah mempunyai kematangan keilmuan dan makulat keilmuannya untuk mendidik mereka. "Jangan dosen-dosen muda," katanya.
Pembentukan karakter, katanya sangat perlu sehingga penguatan pendidikan terhadap mahasiswa sangat diharapkan. Rektor juga membujuk kalangan perguruan tinggi mencermati pada akhir-akhir ini fakultas alias bidang nan mempunyai dasar keilmuan matematika, fisika dan kimia mulai kurang diminati. Kondisi semacam ini, ujarnya, cukup memprihatinkan, lantaran bakal berakibat serius bagi masa depan Indonesia.
"Banyak engineer dari luar negeri nan masuk, lantaran lulusan dari Indonesia sendiri semakin berkurang. Ini lantaran fakultas alias bidang nan berbasis eksakta mulai tidak diminati," katanya.(H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·