ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan ekonomi Indonesia dan Belarusia memasuki babak baru. Dalam Indonesia-Belarus Business Forum and Business Matching di Jakarta, sebanyak 17 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU) diteken oleh pelaku upaya dari kedua negara sebagai langkah memperkuat kerja sama perdagangan, investasi, hingga transfer teknologi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan forum tersebut menjadi tindak lanjut dari Komisi Bersama Kerja Sama Ekonomi Bilateral nan digelar pada Mei lampau di Belarusia. "Mari kita melangkah maju untuk mengimplementasikan nota kesepahaman (MOU) nan telah ditandatangani," ujar Airlangga di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026).
Airlangga mengungkapkan nilai perdagangan Indonesia-Belarusia saat ini mencapai sekitar US$220 juta alias sekitar Rp3,94 triliun (kurs Rp17.899/US$). Menurutnya, nomor tersebut terus meningkat seiring proses penyelesaian perjanjian jual beli Indonesia-Eurasian Economic Union (EAEU).
Pemerintah berambisi ratifikasi perjanjian tersebut segera rampung. Sehingga lebih dari 90% produk Indonesia dapat menikmati akomodasi bea masuk nol persen ke pasar EAEU, termasuk Belarusia.
"Kami berambisi penandatanganan EAEU ini segera diratifikasi. Presiden telah menyiapkan surat ke DPR. Dengan demikian, lebih dari 90% produk Indonesia dapat masuk ke pasar EAEU dengan bea masuk nol persen, begitu pula sebaliknya," kata Airlangga.
Ia menilai struktur ekonomi kedua negara saling melengkapi. Belarusia mempunyai kelebihan pada industri rekayasa (engineering), perangkat berat, serta pupuk kalium (potas), sementara Indonesia tengah mempercepat hilirisasi industri, termasuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Pemerintah pun mendorong kerjasama elektrifikasi perangkat berat pertambangan Belarusia menggunakan baterai berbasis nikel dari Indonesia, sekaligus membuka kesempatan pengembangan bus listrik untuk pasar domestik.
Selain itu, Indonesia juga membuka kesempatan kerja sama di sektor ketahanan pangan. Airlangga mengungkapkan PT Pupuk Indonesia tengah melakukan uji tuntas alias due diligence mengenai potensi partisipasi dalam pengembangan tambang potas di Belarusia untuk memperkuat pasokan bahan baku pupuk nasional.
Dalam kesempatan nan sama, Deputi Perdana Menteri (PM) Belarusia Viktor Karankievich mengatakan negaranya mau memperluas kerja sama tidak hanya di sektor industri dan pertanian, tetapi juga kesehatan, pendidikan, serta pertukaran budaya. "Kami telah menandatangani sejumlah arsip nan bakal memberikan dorongan bagi penguatan ikatan ekonomi bilateral," ujarnya.
Belarusia juga mau meningkatkan impor produk Indonesia, mulai dari karet, produk farmasi, makanan laut, kakao, hingga kopi. Negara sekutu dekat Rusia di Eropa itu menilai kualitas produk Indonesia sangat baik.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia) James T. Riady menilai kerja sama ini sejalan dengan pengarahan Presiden Prabowo Subianto untuk membuka pasar-pasar baru bagi Indonesia. Menurutnya, Belarusia mempunyai kelebihan teknologi dan manufaktur nan dapat dipadukan dengan potensi pasar serta sumber daya Indonesia.
Ia apalagi mendorong perusahaan Belarusia tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar ekspor. Tetapi juga membangun pabrik, melakukan transfer teknologi, dan berkolaborasi dengan perusahaan lokal.
Di sisi lain, pemerintah pun memasang sasaran ambisius dari penguatan hubungan ekonomi tersebut. Airlangga mengatakan nilai investasi hasil kerja sama Indonesia-Belarusia diharapkan dapat mencapai US$500 juta alias sekitar Rp8,95 triliun dalam waktu dekat, seiring penerapan 17 nota kesepahaman (MOU) dan percepatan ratifikasi perjanjian jual beli Indonesia-EAEU.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·